BALIEXPRESS.ID - Fotografer muda berbakat asal Legian, I Komang Andika Darmawan, kembali menunjukkan karya yang sarat makna lewat pameran foto bertajuk “Gurat Senja”.
Melalui serangkaian potret yang terpajang di Sudakara ArtSpace, ia menghadirkan refleksi kehidupan yang berangkat dari peristiwa sederhana hingga menyentuh kisah mendalam.
Adapun pameran foto ini dibuka pada Kamis (18/9).
Inspirasi karya ini bermula dari ketertarikan Andika menangkap suasana sore hari.
Baca Juga: Anggota Polisi di Sinjai Bantah Biarkan Anaknya Pukuli Guru: Saya Justru Melerai
Namun, pencariannya justru mempertemukannya dengan sosok bocah bermata biru yang masih duduk di bangku sekolah.
Dari anak itu, ia menemukan jalan menuju kisah hidup seorang nenek berusia 107 tahun yang tinggal di desa yang sama.
Pada suatu subuh, saat ia kembali ke desa tersebut untuk memotret sang bocah, Andika tanpa disangka bertemu dengan sang nenek.
Dalam perjumpaan penuh kebetulan itu, perempuan renta tersebut duduk tenang, seolah siap menghadapi kamera.
Baca Juga: Pasca Banjir, Jalan Raya Canggu Masih Ditutup: Perbaikan Mulai Dikerjakan
Meski awalnya menolak karena takut “terkenal”, kehadirannya meninggalkan kesan begitu dalam.
Tak lama setelah momen itu, sang nenek berpulang.
Foto-foto yang sempat diabadikan Andika kini menjadi saksi bisu terakhir perjalanan hidupnya.
Melalui “Gurat Senja”, Andika ingin menunjukkan bahwa seni fotografi bukan hanya soal menangkap keindahan fisik.
Baca Juga: ASDP Luncurkan Layanan B2B Distribusi Logistik B3 dengan Jalur Khusus
Guratan wajah, keriput, dan urat-urat tubuh yang menua justru merekam kisah panjang tentang kerja keras, perjuangan, dan ketabahan manusia dalam menjalani hidup.
Fotografer senior Darwis Triadi menilai karya Andika memiliki kekuatan yang khas.
“Foto-foto Andika memancarkan energi sebuah pendalaman. Sebuah potret tidak hanya soal teknis, melainkan juga dialog energi antara fotografer dan subjek. Dari situ lahir karya yang punya ruh,” ujarnya.
Harapan serupa juga disampaikan Andika agar publik bisa melihat seni sebagai refleksi kehidupan.
Baca Juga: Bencana Belum Berakhir, Hujan Deras Sebabkan Bangunan Warga Jebol dan Pura Dalem Dawan Roboh
“Melalui pameran Gurat Senja, saya ingin masyarakat menyadari bahwa setiap gurat wajah tua menyimpan pelajaran yang tak ternilai,” ungkapnya.
Ruang pameran ini juga diharapkan mampu menjadi medium pertemuan gagasan antara karya, seniman, dan publik.
“Sebagai wadah seni yang konsisten memberi ruang ekspresi, kami berharap pameran ini dapat membuka ruang dialog antara seniman, penikmat seni, dan masyarakat luas,” jelas Ricky.(***)
Editor : Rika Riyanti