BALIEXPRESS.ID - Inovasi pengelolaan sampah di Desa Mendoyo Dangin Tukad, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, tak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi warga berupa pupuk kompos.
Melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Bhuwana Resik, sampah organik diubah menjadi pupuk yang kemudian didistribusikan kembali kepada masyarakat untuk dimanfaatkan di kebun.
Ketua Pengurus TPS3R Bhuwana Resik, I Ketut Welyana (66), menjelaskan bahwa fasilitas tersebut mulai beroperasi sejak tahun 2023 dan resmi definitif pada Januari 2024 sebagai program bantuan dari Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kementerian PUPR.
Baca Juga: DPRD Buleleng Kawal Penataan OPD, Mutasi ASN Dipastikan Profesional dan Transparan
“Saat ini TPS3R melayani 250 kepala keluarga (KK) dari empat banjar di Desa Mendoyo Dangin Tukad. Sistem pengangkutan dilakukan bergiliran, satu banjar setiap hari,” ungkap Welyana saat ditemui, Senin (20/10).
Menurutnya, setiap hari rata-rata satu ton sampah masuk ke TPS3R. Dari jumlah itu, sampah organik diolah menjadi pupuk kompos dan dibagikan kembali kepada warga. Sementara sampah plastik dan pecah belah dijual, dan hasil penjualannya dimasukkan ke dana cadangan operasional guna mendukung keberlanjutan kegiatan pengelolaan.
Baca Juga: Tujuh Hari Tak Ada Hasil, Tim Gabungan Akhiri Operasi Pencarian Spearfisher Hilang di Nusa Penida
Adapun jenis sampah yang tidak bisa diolah, seperti ban bekas dan kayu, dikirim ke TPA Peh di Desa Kaliakah sebanyak dua kali dalam seminggu.
TPS3R Bhuwana Resik saat ini memiliki 8 tenaga kerja, terdiri atas 3 pengurus dan 5 pekerja lapangan. Para pekerja menerima upah tetap Rp1,5 juta per bulan, sedangkan pengurus memperoleh honor bervariasi sesuai tanggung jawabnya.
Baca Juga: 106 Sertifikat Caplok Lahan Tahura, Kejati Bali Naikan Penyidikan Dugaan Korupsi, Siap Upaya Paksa
Fasilitas ini berdiri di atas lahan seluas 6 are dengan bangunan utama berukuran sekitar 20 x 10 meter. Dengan sistem yang melibatkan partisipasi masyarakat, TPS3R Bhuwana Resik diharapkan menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat desa di mana sampah tidak lagi menjadi masalah, melainkan sumber manfaat dan nilai tambah bagi warga.
Meski program ini berjalan baik, Welyana mengakui masih ada sejumlah kendala, terutama keterbatasan armada pengangkut dan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah.
“Kami hanya punya satu kendaraan viar, jadi sering kewalahan. Kalau bisa, kami harap ada tambahan satu lagi. Selain itu, masyarakat juga diharapkan lebih sadar memilah sampah agar proses pengolahan lebih mudah dan hasil kompos bisa lebih banyak,” pungkasnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana