SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di pesisir utara Bali, tepat di bibir pantai Singaraja, berdiri sebuah pelabuhan tua. Pelabuhan Pabean Buleleng atau yang kini dikenal Pelabuhan Tua Buleleng. Bagi masyarakat sekitar, pelabuhan ini hanya sebuah sisa sejarah. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, pelabuhan ini menyimpan kisah dramatis. Sebuah cerita tentang perdagangan, perbudakan, persaingan kolonial, hingga kegagalan sebuah rencana besar yang bisa saja mengubah wajah dunia.
Bayangkan seandainya rencana itu berhasil. Singapura berdiri bukan di Temasek, melainkan di Buleleng, Bali Utara.
Sejak awal Masehi, Bali sudah masuk dalam lingkaran perdagangan global. Letaknya yang strategis di jalur maritim—yang kelak disebut Jalur Sutra Laut—menjadikan pantai utara Bali, termasuk Buleleng, sebagai titik persinggahan penting kapal-kapal asing. Pedagang dari India, Cina, Arab, hingga Eropa, berlayar melewati jalur ini untuk menukar rempah, kain, logam mulia, dan barang-barang eksotik lainnya.
Laut Buleleng sejak lama menyimpan kisah kejayaan yang jarang didengar. Guru Besar Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha, Prof. Dr. I Made Pageh, M.Hum, mencatat bahwa sejak abad ke-17, kawasan laut ini sudah menjadi bagian penting dari perdagangan maritim nusantara. Gelombang kapal yang silih berganti berlabuh di pesisir Buleleng menandai awal keterhubungan Bali dengan dunia luar.
Memasuki dekade 1830-an, denyut perdagangan semakin kencang. Pelabuhan Buleleng menjelma menjadi simpul perniagaan internasional, tempat berbagai komoditas dipertukarkan.
“Hasil pertanian dan ternak dari Bali diangkut ke mancanegara, hingga ke Malaka dan Hong Kong. Di sekitarnya, toko-toko berdiri rapat, sebagian besar dimiliki oleh para pedagang Tionghoa yang saat itu mendominasi aktivitas ekonomi pelabuhan,” ujarnya, belum lama ini.
Jalur laut yang membentang dari Buleleng menuju Semarang, Makassar, Ampenan, hingga Kupang menjadi nadi utama. Bukan hanya barang yang berpindah, tetapi juga gagasan, budaya, dan informasi. Pelabuhan Buleleng menjadi pintu masuk Bali ke dalam pusaran besar dunia maritim Asia Tenggara.
Peran pelabuhan ini tidak berhenti pada perdagangan. Seiring waktu, wajah baru Bali mulai dikenal. Pada 1920, wisatawan asing berdatangan, terpikat oleh lanskap alam dan budaya Bali yang memesona. Dari pelabuhan inilah, awal mula pariwisata Bali dirajut—sebuah babak baru yang kelak menjadikan pulau ini magnet wisata dunia.
Baca Juga: Nyoman Wisandika dan Kenangan Masa Kecil di Pelabuhan Tua Buleleng
Tak hanya itu, sebuah catatan menarik juga terselip dalam sejarahnya. Sir Stamford Raffles, tokoh Inggris yang dikenal sebagai pendiri Singapura, pernah melirik Buleleng. Ia disebut berencana membangun kota pelabuhan yang dinamainya “Singapura” di Bali.
“Rencana ambisius itu justru kandas setelah perselisihan dengan Raja Buleleng, I Gusti Gde Karang yang saat itu menjabat,” kata Pageh.
Arkeologi juga memberi bukti. Pecahan keramik Tiongkok, manik-manik India, hingga peninggalan logam dari Asia Barat, ditemukan di berbagai situs di Bali Utara. Semua menegaskan, Bali bukanlah pulau terpencil, namun bagian dari jejaring kosmopolitan dunia.
