SINGARAJA, BALI EXPRESS —Aroma dupa dan anyaman janur bertemu dalam satu ruang sakral. Tradisi Megebeg-Gebegan. Tradisi tolak bala yang diwariskan turun-temurun di Desa Tukad Mungga ini bukan sekadar ritual. Tradisi ini adalah napas komunitas, simbol kebersamaan, dan kini, menjadi panggung baru bagi perempuan untuk bersuara. Sebuah transformasi budaya sedang berlangsung, dan perempuan berdiri di garis terdepan.
Tradisi Megebeg-gebegan yang biasanya dilakukan sehari sebelum Nyepi di Desa Tukadmungga menjadi salah satu bahan penelitian oleh Prof. Dr. Ni Made ruastiti, S.St., M.Si. Ia adalah salah satu Guru Besar Bidang Seni Pertunjukan Pariwisata, ISI Bali. Namun fokus penelitiannya jatuh pada pemberdayaan perempuan dibalik terselenggaranya tradisi yang dilakukan setiap tahunnya.
Selain dituangkan dalam bentuk jurnal penelitian, output dari penelitiannya berupa prototype pertunjukan seni. Pertunjukan seni itu pun telah dipentaskan untuk pertama kalinya di Desa Tukadmungga, asal tradisi tersebut dilahirkan. Pertunjukan itu melibatkan 250 orang anak-anak dan remaja, bekerjasama dengan Sanggar Seni Wahyu Semara Shanti.
Megebeg-Gebegan, ritual persembahan caru godel (anak sapi), yang sejak dahulu dikenal sebagai upacara tolak bala dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Prosesi penataan sesajen, caru, hingga aksi kolektif perebutan daging godel adalah rangkaian sakral yang tak hanya bertujuan spiritual, tapi juga mempererat kohesi sosial. Namun, kini tradisi ini tengah mengalami pergeseran bentuk — dari ritus sakral menjadi teater wisata berbasis komunitas.
Yang menarik, transformasi ini tidak mengurangi nilai sakralitasnya. Justru sebaliknya, diperkuat oleh peran aktif kaum perempuan yang bukan hanya menghidupkan tradisi, tetapi juga merekonstruksi narasinya menjadi lebih komunikatif, inklusif, dan adaptif terhadap zaman. Narasi tersebut tercatat dalam penelitiannya yang berjudul Pemberdayaan Perempuan Melalui Revitalisasi Tradisi Megebeg-Gebegan Sebagai Teater Wisata Budaya di Bali Utara.
Dalam catatan sejarah budaya Bali, perempuan kerap hadir sebagai pelaku ritual domestik — merangkai banten, menata sesajen, dan menjaga keharmonisan keluarga. Namun dalam konteks revitalisasi Megebeg-Gebegan, posisi itu bergeser secara signifikan. Perempuan kini menjadi kreator, penata artistik, penyusun narasi, bahkan pemimpin produksi seni pertunjukan.
“Sejak dulu, sesungguhnya adat, tradisi, dan budaya Bali ini disangga oleh perempuan. Namun sampai detik ini, perempuan belum pernah benar-benar mendapatkan pengakuan yang layak. Padahal di balik layar, merekalah yang mengerjakan hampir semuanya—mulai dari menyiapkan banten, hingga seluruh proses rangkaian upacara selesai,” ungkap Prof. Dr. Ni Made ruastiti, S.St., M.Si.
Baca Juga: Singaraja Literary Festival 2025: Menghidupkan Pengetahuan di Masa Lalu dalam Napas Baru
Transformasi ini tak lepas dari pendekatan partisipatoris yang diterapkan dalam proyek pengembangan teater wisata. Alih-alih memaksakan bentuk pertunjukan dari luar, model ini membangun dari dalam — melalui identifikasi nilai lokal, wawancara tokoh adat, hingga penggalian makna simbolik yang hidup dalam keseharian warga.
Mengacu pada teori Ritual Performance Victor Turner (1982), Megebeg-Gebegan merupakan bentuk “drama sosial” yang menghadirkan komunitas — momen pencairan batas-batas sosial. Dalam prosesi perebutan daging godel, tak ada status, usia, atau gender. Semua menjadi satu dalam simbol perlawanan terhadap marabahaya.
Namun, kini perempuan tidak sekadar menjadi bagian dari ritual. Mereka menjadi penggagas ritus baru yang bersumber dari nilai lama. Mereka tidak lagi berdiri di belakang, tetapi memimpin di depan — merancang dramaturgi pertunjukan, menyusun narasi edukatif, hingga mengarahkan koreografi.
Proses transformasi Megebeg-Gebegan menjadi teater wisata dilakukan secara sistematik. Dimulai dari studi pustaka dan wawancara tokoh adat, kemudian dilanjutkan dengan perancangan dramaturgi, penulisan narasi edukatif, koreografi, musik, hingga desain artistik.
