BALIEXPRESS.ID – Sebanyak 25 jenazah terlantar dikremasi oleh RSUP Prof Ngoerah bersama Dinas Sosial Provinsi Bali, Selasa (2/9), di Krematorium Kerobokan, Badung.
Direktur Utama RSUP Prof Ngoerah, dr. I Wayan Sudana, menyampaikan prosesi diawali dengan pelepasan jenazah sebelum dilakukan kremasi.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan ini merupakan hasil kerja sama dengan Dinas Sosial dan P3A Provinsi Bali.
Baca Juga: Kantor Pertanahan Klungkung Serahkan Sertipikat Residu PTSL 2019 ke Warga
“Harapannya tentunya semuanya bisa prosesnya berjalan dengan lancar dan tentunya juga almarhum-almarhum mendapat tempat yang terbaik,” ujar Sudana.
Dari total jenazah yang dikremasi, lima di antaranya adalah Warga Negara Asing (WNA): dua asal Rusia, dua asal Ukraina, dan satu asal Australia.
Sudana memastikan seluruh proses kremasi telah melalui persetujuan keluarga serta penyelesaian kasus oleh pihak kepolisian.
Baca Juga: Gubernur Pastikan Bali Aman Dan Kondusif, Undang Wisman dan Wisnu untuk Berkunjung ke Bali
Beberapa jenazah yang ditangani memiliki latar belakang berbeda. Ada yang datang ke RSUP Prof Ngoerah dalam kondisi terlantar, ada pula yang sempat menjalani penyelidikan aparat.
Sebagian keluarga ada yang berhasil dihubungi, namun menyerahkan proses lanjutan kepada pihak rumah sakit.
Khusus untuk jenazah WNA, prosesi hanya dihadiri oleh pihak konsulat, sementara keluarga tidak hadir.
Sudana menambahkan, jenazah paling lama disimpan sejak tahun 2021 saat pandemi Covid-19.
Selama berada di rumah sakit, biaya perawatan hingga penitipan jenazah terus berjalan.
Baca Juga: Yongmoodo Buleleng Bidik Hattrick Juara Umum Porprov Bali 2025
“Nah tentunya itu juga ada biaya penitipan selama dititipkan di RSUP Prof Ngoerah. Bayangkan dari tahun 2021 berapa hari itu kan. Jadi total dari semua itu untuk rumah sakit sekitar Rp3,5 miliar lebih. Nah itu kita bebaskan. Jadi bentuk CSR rumah sakit, sosial rumah sakit,” tandasnya.(***)
Editor : Rika Riyanti