Geger Buleleng! Puluhan Ular Piton Raksasa Teror Warga di Danau Buyan, Benarkah karena Pelepasan BKSDA?
I Putu Suyatra• Senin, 7 Juli 2025 | 00:33 WIB
BIKIN HEBOH: Ular piton yang ditemukan warga di sekitar Danau Buyan. Keberadaan ular itu membuat warga resah. (Radar Buleleng)
BALIEXPRESS.ID – Warga Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, dibuat merinding dan resah! Dalam dua minggu terakhir, puluhan ular piton berukuran besar tiba-tiba bermunculan di ladang, tepi danau, hingga masuk ke jaring nelayan di sekitar Danau Buyan.
Total sudah 28 ekor piton ditemukan, sebagian hidup, sebagian lagi mati.
Kemunculan massal predator melata ini sontak memicu ketakutan dan pertanyaan besar: dari mana asal ular-ular raksasa ini?
Misteri di Balik Kemunculan Massal: Dulu Disayang, Kini Meneror
Fenomena tak biasa ini pertama kali disadari Made Suartana, warga setempat, saat gotong royong di sekitar danau.
"Sudah hampir dua minggu ini ular-ular besar mulai bermunculan. Total yang kami lihat sekitar 28 ekor. Ada 12 ekor masih hidup, yang lainnya sudah mati. Tadi malam saya melihat dua ekor lagi," ungkapnya pada Minggu (6/7/2025).
Suartana menduga, ular-ular piton dengan panjang hampir dua meter dan diameter sebesar tiang telepon ini berasal dari kawasan bukit sekitar 1,5 kilometer dari pinggir danau.
Yang lebih mencemaskan, beberapa ular dilaporkan sudah memangsa hewan peliharaan seperti kucing, serta mengganggu aktivitas nelayan.
"Kami yang tinggal di pinggiran danau sekarang jadi khawatir. Banyak warga yang takut keluar malam atau memancing karena takut bertemu ular," imbuhnya.
Kecurigaan terbesar warga mengarah pada aksi pelepasliaran yang diduga dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) tanpa koordinasi.
Warga mendesak BKSDA segera memberikan penjelasan dan memperbaiki komunikasi jika memang ada pelepasliaran satwa di dekat pemukiman.
Perbekel Kaget, BKSDA Membantah Keras!
Perbekel Desa Pancasari, I Wayan Komiarsa, membenarkan laporan temuan ular piton raksasa ini.
Menurutnya, peristiwa ini adalah yang pertama kali terjadi dalam sejarah desa.
"Seumur-umur di sini belum pernah ada ular piton sebesar itu. Bisa jadi ini hasil pelepasan dari pihak tertentu, entah dari hutan, atau dari penangkaran," jelas Komiarsa.
Meski demikian, Komiarsa menambahkan bahwa ular-ular tersebut masih terbatas di sekitar hutan dan tepi danau, belum ada laporan masuk ke pemukiman warga. Namun, jika situasi memburuk, pihak desa siap bertindak.
"Kalau nanti sampai masuk ke rumah warga dan bikin resah, kami pasti akan berkoordinasi langsung dengan BKSDA," tegasnya.
Di sisi lain, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Bali, Sumarsono, membantah tudingan pelepasliaran.
Ia mengklaim ular-ular yang muncul di sekitar Danau Buyan merupakan hewan endemik di kawasan itu dan BKSDA tidak pernah melakukan upaya pelepasliaran ular piton di sana.
"Kami kalau melepas satwa itu di cagar alam, tepatnya di Batukaru, di Kawasan hutan desa Tabanan. Itu perbatasan dengan hutan lindung langsung tidak berbatasan dengan kebun warga," ujar Sumarsono.
Ia juga menegaskan bahwa BKSDA sangat mempertimbangkan lokasi pelepasliaran, tidak mungkin melepas di kawasan padat penduduk dan ramai pengunjung seperti Danau Buyan.
Sumarsono menduga kemunculan ular ke area publik karena habitat mereka yang terdesak oleh perluasan perkebunan, serta berkurangnya predator alami mereka seperti elang.
Menyusul keresahan ini, BKSDA menyatakan akan segera melakukan penelusuran dan klarifikasi untuk mengidentifikasi satwa-satwa tersebut. ***