Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

47 Ton Bantuan Benih Padi dan Jagung Diberikan, Petani Buleleng Berharap Percepatan Perbaikan Saluran Air

Dian Suryantini • Kamis, 10 Juli 2025 | 22:49 WIB

Bantuan benih padi dan jagung yang diberikan kepada petani di Kabupaten Buleleng.
Bantuan benih padi dan jagung yang diberikan kepada petani di Kabupaten Buleleng.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS –Sebanyak 47 ton bantuan benih padi dan jagung diserahkan langsung oleh Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, bersama Wakil Bupati Gede Supriatna, kepada kelompok-kelompok tani (poktan) dan subak dari tujuh kecamatan di Buleleng.

Bantuan ini ditujukan untuk masa tanam kedua tahun ini (IP2/Indeks Pertanaman 2). Setiap hektar lahan pertanian akan mendapatkan 20 kilogram benih.

Bupati Sutjidra menyampaikan bahwa bantuan benih ini merupakan bagian dari upaya nyata pemerintah daerah untuk mewujudkan kemandirian pangan. Menurutnya, kerja sama dengan berbagai pihak sangat penting dalam memperkuat sektor pertanian, termasuk dengan Polres Buleleng yang turut aktif menanam jagung sebagai bagian dari program ketahanan pangan.

“Kami gencar sosialisasikan produk lokal seperti nasi jagung dari Buleleng. Ini adalah alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. Nasi jagung bisa menjadi solusi dalam menghadapi tingginya permintaan beras,” ujar Sutjidra, Kamis (10/7).

Salah satu produk unggulan yang kini dikembangkan adalah jagung varietas Goak Poleng, jagung hibrida khas Buleleng yang sudah mulai diperkenalkan luas. Sutjidra optimis bahwa inovasi seperti ini bisa memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Sutjidra juga mengingatkan pentingnya menjaga lahan pertanian dari ancaman alih fungsi. Ia menekankan bahwa kebutuhan pangan akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk, sehingga keberadaan sawah dan lahan pertanian perlu dijaga agar produksi pangan lokal tetap berjalan optimal.

“Kita harus bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dari tanah kita sendiri. Jangan sampai lahan pertanian berubah jadi bangunan atau yang lain. Ini tugas kita bersama,” tegasnya.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, target produksi pertanian di Buleleng sejauh ini berjalan sesuai harapan. Pada musim tanam pertama tahun ini (IP1), gabah dari sekitar 9.000 hektar lahan telah dipanen, dan sebanyak 57 ton di antaranya sudah diserap oleh Bulog.

Luas baku sawah di Buleleng masih tergolong aman, meskipun ada beberapa kasus alih fungsi lahan. Namun secara umum, Buleleng masih menjadi daerah dengan produktivitas pertanian yang cukup tinggi di Bali.

Di sisi lain, dukungan pemerintah terhadap ketahanan pangan disambut antusias oleh para petani di wilayah Kecamatan Sawan, khususnya di Desa Bungkulan. Klian Subak Yangai, Desa Bungkulan, Nyoman Sukradi, menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya atas bantuan benih padi yang disalurkan oleh pemerintah.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah, karena bantuan benih padi ini sangat mendukung upaya kami untuk meningkatkan swasembada dan ketahanan pangan,” ungkap Sukradi.

Bantuan yang diterima berupa benih padi sebanyak 20 kilogram per hektar. Distribusinya disesuaikan dengan luas lahan subak masing-masing. Di Desa Bungkulan sendiri, terdapat sejumlah subak aktif yang masih mempertahankan fungsi lahan pertaniannya. Di antaranya Subak Guliang seluas 80 hektar, Subak Yangai 50 hektar, Subak Ungakan 60 hektar, Subak Dalem 60 hektar, Subak Leba 50 hektar, dan Subak Lembu 50 hektar.

“Jadi bantuan yang diterima masing-masing subak berbeda, tergantung pada luas lahan mereka,” jelas Sukradi.

Meskipun bantuan ini sangat membantu, para petani di wilayah ini masih menghadapi kendala klasik, yakni kondisi saluran irigasi yang kurang optimal. Di kawasan DI Bulian, khususnya wilayah Bungkulan yang menaungi enam hingga tujuh subak (empat di Kubutambahan dan tiga di Bungkulan), terdapat masalah pada terowongan saluran air yang mulai tersumbat.

“Air sebenarnya ada, tapi karena terowongannya mampet, alirannya jadi tidak lancar. Dulu waktu masih normal, airnya bisa mengalir deras di musim-musim seperti sekarang. Tapi sekarang agak kecil karena tersendat,” terang Sukradi.

Ia pun berharap pemerintah dapat segera turun tangan untuk mempercepat perbaikan saluran irigasi tersebut, mengingat para petani di Bungkulan akan memasuki musim tanam pada bulan September.

“Harapan kami, semoga perbaikan saluran air bisa dipercepat. Karena September nanti kami sudah mulai menanam padi lagi,” ujarnya penuh harap.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan alih fungsi lahan yang marak di sejumlah daerah, Desa Bungkulan justru menunjukkan keteguhan mempertahankan fungsi lahan pertaniannya. Sukradi menegaskan bahwa tidak ada alih fungsi lahan di wilayahnya, dan para petani tetap berkomitmen pada sektor pertanian.

“Tidak ada alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan atau lainnya. Kami tetap bertahan,” tegasnya. ***

Prestasi Stikes Banyuwangi.
Prestasi Stikes Banyuwangi.
Editor : Dian Suryantini
#Bungkulan #Benih #padi #petani #Supriatna #poktan #jagung #Sutjidra #buleleng