Di situlah Pelabuhan Pabean Buleleng memainkan perannya. Bukan sekadar tempat tambat kapal, melainkan pintu masuk utama Bali bagi dunia luar. Menurut catatan, Pemerhati Sejarah, Koordinator Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng, Amoeng A. Rachman, hingga abad ke-19, pelabuhan ini berdiri sebagai salah satu simpul perdagangan terbesar di pulau ini, bahkan menjadi tulang punggung ekonomi Kerajaan Buleleng.
Sejarah mencatat nama Pabean Buleleng dalam dokumen Eropa sejak abad ke-16. Willem Lodewijcksz, pelaut Belanda yang ikut ekspedisi Cornelis de Houtman (1595–1598), menggambar peta Bali tahun 1598. Dalam peta itu, nama Buliling muncul—ejaan asing dari Buleleng. Artinya, jauh sebelum Kerajaan Buleleng berdiri, jauh sebelum nama Ki Panji Sakti dikenal, kawasan ini sudah dicatat dunia.
Ini bukti bahwa Buleleng bukan daerah pinggiran. Buleleng telah dikenal, diperhitungkan, bahkan menjadi bagian dari peta awal navigasi internasional.
Namun, sejarah tidak selalu berkilau. Pada abad ke-18 dan ke-19, budak dan opium menjadi komoditas utama perdagangan. Kerajaan-kerajaan di Bali, termasuk Buleleng, memperoleh pemasukan besar dari praktik pasar gelap ini.
Dalam catatannya, Sugi Lanus, seorang Filolog yang berasal dari Buleleng, mengatakan, budak—seringkali anak-anak—dijual kepada pedagang asing. Mereka dikirim menempuh perjalanan laut panjang menuju Batavia, India, hingga Eropa.
“Nama mereka hilang di catatan resmi, hanya tersisa dalam kisah-kisah lisan yang getir,” terangnya.
Salah satu catatan paling memilukan datang dari Ketut Jubeleng, seorang bocah berusia sekitar 5 tahun. Pada 24 Februari 1811, ia dikirim dari Pabean Buleleng menuju Batavia. Ia adalah hadiah dari Raja Buleleng kepada seorang tokoh besar dunia, Thomas Stamfford Raffles.
Seorang bocah kecil, meninggalkan keluarganya, tanpa tahu apa arti “hadiah” itu. Tubuh mungilnya hanyalah simbol persekutuan politik antara kerajaan lokal dan kekuatan kolonial.
Budayawan Bali, Prof. I Made Bandem menyinggung, Thomas Stamfford Raffles (1781–1826), dikenal sebagai tokoh penting Inggris di Asia Tenggara. Ia penulis The History of Java, seorang administrator kolonial, sekaligus visioner yang melihat peluang besar dalam perdagangan maritim.
Raffles datang ke Buleleng sekitar tahun 1811, tak lama setelah diangkat sebagai Gubernur Hindia Belanda (1811–1816) saat Inggris mengambil alih Jawa dari Belanda. Ia terpesona dengan posisi strategis Pelabuhan Buleleng—tepat di jantung jalur Nusantara, menghubungkan India, Malaka, dan Cina.
Dalam pikirannya, Buleleng bisa menjadi pelabuhan bebas internasional. Ia bahkan sudah menyiapkan nama, Singapura.
“Kemungkinan seperti itu. Dulu, Buleleng adalah pintu masuk Bali, lewat pelabuhan-pelabuhan yang tersebar,” kata Budayawan Bali, Prof. I Made Bandem, belum lama ini.
Namun, mimpinya berhadapan dengan kenyataan getir. Raja Buleleng, Gusti Gede Karang (1806–1819), mengandalkan perdagangan budak sebagai sumber utama kas kerajaan. Sedangkan Raffles dikenal sebagai penentang keras praktik perbudakan.
Pertentangan ideologi ini menghentikan langkah mereka. Dua visi dunia—kemajuan kolonial ala Barat dan kelangsungan ekonomi tradisional Bali—bertabrakan.
Selain perbedaan ideologi, alam pun seolah menolak mimpi itu. Pada 10 April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa meletus dahsyat. Ledakannya adalah yang terbesar dalam sejarah manusia modern, menewaskan hampir 100 ribu orang. Debu vulkanik menutupi langit, menggelapkan Eropa berbulan-bulan, bahkan memicu apa yang disebut “tahun tanpa musim panas”.
