Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tur ke “Tempat Sampah”, Siswa SDN 3 Kaliuntu Belajar Seru di Rumah Plastik

Dian Suryantini • Senin, 10 November 2025 | 22:02 WIB

Para siswa dengan seksama memperhatikan proses pencacahan sampah plastik di Rumah Plastik Mandiri, Desa Petandakan, Buleleng.
Para siswa dengan seksama memperhatikan proses pencacahan sampah plastik di Rumah Plastik Mandiri, Desa Petandakan, Buleleng.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Siapa bilang belajar harus duduk manis di kelas, mencatat di buku, dan mendengarkan guru bicara? Bagi belasan siswa SDN 3 Kaliuntu, Buleleng, belajar seru justru dilakukan di tempat sampah. Mereka bersama-sama datang ke Rumah Plastik Mandiri, sebuah rumah produksi pengolahan sampah di Desa Petandakan, Buleleng.

Sejak pagi, Senin (10/11), suasana halaman sekolah sudah riuh. Belasan anak berseragam olahraga itu tak sabar menaiki bemo warna coklat yang akan membawa mereka “bertamasya”. Wajah mereka sumringah, suaranya berisik. “Kita ke mana sih?” bisik seorang anak. “Katanya ke tempat sampah!” jawab temannya sambil tertawa geli.

Tak lama kemudian, bemo meluncur pelan meninggalkan sekolah. Jalanan menuju Petandakan terasa seperti perjalanan menuju dunia baru. “Tempat sampah” yang mereka bayangkan—bau, kotor, dan penuh lalat—ternyata jauh dari kenyataan.

Pukul 08.50 WITA, rombongan kecil itu tiba di depan sebuah bangunan sederhana bertuliskan Rumah Plastik Mandiri. Di sinilah, tumpukan botol bekas, karung besar, dan mesin pencacah menjadi alat belajar paling keren hari itu. Satu per satu siswa melangkah masuk, sebagian menutup hidung—tapi beberapa menit kemudian, rasa penasaran mengalahkan segalanya.

“Jadi, ini bukan tempat buang sampah. Tapi tempat mengubah sampah jadi barang bernilai,” ujar Rahayu Sukadani, salah satu mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang mendampingi mereka.

Baca Juga: Mengenal Perempuan Dibalik Rumah Plastik Petandakan

Ia bersama sembilan mahasiswa lain tengah menjalankan program Asistensi Mengajar di SDN 3 Kaliuntu. Ide tamasya ini, katanya, lahir dari keinginan untuk mengajak anak-anak belajar di luar kelas dengan cara yang menyenangkan.

Dan benar saja—mata para siswa tampak berbinar. Di depan mereka, sebuah mesin besar berdengung. Mesin pencacah plastic. Tutup botol masuk dari lubang atas, lalu keluar dari bawah dalam bentuk potongan kecil warna-warni. “Oh, begitu jadinya,” gumam salah satu siswa, matanya tak lepas dari mulut mesin yang sedang memuntahkan cacahan plastik.

Setelah itu, mereka diajak beralih ke bagian pengepresan. Di sana, plastik yang telah dicacah dipindahkan ke dalam loyang logam, kemudian ditekan dan dipanggang di oven bersuhu tinggi. “Kayak bikin kue, tapi bahannya sampah!” celetuk seorang anak, disambut tawa teman-temannya.

Yang menarik, kesan tempat sampah yang sebelumnya melekat di kepala mereka langsung sirna.

“Dari sekolah kami sempat berpikir, kok diajak ke tempat sampah? Pasti kotor dan bau. Tapi ternyata bersih dan bagus,” ujar Desta Putra dan Tristan, siswa kelas 6 SDN 3 Kaliuntu.

Memilah dan menyusun tutup botol menjadi hiasan dinding.
Memilah dan menyusun tutup botol menjadi hiasan dinding.

Petualangan belajar belum selesai. Setelah mengenal mesin-mesin ajaib, para siswa duduk berkelompok. Ada di meja sampai lesehan di lantai. Di depan mereka, tumpukan tutup botol berbagai warna. Mereka diminta memilah sesuai warna, lalu menempelkan ke papan untuk dijadikan hiasan dinding. Aktivitas sederhana ini ternyata melatih kejelian, kreativitas, dan motorik halus mereka.

“Kami di sekolah sudah sering disuruh pilah sampah,” kata Tristan sambil menempelkan tutup botol biru. “Tapi di sini lebih seru, karena kami lihat sendiri hasilnya bisa jadi barang bagus,” lanjutnya.

Di pojok ruangan, Budi Artawan, guru kelas yang mengawal mereka tampak diam dan mengamati. Ia sendiri pun masih terheran dengan keberadaan Rumah Plastik. Kegiatan pembelajaran luar kelas yang diikuti oleh siswanya itu dipandang sebagai ruang karya wisata.

“Memang ini sebenarnya karya wisata. Bisa belajar sambil bermain. Saya sendiri baru tahu ada tempat ini. Jadi, kami hanya minta ijin kepada orangtua mereka untuk kegiatan di luar sekolah,” ujarnya.

Kunjungan sekolah ke Rumah Plastik ini bukan yang pertama kalinya. Sebelum-sebelumnya, beberapa sekolah bahkan kampus telah berkunjung.

“Kami membuka diri untuk siapa pun yang datang dengan tujuan edukasi. Kami ingi keberadaan kami juga berdampak di bidang pendidikan, khususnya pengetahuan terhadap pengelolaan timbulan sampah plastik,” ujar pendiri Rumah Plastik, Putu Eka Darmawan.

Ketika kegiatan usai, para siswa meninggalkan Rumah Plastik dengan gembira. Beberapa membawa pulang hasil karyanya—hiasan warna-warni dari tutup botol bekas. ***

Editor : Dian Suryantini
#plastik #tutup botol #sd #rumah plastik #Pengolahan #sampah