BALIEXPRESS.ID – Misteri kematian mahasiswa Universitas Udayana (Unud), Timothy Anugerah Saputra, 22, masih menyisakan tanda tanya besar bagi pihak keluarga.
Walaupun santer dugaan b*nuh diri, Ayah korban, Lukas Triana Putra, tetap mendatangi Polresta Denpasar, Sabtu (18/10), untuk mencari kebenaran penyebab pasti kematian anaknya.
Timothy, mahasiswa semester VII Jurusan Sosiologi FISIP Unud, ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari lantai empat gedung kampusnya di Jalan PB Sudirman, Denpasar Barat, pada Rabu (15/10).
Peristiwa tragis itu memunculkan dugaan bahwa korban sempat mengalami perundungan (bullying) dari sesama mahasiswa.
Bahkan setelah kematiannya, beredar tangkapan layar grup WhatsApp yang berisi ejekan terhadap korban.
Namun, bagi Lukas, dugaan-dugaan itu belum bisa dijadikan kesimpulan. Ia menegaskan bahwa dirinya ingin mencari kebenaran pasti mengenai kronologi kematian sang anak.
“Saya laporkan kematiannya, saya cari tahu kebenarannya. Apakah anak saya benar bunuh diri, apakah kecelakaan, atau ada unsur lain. Karena selama ini, kronologinya masih simpang siur,” ujar Lukas usai melapor di Polresta Denpasar.
Lukas juga menyampaikan bahwa informasi dari pihak kampus masih berubah-ubah dan belum memberikan penjelasan yang pasti.
Ia mengaku sudah mendatangi lokasi kejadian untuk melihat langsung tempat anaknya ditemukan.
“Saya sudah lihat ke lokasi. Saya laporkan kematian anak saya agar diusut dengan jelas penyebabnya. Apakah jatuh dari lantai dua, lantai tiga atau lantai empat, biarlah polisi yang menjelaskan,” imbuhnya.
Saat ditanya mengenai komunikasi dengan kornan, Lukas mengaku tidak mengetahui banyak tentang kondisi psikologis maupun masalah yang mungkin dihadapi Timothy.
“Kami tidak ada komunikasi, karena dia kuliah di Bali. Saya tidak tahu seperti apa keadaannya. Karena itu saya serahkan sepenuhnya kepada pihak berwenang,” katanya.
Menanggapi permintaan maaf sejumlah mahasiswa yang disebut-sebut melakukan perundungan terhadap Timothy, Lukas justru memilih tak campur tangan.
Ia menilai, persoalan tersebut sebaiknya diselesaikan di tingkat kampus.
“Itu biarkan pihak kampus yang menentukan. Saya tidak mau membawa ke ranah pidana. Saya tahu bagaimana rasanya jadi orang tua kalau anaknya dibegitukan, kasihan juga orang tuanya, jadi biarkan pihak kampus yang menentukan,” ucapnya.
Lukas berharap, penyelidikan yang dilakukan kepolisian dapat mengungkap penyebab pasti kematian Timothy, sehingga keluarga mendapat kejelasan dan keadilan.
“Saya tidak mau berasumsi macam-macam. Biarlah polisi yang menyelidiki, supaya kami tahu benar apa yang sebenarnya terjadi,” tutupnya. (*)
Editor : I Gede Paramasutha