Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Pilu Dadong Belong, Pedagang Rempah Pasar Kumbasari yang Direnggut Banjir Bandang

I Gede Paramasutha • Jumat, 12 September 2025 | 22:24 WIB
Kondisi Pasar Kumbasari tempat Dadong Belong berjualan, tampak tembok pembatas dengan sungai jebol, hingga dipenuhi lumpur. (Bali Express/Agung Bayu)
Kondisi Pasar Kumbasari tempat Dadong Belong berjualan, tampak tembok pembatas dengan sungai jebol, hingga dipenuhi lumpur. (Bali Express/Agung Bayu)

BALIEXPRESS.ID – Puluhan tahun lamanya Ni Ketut Sari mengais rejeki di Pasar Kumbasari. Berbagai masa telah ia lewati. Kini, senyumnya tak lagi menghiasi tempat masyarakat melakukan transaksi jual beli di Denpasar itu.

Dadong Belong, begitu sapaan akrabnya. Nenek berusia 70 tahun yang sehari-harinya berdagang bumbu dan rempah-rempah tersebut direnggut oleh banjir bandang akibat luapan Tukad Badung, pada Rabu (10/9).

Jenazah Dadong Belong ditemukan sehari kemudian di Sungai Taman Pancing, Denpasar, setelah sebelumnya dinyatakan hilang. Kematian pedagang tua itu menyisakan duka mendalam bagi keluarga.

Bu Adit, menantunya, menuturkan bahwa biasanya Dadong Belong ikut pulang kampung ke Karangasem menjelang upacara piodalan. Namun kali ini berbeda.

“Tumben tak mau ikut pulang, katanya nanti saja pas odalan pulang,” ungkapnya lirih, ditemui di rumahnya kawasan Pemecutan Kelod, Denpasar Barat, Jumat (12/9).

Sang nenek pun tetap memilih berjualan di Pasar Kumbasari. Seperti biasanya, sejak pukul 01.00 dini hari, korban sudah mulai mempersiapkan barang dagangan.

Posisinya berjualan dekat dengan tembok pembatas bantaran Tukad Badung. Singkat cerita, Bu Adit menerima telepon dari anaknya, yang menyampaikan rumah mereka dilanda banjir setinggi dada orang dewasa.

Sedangkan sang nenek belum pulang dari pasar. Bu Adit mulai cemas dan memutuskan kembali ke Denpasar. Lalu, ia dan suaminya mencari sang mertua.

Kabar yang sempat melegakan datang dari orang-orang pasar. Mereka menyebut Dadong Belong mungkin sudah naik ke lantai dua bersama pedagang lain untuk menyelamatkan diri.

Sehingga, keluarga bisa sedikit tenang, walaupun belum bisa bertemu dengan korban. Namun ketenangan itu buyar.

Orang yang dikira bersama sang nenek, ternyata tidak mengetahui keberadaannya. Hingga kemudian ada pedagang pasar yang mengaku melihat Dadong Belong justru ditelan banjir.

Awalnya korban disebut sempat berusaha menyelamatkan barang dagangannya. Lantaran, mengira banjir kali ini sama saja seperti sebelum-sebelumnya.

"Mungkin mertua saya mengira tak jauh berbeda dari banjir-banjir sebelumnya yang sering terjadi, makannya masih sempat pindah-pindahkan barang agar tidak terkena air yang naik," tuturnya.

Namun, banjir kali ini berbeda. Debit air Tukad Badung sangat deras dan tinggi, seolah meneriakkan mara bahaya. Air bah menerjang tembok pembatas sampai jebol. Saksi mata melihat Dadong Belong dengan kaki rentanya tidak bisa menjauh.

“Kata pedagang yang berusaha menyelamatkan diri saat kejadian, air sudah setinggi leher mertua saya, tangannya melambai-lambai minta tolong. Tapi tak ada yang bisa menolong,” tandas Bu Adit. Detik berikutnya, tubuh Dadong Belong tak terlihat lagi.

Keluarga pun melaporkan kehilangan itu ke pihak berwenang. Pada Kamis (11/9), Tim SAR Gabungan menemukan jasad seorang wanita tua di Sungai Taman Pancing.

Mulanya, petugas belum mengetahui identitas korban dan mencatatnya sebagai Mrs X. Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUP Prof Dr IGNG Ngoerah Denpasar.

Kabar itu sampai ke telinga keluarga. Anak Dadong Belong mendatangi rumah sakit, dan memastikan jenazah itu benar sang ibu.

Kini, keluarga tengah mengurus kepulangan jenazahnya ke kampung halaman di Karangasem. Rencananya, nenek yang sepanjang hidupnya setia mengais rejeki dari jualan bumbu itu akan dikremasi. (*)

Editor : I Gede Paramasutha
#Pasar Kumbasari #Dadong Belong #banjir