Salah satu sosok yang konsisten mengangkat persoalan sosial Bali dari sudut pandang sosiologis adalah Gede Kamajaya, S.Pd, M.Si, dosen muda Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana (Unud).
Lahir di Tejakula, Buleleng, pada 7 Maret 1988, Kamajaya dikenal sebagai akademisi yang produktif menulis dan aktif berdiskusi tentang berbagai fenomena sosial, budaya, dan politik di Bali.
Latar belakangnya sebagai sosiolog membuat pria asal Tejakula ini terbiasa memandang masyarakat secara kritis, tidak hanya dari permukaan, tetapi hingga ke akar persoalan yang sering kali tersembunyi di balik adat, kebiasaan, dan dinamika kekuasaan lokal.
Sejak menamatkan pendidikan S2-nya di Universitas Sebelas Maret dengan bidang keahlian sosiologi, Kamajaya terlibat dalam berbagai riset sosial di Bali, mulai dari isu partisipasi masyarakat, perilaku pemilih, hingga persoalan identitas dan korupsi.
Salah satu penelitiannya yang banyak diperbincangkan adalah tentang “Faktor Sosial Pendorong Upaya Bunuh Diri di Kabupaten Bangli”, yang menyoroti tekanan sosial dan lemahnya dukungan komunitas terhadap individu di tengah perubahan struktur masyarakat Bali.
Selain aktif meneliti, Kamajaya juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Ia kerap menyampaikan gagasan kritisnya melalui berbagai media daring seperti Balebengong.net dan Sanglah Institute.org.
Baca Juga: Menkeu Dorong Percepatan Belanja Daerah, Pemkab Badung Tegaskan Anggaran Tidak Mengendap
Kritik lewat kajian ilmiahnya berjudul “Reklamasi Teluk Benoa: Kejahatan Lingkungan hingga Krisis Demokrasi”, “Korupsi dan Banalitas Kejahatan”, hingga “Wajah Pengungsi Gunung Agung: Tinjauan Filsafat Levinas” memperlihatkan cara berpikir yang tajam sekaligus humanis.
Melalui karya-karyanya, Kamajaya tidak hanya berbicara soal teori, tetapi juga mengaitkan ilmu sosial dengan realitas keseharian masyarakat Bali. Ia menekankan pentingnya kepekaan sosial di tengah perubahan cepat akibat pariwisata dan globalisasi.
“Bali bukan hanya destinasi wisata, tapi juga ruang hidup masyarakat yang memiliki struktur sosial, nilai, dan sistem simbolik yang kompleks. Maka tentu harus dijaga agar persoalan sosial jangan sampai menggerogoti Bali” imbuhnya.
Aktivitas akademiknya juga diwarnai keterlibatan dalam berbagai forum ilmiah. Ia pernah tampil sebagai pembicara dalam Seminar Kebangsaan, Diskusi World Press Freedom, hingga Simposium Nasional APSI & ISI, dengan topik-topik mulai dari identitas budaya, korupsi, hingga perilaku pemilih. Gaya bicaranya lugas, diselingi humor, namun tetap tajam dalam menganalisis.
Tidak hanya di ruang akademik, Kamajaya juga aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan. Ia terlibat dalam berbagai program pengabdian masyarakat seperti “Bebersih Sampah Visual di Kota Denpasar”, “Penanggulangan Sampah Plastik di Laut Serangan”, hingga sosialisasi “Blue Economy bagi Nelayan Kedonganan”. Ia juga mendirikan Sanglah Institute, sebuah pusat studi mikro-sosiologi yang menjadi wadah diskusi kritis antara akademisi dan masyarakat.
Baca Juga: Kejari Denpasar Musnahkan Total 28 Kilogram Narkoba Senilai Rp 5 M
Kiprahnya tidak berhenti di kampus. Ia kerap menjadi narasumber di berbagai media lokal seperti TVRI Bali, Radar Bali, dan Bali TV untuk membahas isu-isu hangat seperti demokrasi, perilaku pemilih, dan masalah sosial perkotaan.
Pandangan-pandangannya yang seimbang dan tajam membuatnya sering disebut sebagai “sosiolog muda yang berani bersuara di tengah arus politik dan pariwisata Bali.”
Meski masih berusia muda, Kamajaya telah menyunting dan menulis beberapa buku, di antaranya Pasar Sekaten dalam Perspektif Sosiologis, Identitas Manusia Bali, dan Memahami Kembali Marx dan Marxisme.
Baca Juga: TP PKK Provinsi Bali Sapa Warga Desa Negari, Bagikan Sembako hingga Kacamata Gratis
Buku-buku itu menunjukkan minatnya pada hubungan antara struktur sosial, ideologi, dan kebudayaan dalam konteks masyarakat modern.
Bagi Gede Kamajaya, menjadi akademisi bukan sekadar mengajar di ruang kelas, tetapi juga berperan sebagai pengingat sosial agar masyarakat tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan.
“Sosiologi bukan hanya ilmu tentang masyarakat, tapi juga tentang keberanian memahami diri dan lingkungan dengan jujur. Ada panggilan Nurani untuk hadir di tengah masyarakat agar senantiasa memberi edukasi kepada masyarakat,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika