Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kreatif! Piala Kejuaraan Dunia Vovinam di Buleleng Dibuat dari Sampah Plastik dan Sekam

Dian Suryantini • Sabtu, 8 November 2025 | 14:04 WIB

 

Piala-piala kejuaraan dunia yang dibuat dari bahan sekam dan sampah plastik.
Piala-piala kejuaraan dunia yang dibuat dari bahan sekam dan sampah plastik.

BALIEXPRESS.ID - Di balik gemerlap panggung kejuaraan dunia Vovinam di Buleleng, ada kisah inspiratif tentang seni, ketekunan, dan kepedulian lingkungan.

Bukan hanya para atlet yang bertanding menunjukkan kekuatan dan kelincahan, tetapi juga para seniman lokal yang berjibaku menciptakan sesuatu yang tak kalah berharga. Contohnya piala ramah lingkungan yang dibuat dari sampah.

Eka Darmawan, pemuda asal Buleleng, yang memimpin proses kreatif di balik lahirnya piala-piala unik tersebut.

Eka adalah pegiat lingkungan yang bergerak di bidang daur ulang sampah plastik.

Ia mendirikan Rumah Plastik Mandiri sebagai salah satu studio kerjanya untuk melakukan pemilahan sampah hingga menjadi produk.

Ia lalu berkolaborasi dengan rekannya, Wikrama Putra dari Bali Sinwood. Wikrama fokus pada pengerjaan sentuhan sekamnya, sebab ia memang bergerak di bidang pengolahan sampah sekam pagi menjadi produk unik.

Eka mengungkapkan, piala itu dibuat dengan memadukan tiga jenis bahan daur ulang, yakni plastik HDPE dari botol oli bekas, bahan organik seperti sekam padi, dan logam sisa.

Tiga unsur ini kemudian diolah menjadi karya — simbol dedikasi dan tanggung jawab, baik bagi para atlet maupun bagi penciptanya.

“Piala ini menggambarkan tanggung jawab, kreativitas, dan dedikasi. Seperti halnya atlet yang berjuang menyelesaikan misinya di arena, kami juga punya misi menyelesaikan karya ini dengan hati,” ujar Eka, Jumat (7/11/2025).

Proses kreatifnya tidak sebentar. Meski pengerjaan fisik piala hanya memakan waktu sekitar tujuh hari, namun tahap perencanaan dan konsepsi memerlukan tiga minggu penuh. 

“Yang lama itu di konsep. Kami ingin setiap bagian piala punya makna dan tampilan yang selaras dengan semangat Vovinam—disiplin, harmoni, dan kekuatan,” tambahnya.

Piala itu tidak dibuat asal-asalan. Detail ukirannya memerlukan ketelitian tinggi karena menggabungkan bahan yang sulit dipadukan seperti plastik keras, sekam organik, dan logam ringan.

Dalam prosesnya, Eka bersama tim menghadapi tantangan besar saat mengerjakan bagian ukiran.

“Detailing-nya keras banget. Kami harus bisa ‘menjinakkan’ plastik dan bahan organik dalam satu bentuk yang halus. Untuk itu, kami gunakan teknik dempul organik—semacam lapisan alami dari sekam yang dibakar dan diolah kembali agar merekat sempurna dengan plastik,” jelasnya.

Hasilnya luar biasa. Dari bahan yang dulu dianggap limbah, lahirlah piala dengan desain gagah bergaya patung tugu singa—ikon kekuatan dan keberanian. Ukiran berbahan plastik HDPE dibentuk menyerupai lekuk tubuh singa yang sedang mengaum, lalu diberi sentuhan akhir dari abu sekam yang menimbulkan efek klasik.

“Tulisan dan simbol pada piala kami ukir langsung dari plastik bekas, lalu dilapisi bahan organik sebelum dibakar agar lebih kuat dan bertekstur alami,” tutur Eka.

Yang membuat piala ini istimewa bukan hanya tampilannya, tetapi juga pesan yang dikandungnya. Di tengah isu global tentang sampah plastik dan keberlanjutan lingkungan, karya ini menjadi bentuk keseriusan bahwa seni bisa berperan dalam edukasi ekologi.

“Ini bukan sekadar penghargaan untuk para juara dunia. Ini juga penghargaan untuk bumi,” kata Eka dengan senyum.

Setiap piala memiliki berat sekitar 4 kilogram, tergantung komposisi bahan. Plastik HDPE menjadi struktur utama, sementara sekam berfungsi sebagai penguat alami sekaligus elemen estetika. Beberapa bagian logam sisa digunakan untuk alas dan bingkai simbolik.

"Saya ditelepon sama Pak Pasda (Kepala BKPSDM Buleleng), diminta buatkan piala. Jadilah seperti itu bentuknya," kata dia. 

Kejuaraan Dunia Vovinam di Buleleng ini menjadi momen bersejarah, tidak hanya bagi dunia olahraga, tetapi juga bagi dunia seni dan lingkungan.

Para atlet yang naik podium membawa pulang bukan sekadar piala kemenangan, tetapi juga pesan moral bahwa prestasi sejati adalah yang lahir dari keberanian untuk menjaga bumi.

Dari tumpukan plastik bekas dan sekam yang biasa dibuang, kini lahir kreatifitas bahwa keberanian, tanggung jawab, dan seni bisa berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#vovinam #Sampah palstik #buleleng