BALIEXPRESS.ID— Bencana banjir besar melanda sejumlah wilayah di Provinsi Bali sejak Rabu (10/9/2025), menyebabkan kerusakan parah, korban jiwa, serta ribuan warga terdampak.
Hujan lebat yang berlangsung sejak dini hari diduga dipicu oleh fenomena cuaca gelombang ekuatorial Rossby yang memicu pertumbuhan awan konvektif secara masif di wilayah Bali dan sekitarnya.
Baca Juga: Lagi, Budi Arie Kembali Dikritik Warganet Usai Ucapan Terima Kasih ke Diri Sendiri
Menurut penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi ini menyebabkan hujan dengan intensitas ekstrem, hingga mengakibatkan banjir bandang di berbagai titik.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis (11/9/2025) mencatat:
12 orang meninggal dunia
6 orang masih hilang
620 orang terdampak langsung
123 titik banjir, tersebar di:
Baca Juga: Warga Keluhkan Penataan Parkir di Pasar Umum Kusamba dalam Jumat Curhat Polres Klungkung
Denpasar (81 titik)
Gianyar (14)
Karangasem (4)
Jembrana, Badung, dan Tabanan
18 titik longsor
16 bangunan rusak berat akibat terjangan banjir
193 orang mengungsi, terbanyak di:
Denpasar (108 orang)
Jembrana (85 orang)
Enam kabupaten/kota paling terdampak adalah:
Kota Denpasar
Kabupaten Jembrana
Kabupaten Gianyar
Kabupaten Klungkung
Kabupaten Badung
Kabupaten Tabanan
Baca Juga: BPBD Tabanan Catat 33 Titik Bencana Akibat Hujan Dua Hari, Kerugian Capai Rp1 Miliar
Denpasar dan Jembrana menjadi wilayah dengan jumlah kerusakan dan pengungsi terbanyak, termasuk rumah-rumah warga yang terendam, infrastruktur publik lumpuh, serta rumah toko yang roboh akibat erosi sungai.
Gubernur Bali telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 7 hari ke depan untuk mempermudah penanganan darurat dan penyaluran bantuan logistik.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto langsung meninjau lokasi banjir dan memimpin rapat koordinasi bersama Pemprov Bali. Ia memastikan bahwa sungai-sungai yang sempat meluap kini mulai surut, namun penanganan tetap harus siaga.
“Pak Gubernur malam ini sudah tanda tangan, tadinya sempat direncanakan dua minggu, tetapi diralat menjadi satu minggu,” kata Suharyanto, dikutip dari Antaranews.
Tim gabungan dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, serta relawan—dengan kekuatan personel sekitar 400–600 orang—masih berjibaku di lapangan untuk:
Melakukan pencarian terhadap korban hilang
Membersihkan puing-puing banjir dan lumpur
Menyalurkan bantuan logistik dan obat-obatan
Mendirikan tenda-tenda darurat bagi pengungsi
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada karena kondisi cuaca ekstrem diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini untuk wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian wilayah Jawa Timur.
Editor : Wiwin Meliana