Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

PKK Buleleng Angkat Isu Stunting Lewat Lomba Masak Pangan Lokal di Bulfest 2025

Dian Suryantini • Kamis, 21 Agustus 2025 | 18:35 WIB

 

Lomba memasak menu stunting di Buleleng Festival 2025 yang diikuti PKK seluruh kecamatan.
Lomba memasak menu stunting di Buleleng Festival 2025 yang diikuti PKK seluruh kecamatan.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Aroma masakan beradu di Gedung Wanita Laksmi Graha Singaraja, Kamis (21/8). Di atas meja, aneka bahan pangan lokal tersusun rap. Ikan segar, sayuran hijau, umbi-umbian, hingga jagung. Semua itu bukan sekadar bahan untuk sajian lezat, melainkan simbol perjuangan melawan salah satu persoalan serius di Buleleng, yakni stunting.

Dalam rangkaian Buleleng Festival (Bulfest) 2025, Tim Penggerak PKK Kabupaten Buleleng menggelar Lomba Memasak Menu Cegah Stunting. Sembilan tim dari sembilan kecamatan tampil, masing-masing beranggotakan tiga kader PKK. Dengan mengusung tema “Isi Piringku Cegah Stunting Berbasis Pangan Lokal”, mereka ditantang menyajikan menu sehat, bergizi, dan seimbang sesuai konsep B2SA—beragam, bergizi, seimbang, dan aman.

Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, hadir membuka acara. Ia menyampaikan bahwa stunting masih menjadi masalah serius yang membutuhkan gerakan kolektif.

“Lomba memasak ini bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang edukasi. Dengan memanfaatkan pangan lokal, kita bisa menekan angka stunting sekaligus mendorong kreativitas masyarakat,” ujarnya.

Sutjidra menyoroti potensi perikanan Buleleng yang besar. Kabupaten Buleleng ini memiliki garis pantai sepanjang 157 kilometer, dengan hasil laut yang melimpah. Ikan, menurutnya, harus menjadi menu utama dalam keluarga karena kandungan omega-3 sangat penting bagi tumbuh kembang anak.

“Saya berharap resep-resep yang dihasilkan bisa distandarisasi, lalu disosialisasikan PKK hingga ke desa-desa,” tambahnya.

Baca Juga: Green Force Bulfest, Pasukan Muda Pastikan Area Festival Tetap Bersih

Lebih jauh, Sutjidra mengingatkan pencegahan stunting sebaiknya dimulai sejak dini, bahkan dari masa kehamilan. Ia mendorong ibu hamil melakukan pemeriksaan USG sejak trimester pertama, agar perkembangan janin bisa terpantau. Dukungan layanan kesehatan pun tak kalah penting. Ia mengusulkan agar Dinas Kesehatan memperkuat Posyandu, dengan menambah tenaga dokter spesialis kandungan, anak, dan tumbuh kembang.

Namun, ia menekankan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. “Astungkara, dengan kerja sama semua pihak—PKK, DWP, camat, hingga perangkat desa—kita bisa menangani stunting di Buleleng. Mari kita tidak henti-henti bergerak demi generasi sehat,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Buleleng, Ny. Wardhany Sutjidra, menekankan bahwa lomba ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal kesadaran. “Kami ingin memperkenalkan menu makanan B2SA sekaligus mengajak para ibu lebih peduli dengan pola makan sehat dalam keluarga. PKK berkomitmen mendukung pemerintah agar anak-anak di Buleleng tumbuh sehat, cerdas, dan siap menjadi generasi emas,” jelasnya.

Lomba ini pun terasa lebih hidup dengan kehadiran dewan juri yang beragam. Dari perwakilan Indonesian Chef Association (ICA) Buleleng, ahli gizi Dinas Kesehatan, hingga PKK Kabupaten. Para juri menilai bukan hanya tampilan dan rasa, tetapi juga kreativitas mengolah bahan lokal menjadi menu sehat yang ramah keluarga.

Dari jagung yang diolah menjadi puding, ikan laut yang disajikan dengan sayuran, hingga olahan umbi-umbian yang kaya serat—setiap tim berusaha menyajikan sesuatu yang sederhana tapi sarat makna. Hasil dari kompetisi ini diharapkan tidak berhenti di meja lomba. Resep-resep yang lahir akan menjadi menu standar yang bisa diterapkan di rumah tangga, sebagai langkah nyata mencegah stunting dari dapur keluarga. ***

Editor : Dian Suryantini
#lomba #pkk #stunting #memasak #singaraja #ahli gizi #buleleng