Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ketut Ayu Widayanti: Dari Kursus Jahit Sederhana Jadi Pemasok Kebaya ke Berbagai Wilayah di Bali dan Luar Bali

Dian Suryantini • Sabtu, 8 November 2025 | 16:18 WIB

Ketut Ayu Widayanti, penjahit kebaya dari Klungkung.
Ketut Ayu Widayanti, penjahit kebaya dari Klungkung.

 

BALIEXPRESS — Di sebuah rumah sederhana di Desa Koripan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, suara mesin jahit terdengar hampir setiap hari.

Dari balik ruangan sempit di belakang rumahnya, Ketut Ayu Widayanti sibuk menggarap potongan kain berwarna-warni menjadi kebaya-kebaya cantik yang akan dikirim ke berbagai penjuru kota.

Siapa sangka, ibu rumah tangga ini kini menjadi salah satu penjahit kebaya yang hasil karyanya menembus pasar hingga Lampung, Sumatra, Jawa, dan sejumlah kabupaten/kota di Bali.

 Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Pastikan Program Reward Lansia Tetap Berjalan, Tunggu Penyesuaian Regulasi

Perjalanan Ketut Ayu tidaklah mudah. Ia bukan berasal dari keluarga penjahit, juga tidak memiliki dasar keterampilan khusus di bidang busana. Semua ia mulai dari nol.

Saat anak pertamanya mulai TK, Ketut Ayu memutuskan untuk mengikuti kursus menjahit. Niatnya hanya ingin membantu ekonomi keluarga dan punya kegiatan produktif di rumah. Namun dari niat sederhana itu, lahir tekad besar yang mengubah hidupnya.

Di awal perjalanan, Ketut Ayu tidak langsung menjahit kebaya seperti sekarang. Ia mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan — dari baju kaos hingga kain pantai yang kala itu sedang laris di pasaran.

Kerja keras dan ketelitiannya membuahkan kepercayaan. Salah satu perusahaan garmen mempercayakan produksi kain-kainnya kepada Ketut Ayu. Dari situ, tangannya semakin terampil, dan kepercayaan diri mulai tumbuh.

 Baca Juga: Tubuh, Seni, dan Ketuhanan: Jejak Panjang Diane Butler di Dunia Tari dan Kajian Budaya

“Awalnya saya cuma ingin bisa menjahit pakaian sendiri dan untuk anak-anak. Tapi lama-lama saya berpikir, kenapa tidak coba buat kebaya? Kan di Bali, kebaya itu kebutuhan sehari-hari,” kata dia sambil tersenyum.

Keputusan untuk beralih menjahit kebaya menjadi titik balik dalam hidupnya. Dengan modal keberanian dan rasa ingin tahu, ia belajar otodidak—membongkar pola, meniru desain dari majalah, hingga belajar teknik finishing dari teman sesama penjahit.

Sedikit demi sedikit, hasil jahitannya semakin rapi dan diminati banyak orang.

Baca Juga: Pemkab Bangli Gelar Rapat Khusus Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Galungan dan Kuningan

Kini, Ketut Ayu menjadi langganan tetap bagi banyak pelanggan yang tersebar di berbagai daerah. Setiap menjelang hari raya seperti Galungan, Kuningan, atau Nyepi, ruang belakang rumahnya berubah seperti bengkel kecil yang tak pernah sepi.

Satu mesin jahit dan satu mesin obras di sudut ruangan bekerja tanpa henti, sementara manekin, meteran, dan gulungan kain memenuhi meja kerjanya.

 Baca Juga: Bali United Gagal Raih Poin Lawan Bhayangkara, Johnny Jansen Soroti Keputusan Wasit

Di saat pesanan membludak, Ketut Ayu kerap kewalahan. Namun, ia tak pernah benar-benar sendiri. Ketiga anaknya yang kini sudah beranjak dewasa turut membantu—memasang kancing baju, menyetrika, hingga mengemas pesanan. Bahkan sang suami yang berprofesi sebagai guru, tak segan ikut turun tangan membantu untuk mengobras dan melakukan pengiriman.

“Kami kerja bareng. Kalau lagi banyak order, semua turun tangan. Kalau pengiriman kadang suami saya. Kadan gada seles juga yang datang untuk mengambil,” katanya.

Baca Juga: SMPN 1 Ubud Terapkan Program Paramita: Wujudkan Sekolah Aman dan Bebas Bullying

Meski usahanya kini berkembang, Ketut Ayu tetap mempertahankan kesederhanaan. Ia belum memiliki toko atau studio besar. Bagian belakang rumahnya masih menjadi “markas” tempat seluruh ide dan karya lahir.

“Saya nyaman di sini. Semua kebaya yang keluar dari sini punya cerita,” ujarnya sambil menatap hasil jahitannya yang baru selesai.

Dari ruangan kecil di rumahnya, Ketut Ayu Widayanti membuktikan bahwa ketekunan dan kemauan belajar bisa membawa seseorang menembus batas. Dari kursus jahit sederhana, kini karyanya terbang ke berbagai penjuru wilayah — membalut keanggunan perempuan Indonesia dengan sentuhan tangan seorang ibu yang penuh cinta. (dhi)

Editor : Iqbal Kurnia
#bali #kebaya #jahit