Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Porprov Bali Jadi Pintu Wahyu Surya ke Kejuaraan Angkat Berat Dunia

Dian Suryantini • Kamis, 11 September 2025 | 21:35 WIB

I Gede Wahyu Surya Wiguna, atlet angkat berat Kontingen Buleleng.
I Gede Wahyu Surya Wiguna, atlet angkat berat Kontingen Buleleng.
 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Atlet andalan Buleleng dalam cabang olahraga angkat berat patut diperhitungkan. Nama I Gede Wahyu Surya Wiguna semakin berkibar di dunia olahraga angkat berat. Lifter 23 tahun asal Buleleng ini bukan hanya diperbincangkan di kancah Bali, tetapi juga nasional bahkan internasional. Beberapa bulan lalu, ia menorehkan sejarah dengan memecahkan rekor dunia pada angkatan deadlift kelas 59 kilogram di ajang Asian African Pacific Powerlifting and Bench Press Championship 2025, dengan catatan luar biasa 276,5 kilogram.

Prestasi itu seolah menjadi pintu besar bagi Wahyu. Namun, di balik semua pencapaiannya, ada strategi realistis yang ia tempuh. Ia menjadikan bonus medali emas Porprov Bali 2025 sebagai modal untuk mengikuti kejuaraan dunia di Dubai tahun depan.

“Memang ini strategi saya, bonus Porprov akan saya gunakan untuk berangkat ke Dubai. Saat ke Jepang kemarin, saya banyak pakai uang pribadi,” ujarnya belum lama ini.

Jalan Wahyu menuju panggung internasional bukan tanpa lika-liku. Sebelum menjadi lifter, ia adalah atlet kempo. Namun, postur tubuhnya yang tidak terlalu tinggi sering membuatnya kalah dari lawan dengan fisik lebih besar. Dari situlah ia sadar, jika bertahan di kempo, perkembangan kariernya akan terbatas. Sekitar lima tahun lalu, ia banting setir ke angkat berat, olahraga yang kini mengangkat namanya.

Keputusan itu terbukti tepat. Tahun 2023 menjadi debutnya di Porprov dengan raihan medali perak. Dua tahun kemudian, di Porprov Bali 2025, ia sukses meningkatkan prestasi dengan merebut emas kelas 59 kilogram.

Wahyu sendiri mengakui, persiapan khusus tidak ia lakukan untuk Porprov tahun ini. Baginya, yang terpenting adalah menjaga kebugaran dan menghindari cedera. Ia bahkan menurunkan target angkatan agar lebih aman.

“Strategi saya sederhana, yang penting bisa menang tanpa cedera,” katanya santai.

Baca Juga: Kisah Emas Kadek Bayu Suteja di Porprov Bali 2025, Latihan Muaythai Sampai Muntah

Menjelang usianya yang ke-24 pada November nanti, Wahyu menargetkan bisa lebih banyak tampil di ajang internasional. Baginya, lifter bukan hanya profesi, tetapi juga jalan hidup. Untuk mendukung cita-citanya, ia pun aktif mengelola media sosial. Kini, akun Instagramnya sudah diikuti lebih dari 69 ribu pengikut.

Dari sana, Wahyu menerima banyak tawaran endorse, bahkan kini ia menjadi brand ambassador salah satu produk nutrisi. Baginya, peluang itu bukan sekadar popularitas, melainkan bagian dari strategi mendukung prestasi. “Semua yang saya lakukan tetap saya fokuskan untuk prestasi sebagai lifter,” tegasnya.

Namun, biaya tetap menjadi tantangan besar. Ia mengungkapkan, tiket pesawat pulang-pergi saja bisa mencapai Rp8,5 juta, belum lagi biaya hidup selama seminggu di luar negeri. Ironisnya, bonus dari kejuaraan dunia justru tidak sebesar Porprov. “Jaket Indonesia saja, itu saya beli sendiri,” keluhnya.

Ketika berlaga di Jepang dan berhasil menang, Wahyu hanya mendapat medali tanpa bonus uang. Padahal, biaya yang ia keluarkan mencapai puluhan juta. Untungnya, ada tambahan dukungan dari Pemkab Buleleng, KONI Buleleng, dan Pabersi Buleleng, meski jumlahnya belum sebanding dengan pengeluaran.

Kondisi itu membuat Wahyu realistis. Ia berharap ada sponsor yang mau membiayainya, sekaligus ingin mendapat kesempatan masuk Pelatnas Angkat Berat. Sebab, sebelum Porprov, banyak godaan datang. Sejumlah kabupaten/kota di Bali menawarkan berbagai fasilitas, bahkan siap membiayai keikutsertaannya di turnamen dunia. Nilai transfer atlet pun sempat menyeruak, mencapai ratusan juta rupiah.

“Sudah seperti bursa transfer, nilainya ratusan juta. Mana mungkin Buleleng mau lepas,” ujarnya.

Olahraga angkat berat memang dikenal mahal dan penuh risiko. Selain latihan intens di gym, kebutuhan nutrisi juga harus berkualitas. Wahyu sendiri mengeluarkan dana sekitar Rp40 juta untuk membangun tempat latihan pribadi di rumahnya. Investasi itu bukan hanya untuk menjaga performa, tetapi juga menjadi sumber konten media sosialnya.

Meski begitu, cedera adalah risiko yang selalu mengintai. Wahyu pernah mengalami cedera lower back (pinggang bawah). Untuk pemulihan, ia menjalani fisioterapi dan mencoba terapi balsem. Tak disangka, metode sederhana itu terbukti efektif.

“Kalau melumuri tubuh dengan balsem itu temuan saya sendiri. Efektif bikin otot panas, jadi cedera bisa berkurang,” katanya.

Wahyu juga berkali-kali menekankan bahwa cita-citanya adalah konsisten bertanding di ajang dunia. Ia ingin datang dengan tim lengkap, seperti yang ia lihat dari kontingen New Zealand di Jepang.

“Kalau datang sendirian memang bisa, tapi rasanya beda. Ini harus dapat dukungan dari banyak pihak,” tegasnya.

Pada Porprov Bali XVI 2025 sendiri, Pabersi Buleleng berhasil menjadi juara umum dengan raihan 4 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Wahyu menyumbang emas pertama pada Sabtu, 6 September 2025. Ia lalu disusul rekan-rekannya: I Made Alit Prawira (perunggu, 66kg putra), Gede Wahyu Rusdiana (emas, 83kg putra), I Kadek Gangga Cahya Ady Negara (perak, 74kg putra), Ni Putu Ratih Weda Sari (perak, 63kg putri), I Komang Budiasa (perunggu, 83kg putra), Ketut Iwan Wardana (emas, 93kg putra), dan Putu Shinta Pramudya Wardani (emas, 69kg+ putri). ***

Editor : Dian Suryantini
#bali #dubai #atlet #angkat berat #jepang #Porprov #Porprov Bali