Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

BPOM: Bio Farma Perlu Perkuat Kemandirian Vaksin Nasional, Produksi Dalam Negeri Harus Diperkuat!

Wiwin Meliana • Jumat, 31 Oktober 2025 | 15:30 WIB

Pertemuan Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) ke-26 di Bali
Pertemuan Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) ke-26 di Bali

BALIEXPRESS.ID— Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, menegaskan pentingnya memperkuat kemandirian vaksin nasional agar Indonesia tak lagi bergantung pada negara lain.

Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) ke-26 di Bali, Kamis (30/10/2025), yang juga dihadiri Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya.

Baca Juga: Font Disleksia Disajikan International Conference, Dosen Undiksha Raih Best Presenter

“Produksi vaksin harus punya garansi keamanan, kualitas, dan efektivitas. Saat pandemi Covid-19, Bio Farma dan Kemenkes bekerja keras agar vaksin tersedia. Dari pengalaman itu, kami memastikan setiap vaksin buatan Indonesia harus berstandar tinggi,” ujar Prof. Taruna.

Ia memaparkan bahwa BPOM turut membantu sekitar 80 industri untuk pengembangan produk, mulai dari sertifikasi, pemasaran hingga distribusi. Indonesia saat ini terus memperkuat konsep ABG (Akademia, Bisnis, Government) untuk mendorong inovasi dan kemandirian vaksin, yang sebelumnya terbukti berhasil melahirkan industri vaksin baru.

Taruna menjelaskan, konsep tersebut akan dibagikan kepada negara-negara anggota DCVMN, khususnya kawasan Afrika, untuk mendorong pertumbuhan ekosistem vaksin global.

 Baca Juga: Cegah PMK dan Rabies, Pemkab Tabanan Telah Vaksinasi Ribuan Hewan Ternak

Dalam forum ini, Taruna juga menegaskan empat fokus pemerintah dalam penguatan sistem vaksin nasional, ‌membangun jaringan kuat ketersediaan vaksin,

‌menjamin ekosistem riset hingga distribusi, memastikan keamanan, efikasi, dan kualitas, ‌mendukung aspek pendanaan dan keberlanjutan industri vaksin.

Ia mencontohkan kebutuhan vaksin Tuberkulosis (TBC) yang direkomendasikan WHO mencapai 50 juta dosis untuk tahap awal, sementara kapasitas produksi nasional saat ini baru mampu menyiapkan sekitar 5 juta dosis.

“Kebutuhan vaksin Indonesia sangat besar. Dengan 4,8 juta bayi lahir setiap tahun, vaksin dasar saja belum sepenuhnya bisa dipenuhi produksi dalam negeri. Ini peluang besar, termasuk untuk menjadi pemain global,” tegasnya.

Taruna menegaskan bahwa bila ekosistem tidak dipersiapkan dengan matang, pasar vaksin nasional bisa diambil produsen lain.

 Baca Juga: Tenaga Surya, Tangan Ibu-Ibu, dan Revolusi Sampah di Desa Keliki

Karena itu, pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan Bio Farma, BPOM, Kementerian Kesehatan, serta pemangku kepentingan terkait.

“Dari hulu hingga hilir, kita ingin memastikan industri vaksin Indonesia bisa menjadi pemain utama dunia,” pungkasnya. (*)

Editor : Wiwin Meliana
#vaksin #bpom ri #bio farma