Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

SDN 1 Paket Agung Sekolah Tertua di Bali, Tempat Ayah Bung Karno Mengajar dan Menemukan Cinta

Dian Suryantini • Jumat, 1 Agustus 2025 | 20:56 WIB

Patung Raden Soekemi yang ada di depan SDN 1 Paket Agung, Buleleng.
Patung Raden Soekemi yang ada di depan SDN 1 Paket Agung, Buleleng.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Di sudut timur Kota Singaraja, berdiri sebuah sekolah tua yang telah melewati satu setengah abad perjalanan sejarah. Sekilas, SD Negeri 1 Paket Agung terlihat biasa. Tapi siapa sangka, di bangunan sekolah itu nasib bangsa pernah berawal. Dari papan tulis, meja, dan ruang guru yang sederhana, lahirlah kisah cinta seorang guru Jawa dan gadis Bali yang melahirkan tokoh bangsa, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Hari itu, Jumat (1/8), 150 tahun usia sekolah dirayakan. Suasananya hangat, penuh haru dan bangga. Anak-anak bernyanyi, alumni saling berpelukan. Tapi lebih dari itu semua, suasana menjadi istimewa karena memori tentang sosok penting yang pernah mengajar di sekolah ini, yakni Raden Soekemi Sosrodihardjo.

Raden Soekemi bukan orang sembarangan. Ia lulusan Kweekschool Probolinggo—sekolah guru bergengsi pada masa kolonial, tempat hanya para priayi bisa belajar. Ayahnya, Raden Hardjokromo, adalah priayi kecil dari Jawa Timur. Dalam autobiografi Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, disebutkan bahwa Soekemi adalah keturunan Raja Kediri.

Ketika ditugaskan ke Bali oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, Soekemi memilih Singaraja. Kota ini sudah menjadi pusat pemerintahan keresidenan Bali dan Lombok sejak akhir abad ke-19. Di sinilah, tahun-tahun penting hidupnya bergulir, hingga menemukan tambatan hati. Seorang gadis Bali yang Anggun, Ni Nyoman Rai Srimben.

Baca Juga: Belimbing Putih, Ari-Ari, dan Jejak Leluhur Sang Proklamator

Pada perayaan 1,5 abad SDN 1 Paket Agung, setidaknya 3 pasang bangku sekolah dipajang di ruang kelas. Hingga kini meja itu masih digunakan. Meja itu memiliki ciri khas. Tempat duduknya dirangkai menjadi satu dengan meja. Di tengah-tengah meja terdapat lubang kecil. Lubang itu tempat meletakkan tinta, yang digunakan untuk menggores aksara pada kertas.

Meja belajar siswa yang digunakan saat Raden Soekemi mengajar.
Meja belajar siswa yang digunakan saat Raden Soekemi mengajar.

Di belakangnya berdiri kokoh lemari kayu. Pada bagian atas lemari tertulis SR No. 1 Singaraja dengan tanggal 8-8-28. Konon lemari itu digunakan sebagai tempat penyimpanan dokumen pendidikan oleh para guru di sekolah tersebut, termasuk Raden Soekemi pada tahun 1828.

Lemari kayu yang digunakan untuk menyimpan dokumen para guru termasuk Raden Soekemi.
Lemari kayu yang digunakan untuk menyimpan dokumen para guru termasuk Raden Soekemi.

 “Kami berharap sekolah ini terus menjadi kebanggaan daerah karena punya nama besar dan mendorong semua untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan kemajuan,” ujar Sekda Buleleng, Gede Suyasa saat hadir dalam perayaan 1,5 Abad SDN 1 Paket Agung.

Tak banyak sekolah yang bisa membanggakan kisah seperti SDN 1 Paket Agung. Dulu bernama Tweede Klasse School – sekolah pribumi kelas dua pada masa Hindia Belanda, sekolah ini adalah yang pertama di tanah Bali. Di sinilah Raden Soekemi Sostrodihardjo, seorang guru cerdas dan berwibawa, mengajar dengan penuh dedikasi.

“Kami bangga. Sekolah ini didirikan tahun 1875 dan masih eksis hingga hari ini. Banyak peninggalan masih kami simpan, dari meja, almari 1828, bel tua, hingga stambuk siswa,” ujarnya.

Mereka juga tengah mendorong agar dua ruang kelas baru dibangun, sembari merawat dan memamerkan dokumen sejarah seperti ijazah lama dan buku induk dari masa ke masa. “Ini bukan hanya soal gedung, tapi soal menjaga semangat dan inspirasi,” lanjutnya.

Benda-benda lawas lainnya yang juga dipamerkan dalam perayaan 150 tahun SDN 1 Paket Agung adalah Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) atau ijazah serta rapor. Dokumen lawas itu tertempel pada papan tulis dengan rapi. Permukaannya dilaminating agar tidak rusak. Ijazah-ijazah tersebut dikeluarkan dengan naman Sekolah Rakyat. Diantaranya rapor tahun 1943, ijazah tahun 1948, ijazah tahun 1950, ijazah tahun 1954, ijazah tahun 1956, ijazah tahun 1966. 

