Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kasus Penyakit Kritis Meningkat di Usia Produktif, Perlu Proteksi Sejak Dini

Rika Riyanti • Jumat, 19 September 2025 | 04:40 WIB

 

DETEKSI DINI: Edhi Tjahja Negara, President Director PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk (Zurich), bersama Tulsi Naidu, CEO APAC Zurich Insurance Group, dan Honggo Widjojo Kangmasto, serta jajaran
DETEKSI DINI: Edhi Tjahja Negara, President Director PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk (Zurich), bersama Tulsi Naidu, CEO APAC Zurich Insurance Group, dan Honggo Widjojo Kangmasto, serta jajaran

 

 

BALIEXPRESS.ID – Kasus penyakit kritis di Indonesia menunjukkan tren kenaikan signifikan.

Data Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P) Kementerian Kesehatan RI mencatat, pada 2023 jumlah kasus meningkat hingga 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penyakit jantung menjadi penyumbang prevalensi tertinggi.

Kondisi ini menjadi peringatan bahwa ancaman penyakit kritis tidak hanya menyasar kelompok usia lanjut, tetapi juga masyarakat usia produktif yang tengah berada di puncak karier.

Baca Juga: Pesan Berantai “Wajib Iuran” ASN Pemprov Bali, Dirut RS Bali Mandara Sebut Tak Ada yang Dibebani

Di saat yang sama, Indonesia tengah menuju bonus demografi pada 2030–2035, ketika sebagian besar penduduk berusia 15–64 tahun.

Momentum ini bisa menjadi peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi, namun hanya bisa dimanfaatkan optimal bila faktor kesehatan dan finansial terjaga.

Miressa Moravia, Head of Bancassurance & Group Collaboration PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, menegaskan risiko penyakit kritis kini semakin dekat dengan kelompok usia muda dan aktif.

“Di era yang dinamis ini, masyarakat usia produktif semakin rentan terhadap risiko penyakit kritis. Oleh karena itu, Perlindungan Optimal Penyakit Kritis kami hadirkan sebagai solusi yang menyediakan perlindungan yang komprehensif, terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat yang aktif dan dinamis,” ujarnya, Kamis (18/9).

Baca Juga: Produksi Garam Amed Terhambat Cuaca, Petani Diprediksi Gagal Capai Target

Program ini difasilitasi melalui kanal perbankan, sehingga akses bagi masyarakat menjadi lebih mudah.

Ivan Jaya, Consumer Funding & Wealth Business Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk, menekankan pentingnya integrasi antara layanan finansial dan kesehatan.

“Salah satu wujud komitmen kami sebagai satu grup finansial adalah terus berinovasi dan menjadi penyedia solusi finansial untuk membantu memenuhi kebutuhan nasabah kami. Kami meyakini bahwa kebutuhan akan perlindungan kesehatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan finansial. Berkolaborasi dengan Zurich memberikan kesempatan bagi kami untuk menghadirkan solusi perlindungan yang terintegrasi dengan layanan finansial nasabah untuk mencapai mimpi-mimpi besar yang bebas dari hambatan kendala kesehatan,” jelasnya.

Selebriti Shahnaz Haque yang hadir dalam peluncuran program ini juga menyoroti dampak nyata penyakit kritis di tengah keluarga.

Baca Juga: Sekda Bali Buka Suara soal Donasi ASN untuk Korban Banjir: Sukarela dan Semangat Gotong Royong

“Pengalaman pribadi saya membuka mata bahwa risiko penyakit kritis bisa datang tanpa diduga, bahkan di usia yang masih produktif. Biaya pengobatan yang besar, mulai dari konsultasi dokter hingga terapi lanjutan, dapat menguras emosi dan finansial. Oleh karena itu, menurut saya, memiliki perlindungan yang tepat, seperti asuransi penyakit kritis, sudah menjadi suatu kebutuhan yang wajib disiapkan,” ungkapnya.

Produk Perlindungan Optimal Penyakit Kritis ini memberikan manfaat perlindungan hingga Rp1 miliar dengan premi mulai Rp250 ribu per bulan.

Nasabah mendapatkan perlindungan terhadap 34 penyakit kritis, mulai dari tahap awal hingga terminal, serta fasilitas tambahan seperti second medical opinion, double claim, dan pengembalian premi 25 persen jika tidak ada klaim dalam dua tahun.(***)

Editor : Rika Riyanti
#Danamon #Penyakit #zurich #kritis