Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Topeng Raksasa dari Sampah Plastik Jadi Ikon Bulfest 2025  

Dian Suryantini • Senin, 25 Agustus 2025 | 00:09 WIB

 

Topeng raksasa dengan tokoh Rama dan Laksamana yang terbuat dari sampah plastik di Buleleng, menjadi backdrop panggung utama Bulfest 2025.
Topeng raksasa dengan tokoh Rama dan Laksamana yang terbuat dari sampah plastik di Buleleng, menjadi backdrop panggung utama Bulfest 2025.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Dua topeng raksasa berwajah Rama dan Laksmana menjadi pusat perhatian di panggung utama Buleleng Festival (Bulfest) 2025. Topeng raksasa yang menjadi latar panggung utama Bulfest itu lahir dari bahan tidak biasa. Bahannya adalah cacahan sampah plastik. Karya ini dikerjakan oleh Eka Darmawan bersama timnya di pabrik pengolahan plastik miliknya di Banyuning.

Dengan tema “The Mask History of Buleleng: Topeng Leluhur, Jiwa Buleleng”, Bulfest tahun ini menempatkan karya itu bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol kecintaan pada warisan seni topeng sekaligus pesan edukasi pengolahan sampah.

Tiga hari sebelum dipasang, bengkel milik Eka Darmawan berubah menjadi arena sibuk. Suara mesin profil, zigso, grumble, hingga bor bersahutan. Debu halus plastik beterbangan, membuat udara pengap.

“Kesulitannya, membawa topeng itu ke ranah ciptaan yang lebih besar. Untuk topengnya saja sekitar enam meter, belum lagi backdrop, bisa sampai 10 meter,” kata Eka Darmawan, Minggu (24/8).

Pembuatan dua topeng raksasa ini menelan sekitar 1,5 ton sampah plastik. Prosesnya memerlukan kerja lembur sejak 5 Agustus hingga 17 Agustus. Eka bahkan sempat mengalami masalah kesehatan akibat terlalu banyak menghirup debu plastik.

Baca Juga: Menjaga Nafas Tapel: Dulu, Kini dan Nanti

Tantangan utama ada pada konstruksi. Setiap backdrop berukuran 4,5 x 10 meter. Agar kuat menahan terpaan angin, tiap papan backdrop dilubangi dengan 203 lubang angin. Total, ada 22.330 lubang yang harus dibuat di 110 papan.

“Kalau konstruksi salah, topeng bisa jatuh dihantam angin. Karena itu rangka harus benar-benar diperhitungkan,” ujar Eka.

Untuk desain topeng, Eka menggandeng seniman Wayan Balik Mustiana. Seniman patung logam itu merancang wajah Rama dan Laksmana secara manual, dibantu Nyoman Badra dan I Kadek Gargita.

“Tinggi wajahnya dua meter. Lebarnya 1,75 meter. Beratnya mencapai 180 kilogram. Itu tidak bisa diangkat sendiri,” jelas Mustiana.

Satu topeng menghabiskan sekitar 180–200 kilogram plastik cacahan. Teknik pengerjaan mengadaptasi cara pembuatan ogoh-ogoh, yakni membentuk kerangka terlebih dahulu. Bedanya, pengerjaan dimulai dari bagian belakang sehingga detail wajah baru terlihat setelah selesai.

Bahan baku utama topeng ini seluruhnya berasal dari sampah plastik rumah tangga di Buleleng. Eka Darmawan mengumpulkannya melalui Bank Sampah Induk yang ia kelola. Bank sampah itu bekerja sama dengan Kodim 1609/Buleleng dalam kegiatan pengumpulan plastik.

“Asalnya dari Buleleng. Jadi kami kerja sama dengan Kodim. Mereka yang membantu mengumpulkan sampah plastik,” kata Eka.

Selama ini, Eka sudah terbiasa mengolah plastik menjadi kursi, meja, hingga campuran aspal. Namun mengolahnya menjadi karya seni raksasa dengan tenggat ketat adalah pengalaman baru.

Topeng raksasa Rama dan Laksmana kini berdiri megah di panggung utama Bulfest, tepat di depan Tugu Singa Ambara Raja. Lebih dari sekadar dekorasi, karya ini menjadi ikon yang menyampaikan pesan kuat. Sampah plastik bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai seni dan edukatif.

Bulfest 2025 berlangsung hingga 23 Agustus. Selama festival, dua topeng itu akan menjadi saksi kemeriahan sekaligus pertunjukan bahwa tradisi, kreativitas, dan kepedulian lingkungan bisa dipadukan dan berjalan selaras.

“Ini bukti bahwa plastik bisa menjadi media ekspresi seni yang memperkaya Bulfest. Lebih dari itu, ini cara kami memberi pesan edukasi kepada masyarakat,” kata Eka Darmawan. ***

Editor : Dian Suryantini
#dekorasi #sampah plastik #festival #topeng #bulfest #buleleng