BALIEXPRESS.ID - Keterbatasan pendengaran ternyata tidak menjadi penghalan untuk berkarya.
Bahkan Ni Putu Sri Widya Meganatasya atau yang akrab disapa Tasya mampu membuktikan dengan meraih sejumlah prestasi.
Baru-baru ini siswa SLBB Negeri 1 Badung ini pun tampil dalam sebuah film pendek yang berjudul, Melangkah Tanpa Suara.
Baca Juga: Pasca Demo Anarkis, PHRI Badung Harapkan Situasi Damai dan Kondusif
Meski sebagai penyandang disabilitas akibat tuna rungu dan wicara, Tasya mampu membuktikan dirinya.
Dalam film ini Tasya menjadi pemeran utama didampingi oleh Elsa H Syarief, sebagai Karina (ibu) dan Yogi Tan sebagai Damar (ayah).
Executive Produser Made Sukanaya mengatakan, keterbatasan adalah sebuah perbedaan yang dapat menjadikan seseorang unik.
Baca Juga: Pasca Demo, Polres Tabanan Lakukan Patroli Sinergitas TNI-Polri di Titik Vital Kota Tabanan
Ia pun menyebutkan, semua anak, termasuk yang memiliki perbedaan dan kekhususan, berhak untuk berkarya, berprestasi dan berbahagia.
“Pengembangan bakat dan minat dari anak yang memiliki keunikan ini memerlukan dukungan usaha, perjuangan, kerja keras serta doa tulus dari keluarga untuk mengembangkan dan membukakan jalannya,” ujar Sukanaya yang juga ayah dari Tasya, belum lama ini.
Ia memaparkan, anaknya lahir pada 28 September 2013 saat itu tepat peringatan Hari Tuna Rungu Sedunia.
Baca Juga: Aparat Gabungan Perketat Pemeriksaan di Pelabuhan Gilimanuk Antisipasi Unjuk Rasa
Kemudian nama Mega diambil dari nama Meganyon peraih Miss Uiverse 2013 yang dilaksanakan di Nusa Dua saat itu.
Pihaknya berharap tanggal lahir dan nama yang diplihnya dapat menjadi doa dan harapan dari keluarga untuk Tasya agar menjadi bintang pada suatu saat nanti.
Sejak lahir Tasya dinilai berbeda dari anak-anak disabilitas lain.
“Dia cerdas, punya percaya diri yang tinggi dan bahkan punya empati kepada orang lain,” jelas pria kelahiran Jimbaran ini.
Selaku ayah, Made Sukanaya bersama sang istri mendukung penuh pengembangan bakat dan minat putri pertamanya tersebut.
Bahkan ia menyatakan, film ini yang mengambil inspirasi dari kisah nyata, dan didedikasikan untuk anak-anak dengan keterbatasan fisik, termasuk keterbatasan pendengaran.
Film pendek ini juga telah mengantongi sertifikasi lolos sensor dari Badan Sensor Film.
Sang bintang film, Tasya mengaku menikmati proses pembuatan filmnya.
Dengan Bahasa isyrat dan wajah sumringah penuh senyum Tasya menceritakan kebahagiaannya dalam proses pembuatan hingga film tersebut tayang.
Gadis dengan hobi menari dan modelling ini mengajak masyarakat untuk menonton film pendek yang sebagian ceritanya berangkat dari kisah nyata perjalanan hidupnya.
Remaja berperawakan ramping ini ternyata memiliki segudang pengalaman dan prestasi.
Diantaranya mengkuti fashion show model tingkat ASIA yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand sebagai salah satu duta dari Indonesia.
Tasya bahkan terlibat pembuatan film Anak Bisu di event G20 atas permintaan Presiden Joko Widodo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang bertemu Tasya saat peresmian salah satu unit di RSU Prof Dr Ngoerah.
Remaja berwajah eksotik ini juga sudah malang melintang di ajang modelling berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Malang dan Yogyakarta.
Bahkan Tasya mampu mengukir prestasi dengan meraih predikat Miss Preteen Indonesia, dan pemegang Piala Presiden Top Model Indonesia.
Film ini disutradarai Sutrada Menco Hidayat yang diproduksi On Camera Pictures dan Cycloop Entertainment.
Film pendek sarat motivasi ini akan tayang via kanal lokalfilm, video.com dan kanal digital lainnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga