Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dari Gulma Jadi Berkah, Dosen Undiksha Ciptakan Pupuk dan Pestisida Ramah Lingkungan di Jagaraga

Dian Suryantini • Selasa, 14 Oktober 2025 | 16:41 WIB

Dosen Undiksha ciptakan pupuk dan pestisida nabati ramah lingkungan
Dosen Undiksha ciptakan pupuk dan pestisida nabati ramah lingkungan

 

SINGARAJABALI EXPRESS – Dunia pertanian kembali mendapat angin segar dari kampus Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Sekelompok dosen lintas bidang berhasil menciptakan inovasi pupuk dan pestisida berbahan alami yang bukan hanya ramah lingkungan, tapi juga memanfaatkan potensi lokal yang selama ini terabaikan.

Inovasi ini lahir dari program Desa Binaan Undiksha di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng, yang melibatkan para akademisi dari berbagai disiplin ilmu. Mereka adalah Prof. Dr. rer.nat. I Wayan Karyasa, M.Sc., Prof. I Wayan Mudianta, S.Pd., M.Phil., Ph.D., Dr. rer.nat. I Gusti Ngurah Agung Suryaputra, S.T., M.Sc., I Gede Putu Banu Astawa, S.T., M.Ak., dan Qonita Awliya Hanif, M.Si.

Dari kolaborasi ini, lahirlah pupuk organik bernama L2Nano, hasil riset berbasis arang sekam yang diolah dengan teknologi nano. Pupuk ini diklaim mampu memperkuat batang tanaman, terutama padi, agar tidak mudah rebah saat musim hujan. Selain itu, L2Nano juga mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang selama ini membuat biaya produksi membengkak dan tanah kehilangan kesuburannya.

“L2Nano ini bekerja dengan sistem slow release, jadi nutrisi dilepaskan perlahan dan diserap maksimal oleh tanaman. Artinya, pemupukan jadi lebih efisien dan lahan tetap terjaga kesuburannya,” jelas ketua tim inovator, Prof. I Wayan Karyasa, Selasa (14/10).

Baca Juga: 278 Sapi Bertolak dari Pelabuhan Celukan Bawang ke Kalimantan

Tak berhenti di situ, tim Undiksha juga menghadirkan pestisida nabati berbahan gulma — tanaman liar yang biasanya dianggap musuh petani. Melalui pendekatan inovatif, gulma ini diolah menjadi pestisida ramah lingkungan yang dikombinasikan dengan biostimulan, sehingga tidak hanya membasmi hama, tapi juga memperkuat daya tahan tanaman.

“Kami ingin mengubah masalah jadi solusi. Gulma yang selama ini dianggap pengganggu, sekarang justru jadi pelindung tanaman,” tambahnya.

Produk-produk ini sudah diuji langsung di lahan petani Desa Jagaraga. Hasilnya? Menakjubkan. Seorang petani bernama Putu Widianya mengaku panennya meningkat hingga 25 persen setelah menggunakan pupuk dan pestisida tersebut.

“Pertumbuhannya bagus, buahnya lebih banyak, dan biaya produksi menurun karena tidak perlu beli pupuk kimia lagi,” katanya.

Perbekel Jagaraga, Nyoman Parta, pun tak menutup mata terhadap potensi besar inovasi ini. Ia berencana memperluas uji coba dan menjadikannya bagian dari program ekonomi desa melalui BUMDes.

“Bahan bakunya melimpah di desa ini. Kalau dikembangkan dengan baik, bisa jadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat,” ujarnya optimistis.

Kepala LPPM Undiksha, Prof. Dr. I Gusti Agung Lanang Parwata, M.Kes., menyebut program ini sebagai contoh nyata konsep Kampus Berdampak.

“Undiksha hadir bukan hanya untuk belajar di ruang kelas, tapi juga memberi solusi nyata di lapangan. Ini bentuk Diktisaintek Berdampak — riset yang menyentuh langsung persoalan petani,” tegasnya.

Dengan menggabungkan keilmuan, kearifan lokal, dan teknologi, inovasi L2Nano dan pestisida nabati ini bukan sekadar temuan laboratorium. Ia menjadi simbol harapan baru bagi pertanian desa lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan. ***

Editor : Dian Suryantini
#Jagaraga #undiksha #pupuk #pestisida #pupuk kimia