SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di bawah bendera kelompok Sari Algae, Ketut Agus Winaya mengubah kolam kecil menjadi laboratorium alami yang menumbuhkan sumber protein tinggi dari air laut. Ia membudidayakan spirulina.
“Spirulina mulai kami budidayakan tahun 2023, bekerja sama dengan Bumdes Segara Desa Les. Ini sebenarnya alga laut yang juga menjadi sumber omega 3 bagi ikan. Jadi kami berpikir, kalau bagus untuk ikan, kenapa tidak untuk manusia juga?” ujarnya.
Gagasan itu muncul bukan semata karena peluang ekonomi, melainkan karena kegelisahan sosial. Desa Les, seperti banyak wilayah lain di Indonesia, menghadapi persoalan stunting yang cukup memprihatinkan. Dari sanalah muncul niat untuk mencari solusi alami dan berkelanjutan.
“Kami ingin membantu desa dalam penanganan stunting. Spirulina ini kandungan proteinnya mencapai 70 persen. Beta karoten dan vitamin B-nya juga tinggi,” jelas Agus.
Selain untuk anak-anak yang kekurangan gizi, spirulina juga sangat bermanfaat bagi ibu-ibu yang mengalami anemia. Kandungan zat besi dan nutrisi alaminya menjadikan spirulina sebagai suplemen alami tanpa bahan kimia. “Bisa membantu menaikkan kadar darah dan energi,” tambahnya.
Menariknya, budidaya spirulina tidak memerlukan teknologi mahal. “Cukup menggunakan bak, toples, atau botol plastik. Yang penting ada aerator untuk mengalirkan udara agar spirulina bisa berfotosintesis. Kalau tidak ada mesin, bisa diaduk manual setiap hari selama satu jam. Simpel tapi hasilnya luar biasa,” kata Agus.
Baca Juga: I Komang Artayasa, Pemuda Pembuat Dodol dari Desa Julah
Melalui program edukasi, kelompok Sari Algae rutin mengundang warga untuk belajar cara membudidayakan spirulina di rumah masing-masing. Mereka bahkan telah mendonasikan bibit spirulina ke tiga rumah warga, dua di antaranya memiliki anak dengan kondisi stunting dan satu di Polindes setempat.
Setelah melalui uji laboratorium, hasil panen spirulina mulai dikemas dan dipasarkan secara terbatas. “Awalnya kami tidak berniat menjual, karena tujuan kami adalah sosial — membantu masyarakat. Tapi karena permintaan mulai ada, kami akhirnya membuat izin edar PIRT sementara dan mulai menjual kepada wisatawan dan secara online,” tuturnya.
Produk spirulina dari Desa Les kini mulai dikenal di kalangan wisatawan yang berkunjung. Mereka penasaran pada ganggang hijau kecil yang ternyata besar manfaatnya. Bahkan, manfaatnya sudah terbukti langsung oleh warga. Setelah dua bulan rutin memberikan spirulina pada anaknya, nafsu makan dan berat badan anaknya meningkat signifikan.
Kisah sukses ini mendapat dukungan dari pemerintah setempat. I Gede Suyasa, Camat Tejakula, menyampaikan apresiasi atas inovasi warga. “Saya sangat mendukung pengembangan potensi ekonomi berbasis lingkungan seperti ini. Spirulina atau yang sering disebut Emas Hijau adalah inovasi yang lahir dari alam dan dikembangkan melalui kolaborasi masyarakat,” ujarnya. ***
Editor : Dian Suryantini