Ijazah Sekolah Rendah tahun 1948 - kini bernama SDN 1 Paket Agung.
Ijazah Sekolah Rendah tahun 1948 - kini bernama SDN 1 Paket Agung.

 

Ada pula buku induk siswa yang disebut Stambuk. Ada Stambuk 1 hingga Stambuk 5. Di dalamnya terdapat data siswa yang ditulis tangan. Baik data siswa yang bersekolah di SDN 1 Paket Agung/Sekolah Rakyat maupun siswa yang pindah atau keluar. Pengantar keterangan pada Stambuk tersebut masih menggunakan Bahasa Indonesia-Melayu dengan ejaan yang belum disempurnakan serta bahasa Belanda

Stambuk atau buku induk siswa tahun 1900-an
Stambuk atau buku induk siswa tahun 1900-an

 

Dari Tweede Klasse School kemudian berganti menjadi Sekolah Rendah. Tidak lama sekolah itu berganti nama pula menjadi Sekolar Rakyat (SR). Seiring waktu dibangun kembali sekolah kedua yakni Sekolah Rakyat (SR) yang lokasinya di jalan Gajah Maada Singaraja, tepat di bangunan SMPN 1 Singaraja saat ini.

Tahun demi tahun berganti. Saat itu masih jaman Jepang. SR di jalan Gajah Mada itu sepi, minim siswa. Kemudian bergeser ke SR No. 1.

“Saya dulu sekolah di SR di Gajah Mada. Setelah upacara bendera, kami disuruh mengumpulkan batu dari sungai yang ada di belakang RRI saat ini. Dulu upacara benderanya, hormatnya ke bendera Jepang, dengan lagu jepang juga. Saya sekolah di situ kelas 1, kelas 5 pindah ke SR No. 1,” ujar Luh Putu Budrawati, alumni SDN 1 Paket Agung yang lulus tahun 1950 yang kini berusia 83 tahun.

Para alumni yang lulus tahun 1950-an di SDN 1 Paket Agung.
Para alumni yang lulus tahun 1950-an di SDN 1 Paket Agung.

Seiring waktu, setalah menjadi Sekolah Rakyat, berganti kembali menjadi SD 10 Paket Agung. Tidak berhenti sampai di situ, nama sekolah itu berubah lagi menjadi SDN 1 dan 2 Paket Agung. Dan pada akhirnya tahun 2020, sekolah itu bernama SDN 1 Paket Agung.

Bagi masyarakat Singaraja, SDN 1 Paket Agung bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung. Ia adalah bagian dari identitas kota. Letaknya yang hanya selemparan batu dari kantor Bupati Buleleng membuatnya mudah dikenang dan dijangkau. Tapi yang lebih penting, sekolah ini telah menjadi rumah bagi banyak kisah besar.

Kisah cinta Raden Soekemi dan Ni Nyoman Rai Srimben adalah satu di antaranya. Berawal dari interaksi sederhana di lingkungan sekolah dan rumah yang saling berdekatan, benih cinta tumbuh. Dari pasangan inilah, sejarah bangsa berubah. Maka, bukan berlebihan jika disebut, di sekolah inilah sebagian dari takdir Indonesia dimulai.

Tema pameran peringatan kali ini sangat sederhana. Mengabdi, Menginspirasi, Membentuk Generasi. Tiga kata ini adalah potret perjalanan SDN 1 Paket Agung selama satu setengah abad.

Sekolah ini tidak hanya mendidik anak-anak Banjar Paket Agung. Ia melahirkan generasi tangguh yang menempati berbagai posisi penting, dari tingkat lokal hingga nasional. Tak terhitung berapa pejabat, tokoh, seniman, atlet, dan pendidik lahir dari bangku sekolah ini. Dan semangat itu tetap terawat.

“Kami sebagai alumni ingin terus menjaga nilai-nilai perjuangan dari pendahulu kita. Tidak sekadar mengenang, tapi menghidupkan kembali semangat pengabdian,” ujar Wiratmaja.

SD 1 Paket Agung tak sekadar tua. Ia kuat karena akar sejarahnya yang dalam. Dan kini, dengan semangat alumni, dukungan pemerintah, serta semangat anak-anak yang tetap menyala, sekolah ini sedang menulis ulang babak baru untuk menjadi sekolah modern yang tetap berpijak pada sejarahnya.

Satu setengah abad bukanlah waktu singkat. Tapi seperti kata orang bijak, usia hanya angka. Yang penting adalah dampak. Dan SDN 1 Paket Agung telah menggunakan waktunya untuk mengabdi, menginspirasi, dan membentuk generasi.

Dari meja tua dan lonceng besi, dari ruang kelas sempit hingga ruang guru, dari jejak seorang guru bernama Soekemi hingga teriakan semangat anak-anak masa kini—semua menyatu dalam satu cerita layaknya kisah panjang pendidikan, cinta, dan harapan dari jantung Buleleng. 

Editor : Dian Suryantini
#paket agung #Sekolah Rakyat #soekarno #guru #singaraja