BALIEXPRESS.ID– Gubernur Bali Wayan Koster akhirnya angkat bicara menanggapi kritik beruntun dari mantan Komisioner KPU RI, I Gusti Putu Artha, yang belakangan aktif menyerangnya melalui berbagai platform, termasuk podcast Jeg Bali.
Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah tudingan bahwa istri Koster berperan sebagai "buzzer" politik.
Baca Juga: Perkenalkan Jersey Terbaru, Liverpool FC dan adidas Resmi Jalin Kemitraan 10 Tahun
Dengan nada tenang namun penuh sindiran, Koster menyayangkan sikap Putu Artha yang menurutnya tidak mencerminkan etika politik.
Ia bahkan mengungkap bahwa dirinya dulu pernah membantu Putu Artha hingga terpilih menjadi Komisioner KPU RI.
“Dulu, saya yang membantu dia habis-habisan sampai akhirnya terpilih jadi Komisioner KPU RI. Sekarang, setelah saya jadi Gubernur, justru dia yang menyerang terus. Kalau mau jadi politisi, jangan begitu. Harus punya etika,” ujar Koster di sela kegiatan di Denpasar, Senin (11/8).
Baca Juga: Catat! Puluhan Usaha di Pantai Balangan dan Melasti Dipastikan Melanggar, Mirip Kasus Pantai Bingin
Koster juga menyoroti rekam jejak politik Putu Artha yang dua kali gagal dalam pencalonan sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah pada Pemilu 2019 dan 2024.
Menurutnya, kegagalan tersebut menunjukkan lemahnya basis dukungan yang dimiliki Putu Artha, baik di Sulawesi maupun di Bali.
“Rekam jejaknya sudah jelas. Pernah nyaleg, tapi masyarakat tidak memilih. Mungkin itu yang membuatnya lebih banyak bersuara di media dan podcast, ketimbang menunjukkan karya nyata,” sindir Koster.
Namun yang paling disesalkan Koster adalah serangan pribadi yang menyeret istrinya ke dalam pusaran kritik.
Baca Juga: Papua Makin Maju! Pemerintah Pusat Turun Langsung Perkuat Ekonomi dan Gizi
“Menyebut istri saya sebagai buzzer itu tindakan tidak etis. Wajar kalau istri saya membela saya ketika saya diserang bertubi-tubi. Itu manusiawi. Dia bukan buzzer, dia istri saya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Koster mengajak masyarakat agar tidak mudah termakan provokasi melalui media sosial atau podcast yang menurutnya kerap digunakan untuk membangun narasi menyesatkan.
“Sekarang banyak yang menggunakan media sosial dan podcast untuk framing yang menyesatkan. Masyarakat harus cerdas memilah informasi, karena tidak semua yang terdengar lantang itu benar,” ujarnya.
Pernyataan Koster ini dinilai sebagai upaya untuk mengembalikan fokus publik pada rekam jejak dan konsistensi para tokoh politik yang kerap tampil vokal, namun minim kontribusi nyata.
“Kalau mau maju calon lagi di Pemilu 2029, berbuatlah simpatik, tunjukkan prestasi kepada masyarakat, maju dari Bali agar masyarakat memilih nanti. Saya doakan semoga terpilih menjadi anggota DPR RI atau DPD RI mewakili Bali,” tutup Koster.
Editor : Wiwin Meliana