SINGARAJA, BALI EXPRESS – Aroma khas kedelai yang tengah difermentasi langsung menyambut siapa saja yang melintas di Jalan Pulau Sugara, Kelurahan Kampung Baru, Kabupaten Buleleng. Di antara riuh suara ombak Pantai Taman Sari, berdiri sebuah rumah sederhana yang menyimpan cerita panjang tentang ketekunan, tradisi, dan cinta terhadap makanan khas Indonesia. Apalagi kalau bukan tempe.
Di rumah itulah, Hairudin menjalani hidupnya sebagai penjaga warisan kuliner turun-temurun. Usaha tempe yang kini ia kelola bukanlah hal baru. Sejak 1970, sang ayah sudah lebih dulu merintis usaha ini. Kini, di usia 57 tahun, Hairudin tetap setia melanjutkan jejak tersebut, menjadikan tempe bukan sekadar pangan, melainkan bagian dari identitas keluarganya.
“Saya sudah dari muda ikut bantu orang tua bikin tempe. Sampai sekarang tetap saya lanjutkan,” ujar Hairudin sembari tersenyum, belum lama ini.
Meski dunia kian modern, Hairudin tetap setia menjaga cara tradisional yang diwariskan kepadanya. Mesin memang sudah masuk ke dapurnya, tapi hanya untuk hal-hal praktis, seperti menggiling kedelai atau mengaduk adonan. Selebihnya, semua masih dilakukan manual.
“Kami tetap pakai cara lama. Tapi untuk efisiensi waktu, beberapa proses dibantu mesin,” jelasnya.
Proses pembuatan tempe dimulai dari merendam kedelai, merebus, mengupas kulitnya, hingga mengeringkan. Setelah itu, barulah kedelai dicampur dengan ragi. Uniknya, Hairudin menggunakan dua jenis ragi sekaligus seperti ragi instan dan ragi alami yang berasal dari pohon waru. Hasilnya, tempe jadi lebih gurih dan awet.
“Kalau cuaca cerah, tempe jadi lebih cepat. Tapi kalau mendung, fermentasinya lambat, jadi raginya saya tambah,” katanya.
Setiap hari, sekitar 100 kilogram tempe keluar dari rumah produksinya. Jumlah itu bukan main-main, apalagi mengingat semua proses dikerjakan dengan tangan. Untuk membantu, Hairudin melibatkan enam tetangganya. Tiga orang khusus menangani tempe, sementara tiga lainnya mengurus tahu, produk sampingan dari kedelai yang juga ia produksi.
Baca Juga: Nurhakim, Si Pembuat Tempe Singaraja, Tetap Setia Gunakan Ragi Tempe
Dari rumah sederhana itu, tempe buatan Hairudin tersebar ke berbagai penjuru. Mulai dari warga sekitar yang membeli langsung, pedagang pasar, hingga pelanggan online. Bahkan, beberapa kali ia menerima pesanan dalam jumlah besar ke luar pusat kota, seperti ke Lovina dan Bebetin.
“Itu yang paling jauh saya pernah antar,” ucapnya.
Harga tempenya terjangkau. Ukuran kecil dijual Rp4.000, sedang Rp7.000, dan besar Rp9.000 per potong. Dari harga sederhana itu, lahir kepuasan pelanggan yang tak ternilai. Salah satunya adalah Ketut Eti, yang sudah bertahun-tahun setia membeli.
“Tempe Pak Hairudin itu beda rasanya, lebih gurih dan awet. Saya sudah coba beli dari tempat lain, tapi tetap balik lagi ke sini,” ungkapnya.
Usaha Hairudin tak berdiri sendiri. Kabupaten Buleleng dikenal sebagai daerah yang aktif mendorong pertumbuhan UMKM. Berdasarkan data Pemkab Buleleng, jumlah usaha kecil meningkat signifikan, dari 9.576 unit pada 2020 menjadi 12.107 unit pada 2024.
Lingkungan yang tumbuh bersama ini jelas memberikan ruang bagi usaha rumahan seperti milik Hairudin untuk tetap hidup. Apalagi, pemerintah daerah melalui Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM (Disdagperinkop UKM) terus memberi pelatihan dan pendampingan agar UMKM makin berdaya saing.
Dulu, tempe buatan Hairudin masih dibungkus dengan daun pisang, yang memberi aroma khas sekaligus kesan alami. Namun, seiring sulitnya mencari bahan dan tuntutan praktis, bungkus plastik kini menjadi pilihan utama. Meski begitu, rasa dan kualitas tetap ia jaga sebaik mungkin.
Di balik semua usahanya, ada doa dan harapan yang selalu ia sematkan. Hairudin ingin, suatu saat anak cucunya mau melanjutkan usaha keluarga ini. Baginya, tempe bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga warisan yang tak boleh putus.
“Saya ingin usaha ini tetap jalan, jangan sampai berhenti di saya. Ini warisan keluarga,” katanya lirih.
Namun, ia sadar ada tantangan besar. Modernisasi memang membawa banyak kemudahan, tetapi tidak semua tradisi bisa mengikuti arusnya. Hingga kini, belum ada alat yang mampu mempercepat proses fermentasi tempe. Hal itu membuat produksi masih sangat bergantung pada cuaca dan kesabaran.
Meski begitu, Hairudin tak gentar. Dengan pengalaman puluhan tahun, ia justru melihat tantangan itu sebagai cara menjaga otentisitas tempe buatannya. “Tempe itu kalau dibikin dengan hati, hasilnya beda. Orang bisa merasakan,” ujarnya yakin.
Di tengah gempuran makanan cepat saji dan produk instan, Hairudin berdiri sebagai pengingat bahwa kelezatan sejati lahir dari proses panjang yang penuh dedikasi. Setiap potong tempe yang ia hasilkan adalah bukti bahwa warisan bisa terus hidup, asalkan ada yang mau menjaganya.
“Selama masih ada yang makan tempe, saya akan terus bikin,” ujarnya mantap. ***
Editor : Dian Suryantini