Dalam tahap produksi, perempuan mendominasi hampir seluruh lini kerja. Mereka menjadi koreografer yang merancang gerak tradisional dengan aksen dramatik; menjadi musisi yang menggabungkan instrumen tradisional Bali Utara dengan teknologi audio modern; dan menjadi penata busana yang merancang simbolisme sakral melalui warna dan material alami.
“Setiap janur yang dipilih, setiap warna kain, bahkan bentuk gebegan itu, ada maknanya. Dan perempuan yang paling paham simbol-simbol itu karena mereka memiliki peran dominan dalam menyiapkan upakaranya,” kata Prof. Ruastiti.
Melalui lensa etnoestetika (Zemp, 1979), nilai visual dan simbolik dalam pertunjukan tidak lepas dari sentuhan perempuan. Mereka tidak sekadar mempercantik, tapi mengonstruksi makna. Tombak dan janur bukan sekadar properti, tapi penanda spiritual. Warna-warni gebegan bukan dekorasi, tapi simbol kosmologi yang menyatukan alam sekala dan niskala.
Perempuan menghidupkan kembali narasi-narasi lama yang nyaris terlupakan — tentang Ibu Pertiwi, kesuburan, pelindung desa, dan kekuatan spiritual yang terwujud dalam bentuk ritual. Melalui pertunjukan, nilai-nilai itu dikemas menjadi pengalaman budaya yang dapat dikomunikasikan dengan wisatawan tanpa kehilangan otentisitasnya.
Penting dicatat, revitalisasi ini tidak hanya menjangkau perempuan dewasa. Anak-anak perempuan pun dilibatkan sebagai pembawa canang, penyanyi kidung, bahkan penari pendukung. Mereka tidak hanya tampil, tetapi belajar — tentang filosofi desa mereka, tentang nilai harmoni, dan tentang pentingnya menjaga warisan budaya.
“Dengan begitu, ini bisa dibilang sebagai sebuah bentuk wisata tradisi yang dikemas dalam pertunjukan seni. Jadi bukan dolanan, karena muara tradisi ini tetap religius. Itu yang ingin kami tonjolkan—spiritualitas, nilai-nilai sakral, tapi disampaikan dalam bentuk yang bisa dinikmati oleh masyarakat dan pengunjung,” terangnya.
Aspek dokumentasi dan promosi menjadi bagian tak terpisahkan dari transformasi ini. Perempuan terlibat dalam pembuatan video dokumenter, pengelolaan media sosial, hingga penyusunan materi digital promosi wisata budaya. Dengan begitu, pertunjukan tidak hanya menjadi agenda tahunan desa, tapi bagian dari strategi pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan.
“Perempuan akan dilibatkan dalam berbagai aspek—dari produksi, kehumasan (public relations), hingga distribusi produk. Intinya, kami ingin semua lini dipimpin oleh perempuan. Selain itu, seluruh proses ini akan dikembangkan dalam format digital,” ujarnya.
Sebagaimana diungkap oleh Judith Butler dalam teori agensi gender (1990), tubuh perempuan dapat menjadi ruang produksi makna dan simbol kuasa. Dalam Megebeg-Gebegan, hal ini tampak nyata. Perempuan tidak lagi menjadi objek ritual, tetapi subjek budaya yang aktif mengartikulasikan nilai melalui tubuh, suara, dan estetika.
Dari penata artistik, sutradara, koreografer, hingga pelatih komunitas — perempuan Desa Tukad Mungga kini memiliki panggung untuk berbicara, menunjukkan kekuatan, dan mentransformasikan tradisi menjadi kekayaan kolektif yang bernilai ekonomi dan sosial.
Transformasi Megebeg-Gebegan menjadi teater wisata berbasis komunitas menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak harus bertabrakan dengan modernitas. Justru, dengan melibatkan komunitas — terutama perempuan — pelestarian bisa menjadi jalan pemberdayaan.
Sebagaimana dicatat oleh Ruastiti (2010), seni pertunjukan berbasis komunitas mampu menciptakan simbiosis antara pelestarian dan pemberdayaan. Dalam kasus ini, peran perempuan menjadi kunci keberhasilan. Mereka bukan hanya melestarikan, tetapi juga membentuk ulang, membagikan makna, dan membuka ruang ekonomi kreatif.
Megebeg-Gebegan bukan sekadar ritual, dan perempuan bukan sekadar pelengkap. Dalam revitalisasi budaya ini, perempuan adalah motor penggerak, dan jiwa dari setiap gerak dan suara yang muncul di panggung.
Dengan melibatkan perempuan dalam setiap proses — dari konsepsi hingga eksekusi — Desa Tukad Mungga membuktikan bahwa masa depan budaya bisa lebih inklusif, adaptif, dan berdaya. Di tengah arus globalisasi, justru suara perempuan lokal yang menjadi penentu arah kebudayaan.
Dari dapur ke panggung, dari domestik ke strategis — perempuan telah membuktikan bahwa mereka bukan hanya penjaga warisan, tapi arsitek masa depan budaya Bali. Dan Megebeg-Gebegan kini bukan hanya milik masa lalu, tetapi menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih setara dan bermakna. ***
Editor : Dian Suryantini