BALIEXPRESS.ID-Di antara barisan rumah-rumah warga desa yang menaungi jalan kecil menuju Vihara Samyag Darsana di Desa Petandakan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, tersimpan kisah panjang tentang keyakinan, keteguhan, dan harmoni.
Tempat suci ini bukan sekadar bangunan tempat sembahyang, melainkan simbol perjalanan spiritual masyarakat yang belajar menemukan kedamaian melalui perubahan zaman.
Semua berawal bukan dari mimbar keagamaan atau ajaran besar, melainkan dari seni geguritan Bali, suara-suara lembut yang dahulu mengalun di bale banjar, menggema dari satu rumah ke rumah lainnya.
Sekelompok warga dari tiga desa, Petandakan, Alasangker, dan Penglatan, setiap pekan berkumpul untuk melantunkan kakawin dan geguritan bertema ajaran Hindu dan Buddhis.
Dari bait-bait sederhana itulah, muncul getaran spiritual yang kemudian mengantarkan mereka menemukan jalan baru.
Tokoh spiritual desa, I Ketut Sri Madya, menjadi sosok yang membuka lembar baru sejarah itu. Ia berkenalan dengan YM. Bhikkhu Giri Rakkhito, yang saat itu tengah membangun Brahma Vihara Arama di Banjar.
Baca Juga: Messi Perpanjang Kontrak di Inter Miami hingga 2028, David Beckham Ungkap Alasan La Puga
Dirinya bahkan menempuh jarak 40 kilometer dengan berjalan kaki hanya untuk mendengar Dhamma.
Dari setiap langkah kakinya menuju Banjar, lahir keyakinan yang kian mengakar dan pada Hari Raya Asaddha tahun 1978, diresmikanlah Vihara Samyag Darsana, tempat pertama bagi umat Buddha di Desa Petandakan menegakkan Dhamma.
Di bawah atap vihara indah itu, I Ketut Sudala sang Dayaka Sabha menceritakan perjalanan panjang berdirinya vihara yang tidak selalu mudah. Sudala mengenang masa ketika mereka harus menyewa tanah tempat berdirinya vihara.
“Padahal lahan ini milik leluhur saya sendiri, karena keluar dari desa adat, kami kena sewa per kepala keluarga, totalnya sekitar 28 kilo beras per bulan. Itu berlangsung dari tahun 1978 sampai 2000-an.” Ujarnya.
Dengan raut wajah yang memancarkan rasa syukur, Sudala mengenang salah satu momen penting dalam perjalanan umat Buddha di Desa Petandakan.
“Tahun 2017, desa adat mengusulkan agar tidak perlu ada iuran lagi. Kami sepakat memberikan dana punia sekitar 250 juta rupiah. Setelah itu, tanah vihara ini resmi bersertifikat atas nama Vihara Samyag Darsana,” ujarnya bangga.
Kini, lahan seluas 17 are itu berdiri kokoh sebagai saksi keteguhan umat, menjadikannya vihara tertua kedua di Buleleng setelah Brahma Vihara Arama.
Sembari tersenyum hangat, Sudala menegaskan bahwa keharmonisan antarumat beragama di desanya terjalin begitu erat.
“Kegiatan sosial di desa selalu kami ikuti, seperti tujuh belasan, senam pagi, hingga kegiatan sosial lain, kami membaur bersama masyarakat Hindu.” Ujarnya.
Dengan nada haru yang tulus, Sudala juga menceritakan bagaimana toleransi di desanya tumbuh secara alami tanpa sekat keyakinan.
“Bahkan saat Waisak, masyarakat sekitar berinisiatif ikut bersembahyang di vihara. Mungkin karena dulu kami sering membagikan sembako kepada para lansia. Dari situ terjalin kedekatan, dan mereka datang sendiri saat Waisak. Kami merasa sangat terharu.” Jelas Sudala.
Dalam keseharian, kehidupan spiritual di vihara tetap hidup. Setiap bulan diadakan empat kali persembahyangan umum: Purnama, Penglong, Tilem, serta kegiatan meditasi.
Selain itu, umat juga menggelar puja manggala, kunjungan ke rumah umat untuk memanjatkan doa secara bergilir.
Semangat itu kini diteruskan oleh generasi muda. Kadek Indra Khanti Sanjaya, Ketua Generasi Muda Buddhis Vihara Samyag Darsana.
“Organisasi pemuda ini adalah wadah bagi kami untuk memperdalam keyakinan dan memperkuat peran kami di vihara.” Kata Indra melalui wawancara via Whatsapp pada Rabu, 22 Oktober 2025.
Dirinya juga menjelaskan bahwa organisasinya menjadi bagian dari yayasan yang menaungi vihara. Setiap Minggu pagi, anak-anak dari PAUD hingga SMA berkumpul di aula vihara. Bagi Indra, organisasi pemuda adalah tempat menanam nilai tanggung jawab dan kebersamaan.
“Kegiatan yang biasa kita lakukan di organisasi pemuda di vihara selain ikut membantu kegiatan umat di vihara yaitu ikut serta dalam melakukan proses belajar mengajar di Sekolah Minggu Buddha.” Ucapnya.
Indra juga menceritakan berbagai kegiatan yang melibatkan generasi muda umat Buddha di Petandakan.
Baca Juga: Sakit Hati Ditinggal Nikah, Wanita Ini Nekat Potong Alat Kelamin Kelamin Pacar
“Kami mengajar materi umum, keagamaan, kreativitas, bahkan fun game. Jadi kalau kakak-kakak KKN mau jadi guru tamu, sangat bisa,” tambahnya.
“Jadi Untuk Organisasi Pemuda di Vihara ini merupakan sub kecil dari organisasi pemuda di setiap vihara, karna untuk organisasi pemuda di Kab Buleleng juga ada yaitu PATRIA, jadi untuk organisasi pemuda di vihara lebih fokus ke kegiatan yang ada di vihara tersebut.” jelasnya lagi.
Di bawah cahaya senja Petandakan, Vihara Samyag Darsana berdiri sebagai saksi perjalanan iman yang sederhana namun mendalam.
Dari alunan geguritan hingga gema doa Buddhis, dari perjuangan masa lalu hingga harmoni masa kini, tempat ini terus mengajarkan satu hal, bahwa kedamaian sejati tumbuh bukan dari perbedaan yang disembunyikan, melainkan dari perbedaan yang dirawat dengan cinta.
Editor : Wiwin Meliana