Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ketika Dodol Jadi Ladang Rezeki dan Pengisi Waktu Luang Menjelang Galungan

Dian Suryantini • Kamis, 6 November 2025 | 17:53 WIB

Yuli sedang mebungkus dodol di rumah produksi dodol di Desa Penglatan, Buleleng.
Yuli sedang mebungkus dodol di rumah produksi dodol di Desa Penglatan, Buleleng.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, aroma manis dodol mulai menyeruak di sudut-sudut Desa Penglatan, Buleleng. Tradisi membuat dan membungkus dodol yang turun-temurun ini kembali menggeliat, bukan hanya sebagai persiapan upacara adat, tetapi juga sebagai ladang rezeki tambahan bagi sebagian warga.

Di salah satu rumah produksi dodol di desa ini, tampak kesibukan para perempuan yang duduk berderet di atas tikar, tangan mereka lincah membungkus dodol-dodol kecil ke dalam kulit jadung kering, kemudian mengikatnya menjadi renceng-renceng. Satu wadah dodol bisa menghasilkan sekitar 19 renceng, tergantung kecepatan dan ketelitian masing-masing pembungkus.

Bagi sebagian besar warga, kegiatan ini bukan hanya soal menjaga tradisi, tapi juga soal ekonomi rumah tangga. Salah satunya adalah Ni Made Yuli Susilawati, warga Desa Penglatan. Ia duduk sendiri di salah satu sudut rumah produksi. Di sekitarnya banyak dodol. Ia sudah beberapa tahun terakhir ikut membungkus dodol menjelang Galungan.

“Tergantung orangnya saja. Mode cepat atau mode pelan. Kalau saya biasa saja. Ongkosnya lumayan buat tambahan untuk hari raya nanti,” ujar Yuli sambil tertawa ringan di sela pekerjaannya, Kamis (6/11).

Baca Juga: Oknum Pegawai BNNK Buleleng Positif Sabu, Terancam Dipecat Tidak Hormat

Berbeda dari kebanyakan warga lain yang membungkus dodol dari rumah, Yuli memilih untuk langsung mengerjakannya di tempat pembuatan. Alasannya supaya lebih efisien dan tidak tergoda rebahan sambil bermain ponsel.

“Saya bungkus di tempat yang punya. Supaya gak scroll TikTok melulu. Jadi begadangnya bisa bermanfaat,” katanya.

Pada pagi hari, Yuli bekerja sebagai desainer lanskap, profesi yang menuntut kreativitas dan ketelitian. Tapi ketika malam tiba, ia beralih peran menjadi pembungkus dodol. Baginya, pekerjaan tambahan itu bukan semata-mata karena kebutuhan ekonomi, melainkan juga cara mengisi waktu luang menjelang hari raya.

“Kerjaan utama sebenarnya cukup. Tapi saya suka bantu-bantu kalau ada pesanan besar. Lumayan, sambil ngobrol, sambil kerja. Suasana malamnya juga enak,” tambahnya.

Tradisi membungkus dodol ini biasanya memuncak dalam dua minggu menjelang Hari Raya Galungan. Setiap rumah produksi dodol di Penglatan akan memperkerjakan tambahan tenaga untuk mempercepat proses pengemasan. Upah yang didapat pun bervariasi, tergantung jumlah renceng yang berhasil dibungkus.

Beberapa warga mengaku bisa menyelesaikan hingga puluhan wadah dalam seminggu jika sedang dalam “mode cepat”. Namun bagi mereka yang bekerja santai, hasilnya tentu lebih sedikit. Meski demikian, semangat mereka tetap sama. Dodol harus selesai dibungkus sebelum hari suci tiba.

Bagi masyarakat Bali, dalam perayaan Galungan dan Kuningan, dodol melambangkan kekuatan dan keteguhan hati, seperti teksturnya yang lengket dan liat—simbol eratnya hubungan manusia dengan Sang Hyang Widhi serta sesama umat. Karena itu, pembuatannya menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan spiritual menjelang hari raya.

Di balik tumpukan dodol dan plastik pembungkus, ada suasana kebersamaan yang sulit tergantikan. Para perempuan duduk bersama, saling berbagi cerita, bercanda, bahkan menyanyikan lagu sambil bekerja. Suasana itu membuat pekerjaan malam hari yang melelahkan terasa ringan.

“Kalau rame-rame gini rasanya gak capek. Malah seru. Kayak latihan sabar juga, karena dodolnya lengket banget!” celetuk salah satu pembungkus sambil terkekeh.

Dari generasi ke generasi, pekerjaan ini tetap lestari. Meski zaman berubah dan banyak hal bisa dilakukan secara instan, urusan membungkus dodol masih dikerjakan secara manual. Tidak ada mesin, tidak ada conveyor, hanya tangan-tangan cekatan dan ketulusan hati.

Menjelang Galungan, ritme kehidupan di Desa Penglatan menjadi sedikit berbeda. Malam-malam dipenuhi suara gemerisik kulit jagung kering dan tawa ringan warga yang begadang di bawah cahaya lampu temaram.

Bagi Yuli, setiap renceng dodol yang ia bungkus bukan sekadar tambahan penghasilan, tapi juga bentuk kecil dari rasa syukur.

“Yang penting bisa bantu, bisa isi waktu luang, dan bisa punya sedikit tambahan buat beli banten Galungan,” ujarnya. ***

Editor : Dian Suryantini
#penglatan #dodol #galungan #produksi #kuningan #buleleng