Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Belimbing Putih, Ari-Ari, dan Jejak Leluhur Sang Proklamator

Dian Suryantini • Jumat, 1 Agustus 2025 | 20:35 WIB

Pohon belimbing putih dan rumah tempat Raden Soekemi pernah kos di Singaraja.
Pohon belimbing putih dan rumah tempat Raden Soekemi pernah kos di Singaraja.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Aroma cempaka menyambut langkah siapa pun yang masuk ke halaman rumah tua itu. Udara pagi terasa sejuk, menyusup lembut di sela-sela dedaunan yang rindang. Di sinilah jejak sejarah pernah melekat. Sebuah rumah sederhana di Jalan Gunung Batur, Singaraja. Tak banyak yang tahu, rumah kos ini adalah tempat bersejarah—saksi awal pertemuan dua insan : Raden Soekemi dan Nyoman Rai Srimben.

Tak ada plang nama. Tak ada tanda besar yang menyiratkan betapa pentingnya tempat ini. Namun, jika diamati, setiap dinding rumah seolah berbicara, menyampaikan kisah lama tentang cinta yang melintasi batas budaya, dan cita-cita yang kelak melahirkan seorang pemimpin besar.

Tahun-tahun menjelang pergantian abad. Sekitar akhir 1890-an, seorang pemuda Jawa datang ke Singaraja. Namanya Raden Soekemi Sosrodihardjo. Ia adalah lulusan Kweekschool Probolinggo—sekolah guru yang cukup bergengsi di masa Hindia Belanda.

Dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa yang masih jauh dari kemerdekaan, Soekemi muda dikirim ke Singaraja untuk mengajar di Tweede Klasse School. Sekolah tersebut kini dikenal sebagai SDN 1 Paket Agung. Di sinilah, benih-benih pemikiran tentang kemajuan dan nasionalisme mungkin mulai dirajut oleh pria yang tenang, tekun, dan penuh idealisme ini.

Untuk tempat tinggal, Soekemi menyewa sebuah rumah kos milik keluarga almarhum Nyoman Gede Sutha. Rumah itu berdinding bata merah dan tanah. Sederhana, tapi cukup nyaman bagi seorang guru muda. Letaknya tak jauh dari sekolah. Bangunannya hanya berisi satu kamar dan sepetak dapur. Di sinilah Soekemi hidup, sendiri. Teman-temannya tinggal terpisah, kebanyakan di luar rumah kos.

Baca Juga: Kisah Cinta Bung Karno yang Tidak Banyak Diketahui

Raden Soekemi sudah kos di sana sebelum menikah. Dulu rumah ini milik orang Madura. “Mungkin karena keluarga kami berjasa kepada mereka, tanah ini diberikan kepada keluarga saya. Tapi kami tidak tinggal di sini. Hanya pemiliknya saja,” kata Suma Antara, penerus almarhum Nyoman Gede Sutha, Jumat (1/8).

Pohon belimbing putih dan rumah tempat Raden Soekemi pernah kos di Singaraja.
Pohon belimbing putih dan rumah tempat Raden Soekemi pernah kos di Singaraja.

Rumah kos itu begitu nyaman, begitu rindang. Dahan dengan daun lebat dari pohon belimbing putih di belakang rumah kos itu menjadi salah satu penyumbang udara segar. Pohon belimbing putih itu ditanam langsung oleh Soekemi. Pohon itu kini telah beregenerasi, tumbuh besar dan subur, tetap setia berdiri meski zaman berganti. Bahkan di bawah pohon itu, konon Soekemi bersama Nyoman Rai menanam ari-ari buah hatinya yang pertama, Sukarmini.

“Tak banyak yang bisa diselamatkan. Benda-benda milik Raden Soekemi sudah tidak ada. Mungkin dibawa ke Surabaya saat pindah. Kami pun tidak begitu mencampuri urusan barang-barang pribadi. Siapa yang menyangka akan jadi seperti ini jalannya,” ujar Suma.

Sebelum kisah itu terjadi, ada kisah Raden Soekemi yang tak gentar mengejar Nyoman Rai. Setiap sore, selepas mengajar, Soekemi berjalan kaki. Bukan hanya mencari ketenangan di pelataran pura, tetapi diam-diam menanti kehadiran seorang gadis Bali yang menawan, Nyoman Rai Srimben. Pura itu berada di kawasan Bale Agung, tak jauh dari rumah kosnya.

Nyoman Rai adalah gadis yang anggun, lembut, dan penuh pengabdian. Setiap hari ia membersihkan pura. Waktunya hampir habis di tempat suci itu. Dari kejauhan, Soekemi hanya bisa memandang. Ia datang berulang kali, awalnya untuk menenangkan pikirannya, tapi semakin lama hatinya justru makin gelisah. Bukan karena tekanan pekerjaan atau kondisi politik, tapi karena rindu yang pelan-pelan tumbuh pada gadis Bali yang menghuni benak dan jiwanya.

Dari sekadar pandangan, berlanjut ke perkenalan. Dan dari perkenalan itulah cinta mulai bersemi. Tapi hubungan mereka tak semudah kisah dalam buku cerita.

