BALIEXPRESS.ID - Magic Garden di Nuanu Creative City merayakan ulang tahun pertamanya dengan pencapaian signifikan. Dalam waktu satu tahun, fasilitas edukasi alam ini berkembang dari tiga menjadi delapan area pengalaman, menjadikannya salah satu destinasi paling diminati untuk belajar dan berinteraksi dengan alam di Bali.
Magic Garden dibangun sebagai bagian dari komitmen Nuanu yang mendedikasikan 70% lahannya sebagai ruang hijau dan habitat fauna kecil serta flora asli. Fasilitas ini berperan untuk meregenerasi ekosistem serta mengedukasi masyarakat mengenai keanekaragaman hayati dan lingkungan.
Ekosistem Baru dalam 12 Bulan
Selama satu tahun, Magic Garden berkembang menjadi ruang hidup bagi anggrek, tanaman asli, kupu-kupu, dan berbagai serangga penyerbuk (pollinators). Dari tiga fasilitas awal, kini hadir delapan area edukasi, termasuk proyek yang paling dinantikan, The Glow Project, yang dijadwalkan meluncur resmi pada 2026.
“Di Nuanu, tujuan kami adalah membangun ekosistem yang konsisten sehingga menjadi inkubator bagi orang berbakat untuk bekerja dengan tanaman dan serangga,” ujar Ida Ayu Astari Prada, Brand & Communications Director Nuanu Creative City. Ia menambahkan bahwa membangun kembali habitat bukan hanya menciptakan rumah bagi serangga, tetapi juga warisan untuk murid sekolah dan pengunjung.
Perkembangan Fasilitas Magic Garden
Diluncurkan pada 2024, Magic Garden awalnya menghadirkan Butterfly Garden, Botanical Gallery, dan Orchid Galore. Dalam setahun, keanekaragaman hayati di sana meningkat signifikan—termasuk tingkat kelangsungan hidup kupu-kupu yang mencapai 10 kali lebih tinggi dibandingkan di alam liar.
Lima fasilitas baru kemudian ditambahkan:
-
Permaculture Garden
-
Biota Lab
-
Miyawaki Forest
-
Rabbit Park
-
The Glow Project (tampilan awal)
Perluasan ini menjadikan Magic Garden destinasi edukatif utama bagi keluarga dan murid sekolah di Bali, dengan pengalaman belajar yang menyatu dengan alam.
Inisiatif Lingkungan dan Edukasi
Magic Garden juga aktif menjalankan berbagai program penting, seperti:
-
Melepasliarkan lebih dari 14.000 kupu-kupu
-
Kolaborasi dengan 30+ sekolah
-
Menyediakan ruang konservasi flora Bali yang terancam
-
Menggelar 21 lokakarya (terrarium dan kokedama)
-
Menyelenggarakan pameran seni pertama bertema Liana Reverie di Labyrinth Art Gallery
Fasilitas ini juga menjadi rumah bagi bunga nasional Indonesia, Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis).
Baca Juga: Bali Beans Coffee & Co: Produsen Kopi Arabika Premium dari Plaga dengan Model “From Crop to Cup”
Cuplikan Perdana The Glow Project
Dalam perayaan ulang tahun pertamanya, Magic Garden menampilkan sneak preview dari The Glow Project, yang telah dikembangkan selama dua tahun. Pengalaman ini menghadirkan 13 organisme bioluminesen dan 31 spesies tanaman fluoresen, dipilih secara khusus karena nilai ekologis dan edukatifnya.
Proyek ini menunjukkan bagaimana organisme menggunakan cahaya untuk berkomunikasi, beradaptasi, dan bertahan hidup—serta bagaimana mekanisme tersebut memberi dampak pada kesehatan ekosistem.
“Setiap makhluk hidup yang kami rawat di Magic Garden memiliki cerita dan perannya sendiri dalam menjaga keseimbangan ekologi.
Mengelola proyek ini mengajarkan saya bahwa tanggung jawab kami bukan hanya merawat ruang tersebut, tetapi juga menghadirkan pengetahuan ini lebih dekat kepada masyarakat,” ujar Komang Sri Junisabtika, Venue Manager Magic Garden. “Ketika orang mengerti bagaimana peran cahaya di alam, mereka secara alami menjadi lebih terhubung dengan ekosistem di sekitar mereka.”
The Glow Project akan dibuka tahun 2026 khusus pada malam hari dengan harga Rp250.000 per orang.
Pengalaman hanya bisa dinikmati bersama pemandu khusus untuk melihat organisme yang menyala secara dekat dan belajar tentang peran ekologisnya.
Memasuki tahun kedua, Magic Garden terus menjadi kelas belajar yang hidup. Sebuah kelas di mana percakapan, kreativitas, dan pembelajaran berbasis komunitas bertemu secara bersamaan.
Ulang tahun ini menandakan perjalanan Magic Garden yang terus berlanjut, merawat keanekaragaman hayati dan menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap alam di seluruh Bali melalui pendekatan yang tidak biasa dan berinteraksi secara langsung.
Editor : Iqbal Kurnia