BALIEXPRESS.ID — Polemik imbauan PLN terkait jarak aman pemasangan penjor dari jaringan listrik kembali mendapat sorotan.
Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, I G.N. Kesuma Kelakan atau Alit Kelakan, menilai maksud PLN sebenarnya untuk menjaga keselamatan warga, namun cara penyampaiannya justru memunculkan salah tafsir di masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Alit Kelakan di Denpasar, Jumat (21/11).
Ia menjelaskan bahwa karakteristik kabel listrik berbeda-beda sehingga tingkat risikonya pun tidak sama.
Baca Juga: Event Jalanan “Sayan Nguni” Hadirkan 22 Stand Kuliner Tradisional, Angkat Budaya dan UMKM Lokal
Alit Kelakan menerangkan bahwa terdapat dua jenis kabel, yakni kabel berisolasi dan kabel tidak berisolasi.
Pada kabel yang terbuka, potensi bahaya meningkat terutama pada musim hujan karena arus bisa merambat melalui benda yang menyentuhnya, termasuk penjor.
"Kalau ini dipegang sama anak-anak kecil bisa menyebabkan setrum. Itu mungkin maksudnya," jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kabel berisolasi tidak sepenuhnya aman jika terdapat kerusakan atau lapisan pembungkusnya terkelupas.
Baca Juga: Nyonya Rasniathi Adi Arnawa Sambut Studi Tiru Dekranasda Kota Pekalongan
Kondisi ini pula yang membuat PLN mewanti-wanti agar penjor tidak dipasang terlalu dekat.
Karena itu, menurut Alit Kelakan, sosialisasi yang menekankan jarak minimal 2,5 meter tidak cukup tepat.
Yang lebih penting adalah memastikan penjor tidak bersinggungan dengan kabel terbuka atau kabel yang mengalami kerusakan.
"Jangan disitu. Silakan pasang penjor jangan sampai menyentuh kabel-kabel yang terbuka atau kabel luka. Itu kan beresiko tinggi terhadap keselamatan. Itu sebenarnya, nanti saya akan ketemu dengan PLN membahas lebih lengkap," tegasnya.
Ke depan, ia menilai penataan kabel perlu dibenahi agar tidak semrawut dan lebih aman bagi masyarakat.
"Ini kan sebenarnya bicara keselamatan maksudnya baik, tapi penyampaiannya menjadi tidak diterima dengan baik," ujarnya.
Baca Juga: Puncak HUT Mangupura, Masyarakat Diimbau Gunakan Transportasi Umum
Terkait usulan agar orang Bali ditempatkan dalam posisi strategis di PLN, Alit Kelakan menegaskan bahwa penentuan jabatan tetap harus berlandaskan merit system.
"Kita tidak bisa hal itu arahnya nanti ke rasis. Di Bali harus orang Bali dan di Jawa harus orang Jawa. Nanti kalau orang Bali di Kalimantan jadi Kepala PLN nanti bisa diusir. Itu arahnya jadi rasis kita. Jadi, tidak apa-apa merit sistem, tapi jika ada orang Bali yang mampu bisa bertugas di Bali. Dulu kan orang Bali, seperti I Gusti Ngurah Adnyana orang Bali jadi Direktur PLN," katanya.
Sebelumnya, Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Dr. Ir. I Wayan Jondra, juga menyoroti kekisruhan terkait penjor menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Ia menilai situasi ini menunjukkan kurangnya pemahaman pejabat PLN terhadap kultur masyarakat Bali yang selama ini dikenal disiplin membayar listrik.
Baca Juga: Poland Shopping Day 2025 Resmi Dibuka di Bali, Jadi Ajang Promosi Terbesar Polandia di Asia Tenggara
"Pejabat PLN jangan omong saja, mesti beri contoh, danai desa adat untuk membuat contoh pemasangan penjor yang aman tanpa kehilangan makna, dengan menggandeng tokoh agama dan tokoh adat," tegas Jondra, yang juga Dosen Teknik Elektro Politeknik Negeri Bali (PNB), Minggu (16/11).
Jondra menilai kegaduhan muncul karena PLN Distribusi Bali belum maksimal mengamankan jaringan yang masih terbuka, misalnya melalui pemasangan Tekep Isolator atau mengganti kabel AAAC menjadi AAAC-S.
Ia menekankan bahwa tidak semua jenis kabel PLN berbahaya saat bersentuhan dengan penjor.
Kabel MVTIC dan LVTC dikategorikan aman selama kondisinya baik.
"Tidak semua kabel PLN tenget (harus bebas dari sentuhan penjor). Jika ada kabel berisolasi tersebut terkelupas dan mengakibatkan fatal, tentu 100 persen akibat kelalaian PLN," ujarnya.
Kepada umat Hindu, Jondra meminta agar pemasangan penjor tetap dilakukan dengan memperhatikan keamanan dan mengenali jenis kabel di sekitar lokasi.
"Jika tidak kenal atau tidak paham telp PLN dengan nomor 123. Jika gegabah dan kesetrum yang rugi kita sendiri. Atas nama Ketua Umum Paiketan Krama Bali saya menyampaikan Selamat Merayakan Hari Raya Galungan dengan khidmat, cerdas, damai dan selamat," tambahnya.
Ia juga berharap ke depan PLN menggunakan pendekatan yang lebih tepat dalam sosialisasi, termasuk memilih tokoh penyampai pesan yang memahami aspek adat, budaya, dan agama.
Baca Juga: Sekda Klungkung Torehkan Prestasi Nasional, Duduki Peringkat Dua ADLGA 2025
Menurutnya, nada komunikasi juga harus lebih koordinatif, bukan bersifat instruktif.(***)
Editor : Rika Riyanti