SINGARAJA, BALI EXPRESS — Dalam waktu dekat, Desa Sawan, Buleleng akan memiliki Rumah Budaya. Rumah Budaya ini dibangun atas inisiasi dari Universitas Indonesia (UI) dalam program pengabdian masyarakat.
Kepala Desa Sawan, Nyoman Wira, menegaskan rencana pembangunan Rumah Budaya Pande adalah sebuah ruang yang akan menjadi pusat dokumentasi, edukasi, hingga demonstrasi langsung profesi pande besi dan pande gong—dua keahlian tradisional yang selama ratusan tahun menjadi identitas desa ini.
“Rumah budaya ini dibuat untuk menghargai tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu kami. Sebagian besar masyarakat Sawan sejak dulu hidup dari pande besi dan pande gong. Ini sudah turun-temurun, dan inilah yang harus kita jaga supaya tidak punah,” ujar Nyoman Wira.
Ia menekankan bahwa kepunahan profesi pande bukan sekadar isu, tetapi ancaman nyata akibat kemajuan teknologi, berkurangnya generasi penerus, serta hilangnya pengetahuan tentang tata cara kerja seorang pengrajin besi dan perunggu.
Baca Juga: Di Balik Dentingan Besi, Ada Tubuh yang Terluka, Ada Perlindungan yang Siaga
Rumah Budaya Pande nantinya dirancang oleh Universitas Indonesia (UI) sebagai sebuah ruang yang lengkap. Di dalamnya akan tersedia peralatan, sarana pendukung, hingga ruang demonstrasi untuk memperlihatkan proses tempa besi dan pembuatan gong. Bukan hanya memamerkan hasil produksi, tetapi juga menunjukkan cara kerjanya—sebuah pengalaman yang tidak dapat ditemukan sembarangan.
“Rumah budaya ini sangat dibutuhkan untuk memfasilitasi karya-karya yang setiap hari digunakan masyarakat. Di dalamnya nanti akan ada alat, dokumentasi, hingga praktek langsung. Seandainya rumah ini selesai, manfaatnya akan besar sekali bagi masyarakat kami,” tambah Wira.
Selain menjadi ruang pelestarian budaya, keberadaan Rumah Budaya Pande juga diharapkan memberi nilai ekonomi baru bagi warga. Desa Sawan sendiri merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Buleleng. Selama ini, wisatawan yang datang hanya mengetahui Sawan sebagai desa pande, tetapi belum memiliki titik kunjungan yang terpusat dan terkurasi.
Dengan hadirnya rumah budaya ini, wisatawan dapat melihat langsung proses tempa, mencoba secara simbolis teknik pande, hingga kemudian diarahkan ke rumah-rumah produksi untuk pengalaman lebih nyata. Lokasi rumah budaya yang direncanakan berada di Kawasan Pura Penataran Pande, Dusun Kawan. Lokasi ini dipandang sangat strategis karena berdekatan dengan sentra produksi.
“Wisatawan tidak hanya bisa melihat, tapi juga mencoba, walau hanya secara simbolis. Jika ingin praktek riil, kami arahkan ke rumah produksi karena sentranya dekat sekali,” kata Wira.
Menurut Wira, pengempon Pura Penataran Pande juga sudah menyatakan kesepakatan atas rencana pembangunan ini. Saat ini, pihak desa tinggal menunggu realisasi dari UI selaku penggagas awal. Jika telah berdiri, Rumah Budaya Pande akan sepenuhnya menjadi milik semeton pande di Desa Sawan, dikelola secara komunal demi keberlanjutan tradisi. ***
Editor : Dian Suryantini