Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Merawat Bumi, Merawat Iman: Aksi Ekoteologi di Gereja House of Sacrifice Dihiasi Palem Kuning

Putu Agus Adegrantika • Senin, 15 Desember 2025 | 04:20 WIB
EKOTEOLOGI : Penerapan ekoteologi di Gereja House of Sacrifice, Batubulan, oleh Kemenag Gianyar.
EKOTEOLOGI : Penerapan ekoteologi di Gereja House of Sacrifice, Batubulan, oleh Kemenag Gianyar.

BALIEXPRESS. ID– Semangat merawat bumi sebagai wujud penghayatan iman tercermin dalam aksi ekoteologi yang digelar di Gereja House of Sacrifice, Puri Chandra Asri, Batubulan. Tim KASIH (Kelola Alam Semesta Tercipta Harmoni) Kemenag Gianyar melaksanakan penanaman pohon dan perawatan kebun gereja, menghadirkan suasana kebersamaan yang sarat makna spiritual.

Kegiatan tersebut memilih palem kuning sebagai tanaman utama yang ditanam di halaman gereja. Pemilihan palem kuning dinilai memiliki kedekatan simbolik dengan tradisi iman Kristiani, sekaligus memperindah lingkungan rumah ibadah. Aksi ini menjadi bagian dari upaya nyata mengintegrasikan kepedulian lingkungan dengan nilai-nilai keagamaan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Anak Agung Ngurah Wardhita, Minggu (14/12) menyampaikan bahwa gerakan ekoteologi merupakan wujud konkret ajaran agama yang mendorong umat untuk menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, merawat lingkungan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga refleksi iman yang mendalam.

“Merawat bumi sejatinya adalah bagian dari merawat iman. Alam adalah ciptaan Tuhan yang harus dijaga bersama. Melalui aksi sederhana seperti menanam pohon, nilai-nilai keimanan dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ujar Anak Agung Ngurah Wardhita.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam tradisi Kristiani, pohon palem memiliki makna simbolis sebagai lambang kemenangan, keteduhan, dan kehidupan baru, yang erat kaitannya dengan perayaan Pekan Suci, khususnya Minggu Palma. Dengan menanam palem kuning di lingkungan gereja, umat tidak hanya memperkuat simbol iman, tetapi juga memenuhi kebutuhan liturgis secara berkelanjutan.

Lebih lanjut, Anak Agung Ngurah Wardhita berharap kegiatan ini dapat menginspirasi umat lintas agama untuk melakukan gerakan serupa di lingkungan masing-masing. “Ekoteologi mengajarkan kita bahwa kepedulian terhadap alam adalah tanggung jawab bersama. Jika dilakukan secara konsisten, langkah kecil ini akan memberi dampak besar bagi kelestarian bumi dan kerukunan umat,” pungkasnya. *

Editor : Putu Agus Adegrantika