Tak cukup sampai di sana, pada 24 November 1815, gempa besar mengguncang Buleleng, meratakan desa-desa dan menghancurkan pelabuhan.
Bagaimana mungkin membangun pusat perdagangan internasional di tengah bencana sebesar itu?
Raffles akhirnya mundur. Ia lalu beralih ke Temasek, sebuah pulau kecil di ujung Semenanjung Malaya. Tahun 1819, ia mendirikan pos perdagangan yang kelak menjadi Singapura modern.
Seandainya persekutuan politik antara Raffles dan Raja Buleleng tercapai, seandainya Tambora tidak meletus, seandainya gempa tidak mengguncang Buleleng—mungkin Singaraja hari ini bukan sekadar kota kecil di Bali Utara. Bisa saja menjelma menjadi metropolis internasional, dengan pelabuhan raksasa, gedung pencakar langit, dan bandara kelas dunia.
Singapura seperti yang dikenal sekarang, mungkin justru berdiri di Buleleng. Dunia bisa jadi mengenal Bali bukan sebagai pulau pariwisata, melainkan sebagai pusat perdagangan global.
“Wacana-wacana semacam itu, saya pernah mendengar. Tetapi bukti tertulisnya belum saya temukan. Mungkin teman-teman lain pernah menemukan atau bahkan memiliki arsip tentang Singaraja yang pernah dirancang jadi Singapura. Tetapi saya pribadi belum menemukan bukti-bukti itu,” ujar Prof. Bandem.
Namun sejarah memilih jalan lain. Nama Singapura ternyata pernah benar-benar melekat pada Buleleng. Catatan dalam Babad Puri Andul Jembrana menyebut Singaraja dengan nama Singapura. Tidak jelas kapan tepatnya babad itu ditulis, namun diperkirakan sekitar tahun 1850-an.
Almarhum Anak Agung Ngurah Sentanu, penglingsir Puri Ayodya Kalibukbuk, bahkan menyebut keluarganya pernah menerima undangan resmi yang tertulis “Singapura di Buleleng”.
Namun, rakyat menolak nama itu. Mereka lebih suka menyebut kotanya Buleleng. Dalam Bali Handbook, Bill Dalton menulis: nama Singaraja tidak populer. Nama sejati yang hidup di hati rakyat tetaplah Buleleng.
Kini, Pelabuhan Pabean Buleleng tak lagi ramai. Hanya menyisakan dermaga tua, tanpa kapal, dan riak ombak yang datang silih berganti. Dari dermaga itu, orang bisa memandang lurus ke pusat kota Singaraja.
Sulit membayangkan bahwa tempat yang sepi itu pernah direncanakan menjadi pusat perdagangan dunia. Bahwa dari sinilah seorang bocah kecil bernama Ketut Jubeleng diangkut ke Batavia. Bahwa dari dermaga itu pula, Raffles pernah menjejakkan kakinya sambil membayangkan sebuah kota kosmopolitan bernama Singapura.
Raffles punya visi besar. Namun, ia gagal memahami bahwa bagi Raja Buleleng, perdagangan budak bukan sekadar praktik ekonomi, melainkan bagian dari sistem politik dan sosial kerajaan. Ia juga gagal melawan kekuatan Tambora yang meletus dan mengguncang seluruh dunia.
Ambisi kolonial, pada akhirnya, selalu berhadapan dengan realitas lokal. Dan seringkali, sejarah memilih jalan yang tak pernah dibayangkan.
Saat ini, Singapura berdiri sebagai negara kota paling maju di dunia, dengan bandara, pelabuhan, dan ekonomi kelas global. Sementara Buleleng, meski kaya warisan budaya dan sejarah, tetap menjadi kota tenang di utara Bali.
Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan kisah menegangkan. Sejarah dunia hampir saja berbeda. Hampir saja pusat perdagangan Asia Tenggara berdiri di Bali Utara. Hampir saja Singapura bernama Singaraja. ***
Editor : Dian Suryantini