BALIEXPRESS.ID - Hujan deras yang terjadi sejak Selasa (9/9) menyebabkan banjir di Pasar Kerobokan dan Pasar Pengosari, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara.
Banjir yang terjadi Rabu (10/9) dini hari menyebabkan seluruh bangunan pasar terendam air.
Banjir yang terjadi saat ini menjadi yang terparah, sebab ketinggian air mencapai atap kios pasar atau sekitar 4 meter.
Baca Juga: Banjir Melanda Melaya Jembrana, Belasan Rumah Warga Tergenang dan Tembok Pagar Roboh
Berdasarkan hasil pemantauan, sekitar pukul 10.00 Wita petugas melakukan evakuasi mobil yang terperosok masuk ke dalam lubang di depan Koperasi Tri Tunggal Tuka Cabang Kerobokan, Jalan Raya Canggu, Kelurahan Kerobokan, Kuta Utara.
Proses evakuasi sempat tertunda lantaran truk derek tidak dapat mengangkat mobil.
Sementara para pedagang di kedua pasar terlihat mulai menyelamatkan barang-barang yang terseret arus.
Baca Juga: Tragedi Ruko Roboh di Tukad Badung: Kapolsek Denpasar Barat Ungkap Empat Orang Masih Hilang
Salah seorang pedagang di Pasar Kerobokan, Kadek Arta mengatakan, banjir pertama kai diketahui sekitar pukul 04.00 Wita.
Saat itu dirinya sedang mempersiapkan dagangan untuk dijualnya pagi hari. Begitu membuka rollingdor kiosnya air ternyata mulai tinggi.
“Tiba-tiba setengah empat itu udah mulai banjir. Akhirnya kan bangunin anaknya di kos. Sampai di kos sudah sedada airnya” ujar Arta saat ditemui di lokasi.
Baca Juga: Gubernur Koster Turun ke TKP Ruko Roboh di Denpasar, Siapkan Santunan untuk Korban
Dirinya langsung menyelamatkan diri, dan mengecek kondisi keluarganya yang tinggal di sekitar area pasar.
Beruntungnya seluruh keluarganya berhasil selamat.
Pria yang telah berjualan nasi jinggo sejak tahun 2007 ini pun mengaku, banjir ini merupakan yang terparah.
Sebab ketinggian air mencapai atap kios miliknya, yang diperkirakan mencapai 4 meter.
“Ini yang kedua, yang terbesar. Dulu pernah, tapi kecil-kecil lah. Yang sebelum ini, 2018, banjirnya setinggi leher (pria dewasa),” ungkap pria 50 tahun tersebut.
Pria asal Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini pun hanya bisa bersabar atas bencana yang menimpanya.
Dirinya saat ini belum dapat memprediksi kerugian yang dialami.
Terlebih mobil, sepeda motor, alat elektronik dan lainnya terendam banjir.“Kemungkinan sampai ratusan juta, kalau sama mobil. Dulu aja pernah kena banjir hampir Rp 50 juta habis (untuk perbaikan mobil),” imbuhnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga