Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Jayaprana Hidup dalam Sendratari, Tampil Epik dalam Panggung Buleleng Festival 2025

Dian Suryantini • Jumat, 22 Agustus 2025 | 18:55 WIB

Pertunjukan Sendratari Jayaprana Layonsari di Kawasan Puri Kanginan Singaraja, pada Buleleng Festival 2025.
Pertunjukan Sendratari Jayaprana Layonsari di Kawasan Puri Kanginan Singaraja, pada Buleleng Festival 2025.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Sendratari Jayaprana Layonsari mulai dimainkan. Para pemain muncul dari balik panggung yang dirancang di kawasan Puri Kanginan Singaraja. Dengan Gerak tubuh dan lantunan syair, para pemain tampil maksimal pada gelaran Buleleng Festival 2025. Sebelum pertunjukan ini dipertontonkan, terdapat gagasan awal yang dipertimbangkan cukup lama.

Hingga pada akhirnya, seperti gayung bersambut, tahun 1962 menjadi momentum bersejarah bagi dunia seni pertunjukan Bali. Pada perayaan HUT KOKAR Bali ke-II, seorang tokoh budaya, I Gusti Bagus Nyoman Pandji, menggagas sebuah karya monumental: Sendratari Jayaprana. Sebuah ide yang lahir bukan sekadar kebetulan, melainkan berangkat dari kebutuhan.

Sebelumnya, Kepala Jawatan Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan Provinsi Bali, Drs. I Made Mendra, mengajukan sebuah permintaan agar Bali memiliki sendratari kebanggaan. Tujuannya jelas, Bali harus mampu mengikuti jejak lahirnya Sendratari Ramayana di Prambanan, Jawa Tengah, pada 1961—karya besar kolaborasi seniman Solo, Semarang, dan Yogyakarta.

Awalnya, penciptaan sendratari ini direncanakan di Kota Singaraja. Namun karena satu dan lain hal, mandat itu akhirnya jatuh ke tangan KOKAR Bali. Gusti Bagus Nyoman Pandji kemudian mempercayakan sepenuhnya garapan kepada para guru KOKAR Bali di bawah pimpinan maestro musik Bali, I Wayan Beratha. Dari sinilah jejak Sendratari Jayaprana lahir, menjadi salah satu karya monumental yang hingga kini dikenang.

Kutipan sejarah itu memberi legitimasi bahwa seorang seniman asal Buleleng turut mewarnai perjalanan karya ini. Dia adalah I Ketut Merdana, sosok yang dipercaya menggarap komposisi musik sekaligus beberapa bagian koreografis. Lebih dari itu, Merdana juga menyiapkan properti pementasan. Dukungan pun datang dari kalangan Tionghoa, salah satunya Tan Swie Liang, pemilik Depot Bali, yang ikut menyokong kebutuhan properti pementasan.

Baca Juga: Dean, Anak Tamblang yang Jadi Juara Programming Competition di Buleleng

Keberadaan Merdana dalam proyek ini dapat dikenali dari gaya musikal dan determinan komposisi yang melekat kuat dalam sebagian besar garapan. Ia bukan hanya komposer, tetapi juga pewarna yang memberi jiwa pada sendratari ini.

Sementara sektor koreografi dipercayakan kepada dua tokoh yang kala itu masih berstatus siswa KOKAR Bali, Ni Ketut Alit Arini dan Made Bandem.

Pembina Tabuh, Ketut Pany Ryandhi menuturkan, kisah Jayaprana dan Layonsari sendiri bukan sekadar legenda. Di Desa Sumberklampok, Gerokgak, Buleleng, terdapat sebuah hutan di depan Teluk Terima, yang dipercaya sebagai lokasi berakhirnya kisah cinta dua sejoli ini. Kini, masyarakat mengenalnya sebagai Pura Luhur Jayaprana.

Pura ini menjadi simbol pengingat betapa kisah tragis Jayaprana-Layonsari telah membekas dalam memori kolektif masyarakat Bali. Kisah tentang cinta yang pupus oleh kekuasaan Raja Kalianget, sekaligus keteguhan sepasang kekasih yang memilih abadi bersama.

“Sendratari Jayaprana bukanlah hasil kerja satu-dua orang saja, melainkan kolaborasi banyak tokoh. Komposernya adalah I Ketut Merdana dan I Wayan Beratha, dua nama besar dalam dunia karawitan Bali. Koreografernya, selain Ni Ketut Alit Arini dan Made Bandem, juga mendapat dukungan pembina karawitan seperti Ketut Pany Ryandhi dan Ngurah Agung Riski Restuaji,” terangnya, Jumat (22/8).

Di sisi tari, pembinaan dilakukan oleh Nyoman Suarriati dan Nyoman Arya Barata, yang memastikan kesempurnaan gerak selaras dengan musik dan cerita. Kolaborasi lintas generasi inilah yang kemudian melahirkan karya berkelas, menjadikan Sendratari Jayaprana sebagai salah satu ikon seni pertunjukan Bali.

Sendratari Jayaprana adalah wujud transformasi kisah klasik ke dalam bentuk seni pertunjukan yang hidup. Dari cerita rakyat yang beredar turun-temurun, kini kisah Jayaprana-Layonsari menjelma menjadi tontonan sekaligus tuntunan. Penonton tak hanya disuguhi keindahan tari dan musik, melainkan juga pesan moral tentang cinta, kesetiaan, dan tragedi akibat keserakahan kekuasaan. ***

Editor : Dian Suryantini
#sendratari #buleleng festival #pertunjukan #Jayaprana Layonsari #Kokar Bali