Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dampak Hujan dan Proyek Jalan, Angkul-Angkul Warga di Manukaya Ambruk

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 6 November 2025 | 03:35 WIB
JEBOL : Angkul-angkul warga di Banjar Bantas, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring pasca jebol, Selasa (4/11).
JEBOL : Angkul-angkul warga di Banjar Bantas, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring pasca jebol, Selasa (4/11).

BALIEXPRESS. ID– Sebuah angkul-angkul atau pintu rumah khas Bali salah satu warga di Banjar Bantas, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring ambruk pada Selasa (4/11). Kejadian tersebut terjadi dampak dari proyek perbaikan jalan, pasca alat berat melakukan pengerukan saluran drainase.

Ambruknya angkul-angkul tersebut diduga karena pondasinya ikut terseret saat proses pengerukan dilakukan, terlebih tanah yang labil saat hujan turun. Hal itu menyebabkan bangunan angkul-angkul itu roboh. Kejadian tersebut menimbulkan kerugian bagi pemilik rumah, selanjutnya meminta adanya pertanggungjawaban dari pihak pelaksana proyek.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Gianyar, Made Gde Astawiguna, Rabu (5/11) membenarkan dengan kejadian angkul-angkul yang ambruk tersebut. Dijelaskan, bahwa pihaknya telah melakukan peninjauan ke lokasi kejadian, selanjutkan melakukan identifikasi sejumlah faktor penyebab dari ambruknya pintu gerbang yang berciri khas Bali itu.

“Konstruksi angkul-angkul tidak memiliki pondasi yang memadai. Faktor cuaca hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan persiapan pengecoran yang sudah terpasang bekisting tidak dapat dilaksanakan,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, dia menambahkan, kondisi di lapangan geografinya yang menurun cukup tajam menjadi salah satu penyebabnya. Termasuk keterlambatan pemasangan pengaman tanah di area lebih tinggi dari badan jalan.

Ditegaskan, pihaknya memastikan akan melakukan pembenahan terhadap kerusakan tersebut. Termasuk melakukan pertemuan antara pihak Dinas PUPR Gianyar, kontraktor pelaksana, serta pemilik rumah terdampak untuk mencari solusi terbaik.

“Kami akan bangun dulu struktur pengaman tanahnya, baru kemudian mengembalikan kondisi angkul-angkul, masih mendiskusikan hal tersebut. Intinya harus ada pengembalian kondisi,” pungkas Astawiguna.*

Editor : Putu Agus Adegrantika