BALIEXPRESS.ID - Petaka menimpa seorang anak buah kapal (ABK) bernama Bangga, 23, di Perairan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung. Ia terjatuh dari kapal pada Sabtu (16/8), sekitar pukul 23.00 WITA.
Upaya penyelamatan yang sempat dilakukan oleh rekan-rekannya berlangsung dramatis. Namun nahas, ABK Kapal Motor (KM) Banyu Urip 1 itu pada akhirnya tenggelam dan tewas.
Kasi Humas Polresta Denpasar AKP I Ketut Sukadi membeberkan kronologi tragedi itu. Bermula ketika korban membangunkan Wakil KKM (Kepala Kamar Mesin) KM Banyu Urip 1 inisial HS, untuk menemani menghidupkan genset di Kapal Sri Dewata 67.
"Korban berjalan terlebih dahulu, sementara saksi masih kencing di lambung sebelah kiri KM Banyu Urip 1," ujarnya, Senin (18/8). Namun apes, Bangga tiba-tiba terjatuh ke laut. Insiden ini sontak membuat kaget HS.
Saksi langsung berusaha menolong korban dengan cara terjun ke laut. HS sempat memegangi ABK asal Bekasi, Jawa Barat itu.
Tapi, Bangga berontak panik dan tidak bisa berenang. Hal itu membuat pegangan tangannya terlepas dari saksi.
Alhasil, korban pun terbawa arus. Lalu, HS kembali ke tepian kapal untuk meraih tali dapra, karena kelelahan. Kejadian ini lantas diketahui teman-temannya yang lain.
ABK inisial AH, 18, bergegas memberikan pertolongan dari atas kapal. Dia melemparkan tali tross yang ada di buritan.
Hanya saja, tali tersebut tidak bisa di pegang oleh korban. "Korban tak bisa memegang tali karena panik tidak bisa berenang, terlebih lagi kondisi saat itu gelap," tuturnya.
Lantaran tali yang dilempar tidak dapat diraih, maka AH, bersama MS, 22, dan DP, 31, melemparkan pelampung yang terbuat dari sterofoam ke laut.
MS bahkan terjun ke laut untuk mendorong pelampung dengan berenang menghampiri korban.
Sayangnya, Bangga semakin jauh terbawa arus dan tenggelam.
Sehingga, MS kembali ke kapal dan menghubungi Nahkoda inisial HA, 40, dan informasi diteruskan kepada pemilik kapal inisial INT.
Setelah masalah ini dilaporkan ke pihak berwajib, tak berselang lama Tim SAR Gabungan datang untuk melakukan pencarian.
Seperti, Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas Bali), SAR Direktorat Polairud Polda Bali, SAR terbatas gabungan Sat Polairud Polresta Denpasar, dan nelayan setempat.
"Peralatan yang diterjunkan meliputnya satu Kapal Patroli 1012 milik Sat Polairud Polresta Denpasar, sebuah rubber bot milik Direktorat Polairud Polda Bali, sebuah RIB milik Basarnas, serta dua perahu nelayan milik INT," tambahnya.
Sementara itu, Kasi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Wayan Juni Antara menerangkan, pihaknya melakukan penyelaman sorti pertama, sekitar pukul 07.30 WITA.
Pihaknya juga mencari menggunakan peralatan Aquaeye.
"Penyelaman dilakukan oleh tiga orang personel, namun hasilnya nihil. Tiga jam berselang kembali diturunkan tiga orang penyelam dan tak juga memberikan hasil," tandasnya.
Berbagai kesulitan dihadapi petugas dalam proses tersebut.
Mulai dari arus bawah di Perairan Tanjung Benoa yang cukup kuat, hingga ada banyak kapal-kapal besar yang sandar.
Akhirnya pada upaya penyelaman sorti ke tiga, tim SAR gabungan berhasil menemukan korban yang sudah meninggal pada pukul 15.10 WITA.
"Korban ditemukan sekitar 20 meter arah barat dari lokasi kejadian, pada kedalaman kurang lebih 15 meter," ucapnya.
Selanjutnya jenasah Bangga dibawa ke RSUP Prof Dr IGNG Ngoerah Denpasar menggunakan Ambulance Al Mandiri.
Sampai saat ini belum diketahui apa penyebab jatuhnya korban dari kapal.
Pemilik Kapal pun telah membuat laporan ke SPKT Polda Bali, guna perkara ini ditangani Direktorat Polairud Polda Bali. (*)
Editor : I Gede Paramasutha