BALIEXPRESS.ID – Tragedi terbaliknya kapal cepat Bali Dolphin Cruise II di perairan Sanur, Selasa (5/8), memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak.
Salah satunya datang dari Anggota DPD RI Dapil Bali, Dr. Arya Wedakarna (AWK), yang menyoroti buruknya tata kelola keselamatan transportasi laut di Bali.
Dalam unggahan di akun media sosial pribadinya, AWK menyatakan bahwa Bali saat ini darurat keamanan transportasi laut, terlebih setelah insiden yang menewaskan dua penumpang asal Tiongkok dan menyebabkan satu awak kapal (ABK) masih hilang.
"Bali darurat keamanan laut. Jangan hanya kejar untung, keselamatan penumpang harus jadi prioritas," tulis AWK sembari membagikan video evakuasi para penumpang kapal.
AWK juga mengingatkan para pelaku usaha fast boat—termasuk pemilik perusahaan, nahkoda, dan ABK—untuk tidak lagi mengesampingkan aspek keselamatan demi keuntungan semata.
Ia menegaskan bahwa sebagai wakil daerah di DPD RI, dirinya akan turun tangan langsung untuk menyikapi persoalan ini.
“AWK selaku DPD RI akan turun tangan,” tegasnya.
Kecelakaan terjadi saat kapal cepat tersebut hendak merapat ke Dermaga Pelabuhan Sanur, Denpasar, setelah berlayar dari Nusa Penida.
Kapal yang mengangkut 75 penumpang dan 5 kru itu terbalik sekitar 100–150 meter dari titik sandar, setelah dihantam gelombang besar setinggi 2–5 meter dari arah belakang.
Dua penumpang warga negara asing asal Tiongkok, Shio Ku Hong (23) dan Hon Jin Yu (37), dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara penumpang lainnya berhasil dievakuasi dengan luka ringan dan langsung dibawa ke RS Bali Mandara.
Baca Juga: Insiden Fast Boat Terbalik di Sanur; Satu ABK Hilang, Diduga Terjebak di Dalam Kapal
Satu orang awak kapal masih hilang dan diduga terjebak di dalam badan kapal. Proses pencarian oleh tim SAR gabungan hingga kini masih berlangsung.
Sementara itu, Kepala KSOP Kelas II Benoa, Aprianus Hangki, menegaskan bahwa kapal cepat Bali Dolphin Cruise II masih dalam kondisi layak berlayar, tidak melebihi kapasitas, dan seluruh penumpang telah dilengkapi alat keselamatan standar.
Namun, cuaca yang memburuk secara tiba-tiba menjadi penyebab utama terbaliknya kapal.
“Kapalnya layak berlayar, kru cukup, tidak melebihi kapasitas. Tapi gelombang tinggi datang secara tiba-tiba dari belakang, dan nahkoda tampaknya tidak sempat mengantisipasi,” jelas Aprianus.
Baca Juga: Relawan Galang Donasi untuk Biaya Pemakaman I Wayan Kajeng, Korban Tabrak Lari di Karangasem
KSOP juga menegaskan bahwa peringatan dini cuaca sudah disampaikan sebelumnya, namun saat kapal berangkat, kondisi laut masih tergolong aman.
Editor : Wiwin Meliana