BALIEXPRESS.ID– Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara bukan hanya tentang menambah jalur penerbangan. Lebih jauh, proyek raksasa senilai Rp50 triliun ini diproyeksikan menjadi motor penggerak baru bagi perekonomian Bali, khususnya di wilayah utara yang selama ini tertinggal dari selatan.
Harapan besar itu semakin terasa setelah PT BIBU Panji Sakti menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan dua BUMN strategis yakni PT LEN Industri (Persero) dan PT Dirgantara Indonesia. Kerja sama ini memastikan dukungan teknologi, rekayasa, dan perencanaan yang matang dalam membangun bandara berkelas dunia di pesisir Kubutambahan, Buleleng.
Baca Juga: Penjaringan Ketua DPD PDIP Bali di Klungkung, Tiga Nama Mengemuka, Giri Prasta Digadang yang Terkuat
Nilai investasi Rp50 triliun tanpa mengandalkan APBN jelas bukan angka kecil. Anggaran sebesar itu akan berputar di banyak sektor yang meliputi konstruksi, jasa, transportasi, hingga penyediaan bahan bangunan. Diperkirakan lebih dari 200 ribu tenaga kerja akan terserap langsung maupun tidak langsung selama pembangunan dan operasional.
“Bandara ini akan menutup kesenjangan ekonomi antara Bali Selatan dan Bali Utara. Selama ini warga utara banyak bergantung pada lapangan kerja di selatan. Kini kesempatan itu hadir di rumah sendiri,” ujar tokoh masyarakat Buleleng, Nyoman Shuida, Senin (15/9).
Selain menciptakan lapangan kerja, bandara juga akan mempercepat distribusi barang. Produk pertanian Bali Utara seperti kopi, cengkih, dan buah-buahan tropis akan lebih mudah menembus pasar nasional maupun internasional. Biaya logistik diprediksi turun signifikan karena tidak lagi harus melalui Bandara Ngurah Rai di Denpasar.
Bali Utara yang kaya dengan panorama laut, air terjun, dan kekayaan budaya, selama ini masih kalah pamor dari Bali Selatan. Salah satu sebab utamanya adalah akses transportasi.
Wisatawan mancanegara harus menempuh perjalanan darat 3–4 jam dari Bandara Ngurah Rai untuk mencapai Buleleng.
Dengan hadirnya bandara di Kubutambahan, perjalanan itu akan dipangkas drastis. Wisatawan bisa langsung mendarat di pusat Bali Utara. Efeknya jelas: jumlah kunjungan meningkat, lama tinggal wisatawan bertambah, dan belanja wisata pun lebih besar.
“Ini bukan hanya menambah aksesibilitas, tapi juga menaikkan kelas pariwisata Bali Utara. Hotel, restoran, dan destinasi wisata akan mendapat limpahan manfaat,” kata CEO PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko.
Baca Juga: Satu Keluarga Korban Banjir Belum Ditemukan di Mengwi, Desa Adat Gelar Upacara Guru Piduka
Bandara juga diprediksi menghidupkan ekonomi rakyat kecil. UMKM lokal yang bergerak di kerajinan tangan, kuliner, dan oleh-oleh khas Bali Utara akan mendapat akses pasar yang lebih luas. Tidak hanya di terminal bandara, tapi juga di kawasan aerocity dan aerotropolis yang akan dikembangkan bersamaan dengan bandara.
Pusat-pusat ekonomi baru akan tumbuh di sekitar Kubutambahan. Mulai dari usaha penginapan, jasa transportasi lokal, hingga perdagangan bahan pangan. Inilah yang disebut sebagai efek multiplier dari proyek strategis berskala besar.
Tak bisa dipungkiri, kehadiran bandara juga akan memicu percepatan pembangunan infrastruktur pendukung. Jalan raya, jaringan listrik, telekomunikasi, hingga fasilitas publik lainnya akan ditingkatkan. Nilai lahan di sekitar Kubutambahan diperkirakan naik signifikan, menciptakan peluang investasi baru.
Baca Juga: Sama-sama Kuat, Gung Anom dan Suwirta Bakal Tarung Rebut Kursi Ketua DPC PDIP Klungkung
“Bandara ini bukan sekadar proyek transportasi, melainkan katalis pembangunan ekonomi daerah. Bali Utara akan tumbuh menjadi simpul baru ekonomi Bali, bahkan Indonesia,” ujar Penglingsir Puri Agung Singaraja, AA Ngurah Ugrasena.
Bandara Internasional Bali Utara telah masuk RPJMN 2025–2029 dan ditetapkan Presiden Prabowo melalui Perpres No. 12/2025. Lokasi proyek juga sudah sesuai dengan Perda RTRW Kabupaten Buleleng. Dengan fondasi hukum dan politik yang kuat, peluang realisasi proyek ini jauh lebih besar dibandingkan wacana-wacana sebelumnya.
Bagi masyarakat Bali Utara, bandara ini adalah simbol pemerataan pembangunan. Selama puluhan tahun, mereka hanya menjadi penonton dari pesatnya pertumbuhan ekonomi di selatan. Kini, dengan hadirnya bandara, peluang kerja, usaha, dan peningkatan taraf hidup semakin terbuka. (dhi)
Editor : Wiwin Meliana