BALIEXPRESS.ID – Produksi garam tradisional Amed di Karangasem tengah menghadapi tantangan besar akibat cuaca yang tak menentu.
Hujan yang masih kerap turun di tengah musim kemarau membuat proses produksi terganggu dan kualitas garam menurun drastis.
Ketua Komunitas Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Garam Amed, I Nengah Suanda, menyebut para petani masih tetap menjalankan proses produksi, meski hasilnya jauh dari harapan.
Cuaca mendung dan hujan gerimis yang datang tiba-tiba membuat garam yang sudah diproses jadi kotor dan tak layak jual. “Cuaca tidak menentu, sering hujan. Ini membuat garam jadi rusak dan kualitasnya turun. Padahal sekarang seharusnya sudah masuk masa produksi penuh,” jelas Suanda, Kamis (18/9/2025).
Akibatnya, sebagian besar petani terpaksa mendaur ulang garam yang sudah tercemar hujan agar bisa diproses ulang dan dijual dengan mutu lebih baik. Sampai saat ini, belum ada petani yang bisa menyetor hasil produksinya karena belum memenuhi standar garam Amed yang dikenal berkualitas tinggi.
Biasanya, masa produksi garam berlangsung dari Agustus hingga November. Namun hingga pertengahan September, cuaca di wilayah Amed—khususnya Desa Purwakerti dan Bunutan—masih belum cukup mendukung untuk produksi maksimal.
“Kami bersyukur intensitas hujan di sini tidak separah daerah lain, tapi tetap saja produksi terganggu. Empat hari terakhir memang tidak hujan, jadi petani masih berusaha tetap produksi,” tambahnya.
Suanda memperkirakan, produksi garam Amed tahun ini akan turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Normalnya, satu petani bisa menghasilkan sekitar 1,2 ton selama musim produksi, dengan total produksi komunitas mencapai sekitar 25 ton. Namun dalam kondisi cuaca seperti sekarang, capaian itu tampaknya sulit diraih.
“Kalau bisa tembus satu ton per petani saja tahun ini, sudah sangat bagus. Tapi kami tetap berharap cuaca kembali cerah dalam waktu dekat,” ujarnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana