Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hutan Lindung di Desa Ambengan Diduga Dibabat Oknum

Dian Suryantini • Selasa, 7 Oktober 2025 | 01:35 WIB

Tangkapan layar video Nengah Setiawan yang berbincang dengan petugas kehutanan Buleleng.
Tangkapan layar video Nengah Setiawan yang berbincang dengan petugas kehutanan Buleleng.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS  - Hutan Lindung yang terletak di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada dikabarkan terbabat. Sebuah kabar disampaikan lewat video Nengah Setiawan, salah satu warga Buleleng. Nengah Setiawan menyebut, kondisi hutan di Desa Ambengan terlihat mulai dibabat. Kondisi itu ia katakan sangat terlihat jelas dari Dusun Pumahan Desa Gitgit. Dengan lantang ia menyuarakan agar kinerja Dinas Kehutanan atau pihak terkait melakukan tindakan atas kondisi hutan desa itu. Video Nengah Setiawan pun diunggah pada pukul 18.39 wita pada Minggu (5/10). 

“Om swastyastu, Semeton. Sekarang saya tepat berada di Dusun Pumahan, Desa Gitgit. Coba lihat, hutan lindung kembali dibabat. Sangat terlihat dari jalan Singaraja-Denpasar. Dari pinggir jalan Singaraja-Denpasar sangat kelihatan. Hutan lindung terletak di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada. Bagaimana itu, petugas kehutanan Bali Utara. Tolong itu tindak agar tidak habis hutan di Singaraja. Nanti bisa kekeringan,” begitu ungkap Nengah Setiawan via video tersebut.

Video selanjutnya diunggah pada Senin (6/10) pagi. Pada video itu terjadi percakapan antara Nengah Setiawan dan pegawai Dinas Kehutanan. Nengah Setiawan meminta agar petugas kehutanan mengecek langsung ke lokasi dan melihat kondisi hutan. Sementara itu, petugas kehutanan yang mendatangi rumah Nengah Setiawan mengaku telah mengecek ke lokasi. 

Baca Juga: Setubuhi Putrinya Berkali-kali, Ayah di Buleleng Masuk Bui

Pada video itu, petugas mendukung upaya Nengah Setiawan menyuarakan kelestarian hutan. Hanya saja, petugas kehutanan yang mendatangi rumah Nengah Setiawan itu, meminta agar Setiawan mengajak petugas untuk melihat langsung kondisi hutan. Sehingga video yang dipublikasikan tidak terkesan seperti sebuah konten media sosial.

“Jangan datang sendirian. Cari petugas kehutanan, lalu katakan kondisi hutannya seperti apa. Mari bersama-sama menangani ini. Jangan memviralkan seperti ini. Artinya, untuk edukasi ke masyarakat itu supaya benar dan tidak keliru. Itu baru top Pak Nengah,” ujar salah satu petugas.

Pernyataan itu langsung disanggah Nengah Setiawan. “Saya tanya kepada Ajik (Bapak). Hutan di Sambangan waktu itu rimbun. Sekarang tidak lagi. Siapa yang mengijinkan itu menebang?” sergahnya.

Petugas lainnya turut menimpali dengan mengatakan bahwa pohon yang ditebang itu akan diganti dengan bibit baru, sebab pohon itu sudah tua. Penebangan pohon itu bukan untuk dicuri. “Kalau dicuri, kayunya ditinggalkan lalu dikomersilkan,” kata petugas itu.

“Buktinya kayunya masih ada disana,” jawab Nengah Setiawan.

“Karena tidak boleh dikeluarkan langsung,” petugas kehutanan kembali menjawab dengan cepat.

Menurut Nengah Setiawan, ia tidak bermaksud untuk membuat kegaduhan. Ia murni ingin mengetahui kondisi hutan dengan pohon-pohon yang ditebang. Ia pun menyampaikan pohon-pohon dengan ukuran besar tidak mungkin tumbang tiba-tiba. Menurut penglihatannya, beberapa batang pohon itu, sengaja dilukai pada bagian batang sehingga perlahan pohon tersebut mati. "Memangnya ada pohon bisa melukai batangnya sendiri? Kan tidak," kata dia.

Kedatangan petugas kehutana ke rumah Nengah Setiawan itu dituding melakukan intimidasi terhadap masyarakat. "Kalau begitu lihat hutannya. Kan petugas kehutanan. Buat apa ke sini (rumah saya)? Ini intimidasi namanya. Kok tidak dikontrol ke sana?" kata warga lainnya. ***

Editor : Dian Suryantini
#hutan #Minggu #hutan lindung #desa ambengan #gitgit #kekeringan