BALIEXPRESS.ID-Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2025/2026 untuk jenjang sekolah dasar di Buleleng masih menyisakan persoalan.
Salah satunya, terkait sekolah yang tidak mendapatkan siswa.
Baca Juga: Penyidik Sita Ijazah SMA dan S1 Jokowi, Siap Dibawa Kepersidangan
Misalnya SDN 4 Sambirenteng Kecamatan Tejakula yang tahun ini tidak mendapatkan siswa baru.
Saat ini di SDN 4 Sambirenteng hanya tersisa 32 orang siswa. Terdiri dari 3 orang siswa kelas 2; 3 orang siswa kelas 3; 9 orang siswa kelas 4; 8 orang siswa kelas 5; dan 9 orang siswa kelas 6.
Hal ini lantaran lulusan PAUD Desa Sambirenteng memilih melamar ke SDN 3 Sambirenteng yang persis bersebelahan dengan SDN 4 Sambirenteng.
“Tidak dapat siswa sama sekali,” ungkap Made Suasmini Plt Kepala SDN 4 Sambirenteng.
Baca Juga: Heboh! Pria Bertato Diduga Curi Tabung Gas Elpiji dan Telur di Gianyar, Ditangkap Warga
Persoalan tersebut pun menjadi perhatian anggota dewan DPRD Kabupaten Buleleng, Dewa Komang Yudi.
Melalui unggahan di media sosialnya, Dewa Komang Yudi menunjukkan kondisi miris sekolah yang sebagian besar mengalami kerusakan.
Dalam video singkatnya, Dewa Komang Yudi memaparkan sejumlah permasalahan yang mengemuka.
Pertama persoalan sarpras, mengingat ada plafon ruang kelas dan atap perpustakaan yang jebol.
Kedua terkait tata kelola dan SDM pendidik karena siswa di kelas 5 dan 6 masih belajar membaca, sehingga patut diduga ada masalah sistemik di sekolah dalam hal tata kelola SDM.
“Kondisi gedung yang tidak layak, sarana prasarana yang tidak memadai, lingkungan sekolah yang kurang tertata hingga masalah etik guru adalah beberapa hal yang menjadi pemicunya,” jelasnya dikutip pada Kamis (24/07/2025).
Baca Juga: Disparbud Bangli Bakal Benahi Fasilitas Anjungan Penelokan Kintamani, Toilet Jadi Perhatian
Pihaknya mendesak pemerintah Kabupaten Buleleng agar mengambil langkah untuk melakukan perbaikan kelembagaan internal sekolah baik manajemen dan etik guru.
“Berikutnya benerin sarana dan prasarananya, kalau toh yang menjadi persoalan adalah kemampuan keuangan daerah, daripada melakukan re-grouping yang justru berdampak kepada tidak tertampunya Sebagian guru dan tenaga honorer eksiting di sekolah ini lebih baik mengusulkan peralihan status sekolah,” ungkapnya.
Peralihan sekolah regular menjadi sekolah widyalaya menjadi salah satu opsi agar sekolah ini dilirik oleh masyarakat.
Dewa Komang Yudi mengungkap bahwa sekolah Widyalaya memiliki beberapa keunggulan Pendidikan karakter.
Hal ini dikarenakan kurikulum pendidikannya dilandasi nilai-nilai agama Hindu, adat tradisi dan kearifan lokal.
Baca Juga: VIRAL! Permen Sajen Dibuat dari Bahan Rijek, Ini Seruan Niluh Djelantik
Selain itu pendanaanya juga bersumber dari APBN sehingga tidak akan membebani keuangan daerah.
“Nah peralihan menjadi widyalaya menjadikan ruang untuk melakukan inovasi dan rebranding sehingga ke depan. Sekolah ini dimungkinkan untuk muncul dengan wajah dan kualitas baru yang memiliki kekhasan sekaligus keunggulan kulturan,” pungkasnya.
Editor : Wiwin Meliana