BALIEXPRESS.ID – Sebuah fakta mengejutkan mengemuka terkait produksi permen sajen yang kerap digunakan masyarakat Bali sebagai persembahan dalam berbagai upacara keagamaan.
Permen-permen tersebut ternyata dibuat dari permen rijek, yakni permen tak layak edar, yang diolah ulang oleh sebuah usaha rumahan di Desa Purwosari, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Baca Juga: Warga Bali Minta Stop Haturkan Permen, Usai Terungkap Diproduksi dari Bahan Rijek
Kabar ini sontak membuat masyarakat Bali tercengang. Apalagi permen tersebut selama ini dipercayai sebagai bagian dari banten (persembahan) kepada Ida Bhatara, yang seharusnya menggunakan bahan-bahan yang sukla (suci dan layak).
Kekecewaan juga datang dari anggota DPD RI asal Bali, Niluh Djelantik, yang secara tegas menyuarakan kemarahannya melalui media sosial.
"Mimih ratu, permen rijek aturang ke Ida Bhatara. Stop mendatangkan permen tersebut. Kalau produsennya marah, minta saja dia yang makan," tegas Niluh dalam unggahan resminya dikutip pada Kamis (24/07/2025).
Ia pun mengajak seluruh masyarakat Bali untuk bersatu dan beralih ke bahan persembahan yang lebih layak dan bernilai.
Baca Juga: Ketua DPRD Buleleng Dukung Pemanfaatan Potensi Hidrokarbon Laut untuk Dongkrak Perekonomian Daerah
"Semeton Bali sudah saatnya bersatu. Mari kita mebanten dengan rarapan layak konsumsi. Lungsuran dadi tunas. Berdayakan masyarakat sekitar," lanjutnya.
Seruan serupa juga datang dari akun Instagram @sengkublackdog yang mengunggah ajakan untuk berhenti menggunakan permen sebagai sajen, apalagi jika dikemas dalam plastik dan tidak layak konsumsi.
"Ne beritane, permen keto aturine Ida Bhatara, kesbyab Ida Bhatara," tulisnya, disertai ajakan, "Yuk mebanten dengan larapan layak konsumsi".
Diketahui, permen sajen tersebut diproduksi oleh Anwar Mustofa, warga Kebumen yang sejak Mei 2025 menjalankan usaha pengemasan dan distribusi permen sajen melalui CV Bina Usaha Bersama.
Produk yang diberi label "Mahar Dewa Agung – Permen Sajen Banten" ini diklaim memang dibuat khusus untuk kebutuhan ritual, bukan untuk dikonsumsi.
"Permennya memang dibuat khusus untuk sajen, bukan untuk dimakan. Sekali kirim bisa sampai 7 ton," ujar Anwar, dikutip dari Kebumen24.com, Kamis (24/07/2025).
Meski demikian, banyak pihak menilai bahwa penggunaan bahan yang tidak layak tetap tidak dapat dibenarkan, mengingat persembahan dalam ajaran Hindu seharusnya menggunakan bahan bersih, suci, dan tidak tercemar.
Gelombang protes dari masyarakat Bali semakin meluas, disertai seruan untuk menghentikan penggunaan permen rijek sebagai persembahan, serta kembali ke nilai-nilai kesucian dalam beragama.
Editor : Wiwin Meliana