Kala itu, pernikahan antara pria Jawa dan perempuan Bali nyaris mustahil. Apalagi jika sang gadis berasal dari lingkungan tradisional yang ketat. Permintaan Soekemi untuk meminang Nyoman Rai ditolak keras oleh orangtua sang gadis. Tapi cinta, sebagaimana sejarah membuktikan, seringkali punya caranya sendiri untuk menang.

Tekanan sosial tidak membuat cinta mereka surut. Di bawah langit Singaraja yang lembap oleh embusan angin laut, dua hati itu memutuskan untuk melawan. Soekemi dan Nyoman Rai memutuskan kawin lari.

Suma Antara saat mengantarkan berkeliling di rumah kos Raden Soekemi.
Suma Antara saat mengantarkan berkeliling di rumah kos Raden Soekemi.

Keputusan ini mengguncang tatanan adat. Mereka dipanggil ke “persidangan” lokal. Dihadapan aparat desa, Nyoman Rai ditanya “Apakah kau dipaksa?” Dengan suara mantap, ia menjawab bahwa ia mencintai Soekemi dan pergi atas kehendak sendiri. Dengan jawaban itu, tak ada satu pun yang bisa melarang mereka lagi.

Namun, keberanian itu tak datang tanpa konsekuensi. Setelah membayar sejumlah denda adat, keduanya pun resmi menjadi suami istri. Tahun 1898, mereka dikaruniai anak pertama, seorang putri bernama Raden Ayu Soekarmini. Tapi kebahagiaan itu tak bertahan lama di Singaraja.

Soekemi merasa tak lagi diterima sepenuhnya di Bali. Tekanan budaya dan sosial membuatnya mengajukan mutasi. Sekitar tahun 1900, permintaannya disetujui. Ia ditugaskan ke Surabaya, tepatnya di Sekolah Rakyat Sulung. Maka, berakhirlah masa pengabdian Raden Soekemi di Singaraja.

Perpindahan ke Surabaya menjadi babak baru bagi keluarga kecil ini. Mereka tinggal di kawasan Peneleh, tepatnya di Gang Pandean VII. Di rumah sederhana itulah, pada tanggal 6 Juni 1901, lahirlah seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Kusno.

Namun, Kusno kecil sering sakit-sakitan. Dalam tradisi Jawa, nama dipercaya membawa beban spiritual. Maka, namanya diganti menjadi Soekarno.

Rumah kecil di Surabaya itu kini telah menjadi situs cagar budaya. Tempat ziarah sejarah. Namun tak banyak yang tahu, sebelum lahirnya Soekarno, ada sebuah pohon belimbing putih yang tumbuh dari tangan ayahnya di Singaraja. Ada rumah kos berdinding bata tanah. Ada cinta yang tumbuh diam-diam di pelataran pura. Ada keberanian melawan adat. Dan ada peluh seorang guru yang ingin mencerdaskan anak-anak Hindia.

Setelah dari Surabaya, keluarga Soekemi pindah ke Mojokerto, lalu ke Blitar. Tapi Singaraja tetap menyimpan jejak awal perjalanan mereka. Jejak yang mungkin tak tertulis di buku pelajaran, tapi tertanam dalam tanah dan udara Bali Utara.

Bangunan kos di Singaraja, kini telah direnovasi. Dinding bata merah yang dulu terkikis kini diganti dengan tembok lebih kokoh. Bagian depan dibongkar, dibuatkan teras yang luas. Tapi bentuk bangunannya tidak diubah. Letak fondasi tetap sama. Di sanalah dulu Soekemi menyusun dokumen pelajaran. Menyusun masa depan anak-anak sekolah. Dan, barangkali, juga menyusun harapan tentang sebuah bangsa merdeka.

Kini, tak banyak yang menyangka tempat itu pernah dihuni oleh tokoh penting dalam sejarah bangsa. Suasananya tenang, seperti vila kecil di dataran tinggi. Rumah kos ini bukan hanya soal bangunan tua. Rumah itu simbol kesetiaan pada ilmu dan cinta. Rumah itu adalah saksi pendidikan dan perasaan bisa bersatu melahirkan sesuatu yang besar.

Dan siapa sangka, di balik dinding tanah itu, di tengah semerbak cempaka dan bayangan pura, sejarah bangsa ini pernah bergetar pelan—menunggu waktunya untuk bangkit.

Rumah kos Raden Soekemi di Singaraja memang hanya sepenggal kisah kecil dari perjalanan besar bangsa Indonesia. Tapi dari sanalah terlihat, bahwa perjuangan untuk mencerdaskan dan mencintai, tak selalu harus heroik dan gegap gempita. Kadang, cukup hadir dalam langkah kaki seorang guru yang sabar, dalam pandangan mata yang jatuh cinta di pura, dan dalam tekad untuk membangun keluarga di tengah tantangan adat. 

Dan pohon belimbing putih itu, yang masih berdiri sampai sekarang, adalah pengingat bahwa sejarah sejati bukan hanya milik istana, tetapi juga tumbuh diam-diam di pekarangan rumah orang biasa. ***

Editor : Dian Suryantini
#rai srimben #Raden Soekemi Sosrodihardjo #Cempaka #gunung batur #belimbing