BALIEXPRESS.ID - Tradisi Mekotek di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, hingga saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat.
Tradisi yang telah termasuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ini kini diabadikan menjadi sebuah monumen yang merupakan ikon baru di Munggu.
Ikon yang kaya akan sejarah ini diberi nama Taman Mekotek Munggu, menjadi kebanggaan dan berdiri di dekat traffic light Jalan Bypass Tanah Lot.
Baca Juga: HUT Mangupura, Pemkab Badung kini Siapkan Pesta Rakyat Mangu Cita
Tak tanggung-tanggung kecintaan masyarakat terhadap tradisinya, seluruh proses pembangunan dikerjakan tenaga lokal.
Koordinator tim seniman, I Nyoman Ardana mengatakan, ide pembangunan monumen Mekotek sejatinya telah muncul sejak 2013.
Hal ini pun baru terwujud setelah 12 tahun melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Badung. Ikon ini pun sangat dinantikan oleh masyarakat Munggu.
“Usulan ini memang dari masyarakat, para pematung, dan tokoh-tokoh desa. Dari sanalah cikal bakal perencanaan di desa hingga akhirnya masuk dalam anggaran,” ujar Ardana.
Pihaknya menyebutkan, pembangunan patung ini berawal dari keinginan masyarakat untuk menjadikan Mekotek bukan sekedar tradisi, melainkan diabadikan dalam ikon visual.
Berangkat dari ide tersebut, dirinya ditunjuk sebagai koordinator untuk melakukan pembangunan bersama Perbekel Munggu dan Ketua Pokdarwis.
Baca Juga: Bukan Penjara! Pelaku Pencurian Motor Klasik di Klungkung Dikenakan Sanksi Sosial
Pengerjaaannya pun melibatkan sejumlah pematung lokal Munggu, di antaranya Ketut Tawo, Bayu, Rai Didon, Rai Komo, Rai Super, Yudix, Dedy, Man Cikrak, Tisen, Man Robot, Man Teple, Edi, Made Bawa, Putu Lancip, Wardana Gambing, dan Budi.
“Pengerjaannya selama 3,5 bulan, sejak pertengahan Juli, selesai bulan Oktober, dan diresmikan pada 13 November 2025 oleh Bapak Bupati Badung. Pengerjaan monumen dilakukan oleh 10 seniman patung asli Munggu dari berbagai banjar,” ungkapnya.
Meski dikerjakan dengan waktu singkat, pria 38 tahun ini mengaku, memfokuskan pada desain monumen utama.
Bahkan monumen di Taman Mekotek Munggu ini terdapat relief yang menceritakan awal mula muncul tradisi tersebut.
Cerita Tradisi Mekotek berawal dari, I Gusti Nyoman Munggu yang merupaka. raja Mengwi melakukan tapa di Pura Dalem Kayangan Wisesa Munggu.
Sang raja yang menetap di Munggu ini berencana berperang ke Blambangan.
Saat tapa, ia menghaturkan sesangi (kaul/janji) yang berisi, jika menang, akan menggelar upacara besar dengan kurban kebo yusbrana dalam karya metiti mamah.
Bahkan upacara ini masih berlangsung setiap tahunnya di Desa Munggu.
Ternyata I Gusti Nyoman Munggu pun meraih kemenangan, yang kemudian dirayakan dengan suka cita.
Dalam perayaan tersebut, masyarakat yang antusias membawa kayu dan senjata hingga saling berhimpitan hingga menimbulkan bunyi ngerupyuk.
Dari sinilah, Ardana menerangkan, melahirkan tradisi Mekotek yang dilaksanakan setiap Hari Raya Kuningan.
Ardana menjelaskan, total terdapat 32 patung dalam monumen, terdiri dari 17 patung Mekotek di bagian atas dan 15 patung menempel di badan monumen.
Selain itu terdapat dua patung patih di depan patung-patung Mekoyek yang membawa tameng Tamiang Kolem.
“Tamiang kolem yang dipakai tameng itu masih melinggih di gedong di Pura Dalem. Setiap hari raya Kuningan, itu lah yang diiringi Mekotek dengen pengider semua,” jelasnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga