BALIEXPRESS.ID - Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, mengumumkan rencana strategis untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di daerahnya melalui program beasiswa bagi dokter, perawat, dan calon mahasiswa kedokteran.
Program ini diharapkan mampu mencetak tenaga medis yang kompeten, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan siap mengabdi untuk masyarakat Buleleng.
Rencana tersebut disampaikan Bupati Sutjidra saat menghadiri Musyawarah Cabang (Muscab) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Buleleng Tahun 2025 di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, Minggu (10/8).
Dalam forum itu, ia memaparkan langkah Pemkab Buleleng untuk menjajaki kerja sama dengan berbagai universitas, baik dalam maupun luar negeri, guna menyediakan beasiswa pendidikan lanjutan.
Menurutnya, IDI memegang peran strategis sebagai pemersatu, pembina, dan pemberdaya para dokter. Karena itu, Bupati Sutjidra berharap IDI Buleleng dapat terus solid dan profesional, terutama dalam menghadapi tantangan digitalisasi serta perubahan regulasi kesehatan yang terus berkembang.
“Pemkab Buleleng tengah menjalin komunikasi dengan universitas di Shanghai, Tiongkok, yang menawarkan 20 kuota beasiswa subspesialis selama dua tahun, lengkap dengan asrama dan biaya hidup. Sementara dari India, ada program tanpa batas kuota, termasuk pendidikan kedokteran enam tahun bagi lulusan SMA,” ungkapnya.
Tidak hanya menanggung biaya studi, pemerintah daerah juga tengah memikirkan skema kompensasi bagi peserta yang meninggalkan keluarga selama masa pendidikan.
“Kami ingin memastikan para tenaga medis yang menempuh pendidikan lanjutan tetap merasa tenang, termasuk soal kesejahteraan keluarga yang ditinggalkan,” tambahnya.
Selain universitas luar negeri, Pemkab Buleleng juga merancang kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Airlangga (Unair).
Kampus-kampus tersebut bersedia menyediakan slot beasiswa S1 Kedokteran tanpa tes, khususnya untuk siswa dari keluarga kurang mampu.
Namun, ada satu syarat penting: penerima beasiswa wajib kembali ke Buleleng setelah lulus dan mengabdi di daerah asalnya.
“Targetnya minimal satu desa memiliki satu sarjana. Semua biaya akan ditanggung penuh, dan setelah lulus mereka wajib kembali mengabdi,” tegas Bupati Sutjidra.
Langkah ini, menurutnya, akan menciptakan pemerataan tenaga medis di seluruh wilayah Buleleng, termasuk desa-desa terpencil yang selama ini kesulitan mendapatkan layanan kesehatan memadai.
Pada akhir sambutannya, Bupati Sutjidra memberikan apresiasi kepada pengurus IDI Buleleng atas kemitraan yang telah terjalin selama ini.
Ia berharap kepengurusan baru mampu melanjutkan kerja sama dengan semangat profesionalisme dan dedikasi tinggi.
“Kami memiliki cita-cita besar: layanan kesehatan Buleleng harus prima, dokter-dokternya berkualitas, dan masyarakatnya terlayani dengan baik. Beasiswa ini adalah salah satu jalan menuju cita-cita itu,” tutupnya. (*)
Editor : Nyoman Suarna