BALIEXPRESS.ID - Suasana sakral menyelimuti Desa Adat Sayan, Ubud, Gianyar, saat krama desa menggelar Tradisi Ngunya Desa Nangluk Merana pada Tilem Sasih Kanem, Jumat (19/12). Tradisi warisan leluhur ini dilaksanakan sebagai upaya niskala untuk menolak bala, menyeimbangkan alam sekala–niskala, serta memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh warga desa.
Prosesi utama ditandai dengan puluhan pelawatan Ida Bhatara berupa Barong dan Rangda yang tedun ngunya desa menyusuri seluruh jebag (wilayah) Desa Adat Sayan. Iring-iringan suci ini disambut khidmat oleh ratusan krama, dengan banten dan sesajen yang telah dipersiapkan di setiap titik lintasan, sebagai simbol bhakti dan permohonan anugerah keselamatan.
Pelawatan Barong dan Rangda diyakini sebagai perwujudan kekuatan Rwa Bhineda yang menjaga keharmonisan jagat. Dalam setiap langkahnya, iringan gamelan dan kidung suci mengalun, menghadirkan suasana magis yang mengikat rasa kebersamaan krama desa lintas generasi.
Bandesa Adat Sayan, Anak Agung Gde Rai Sugiartha, menjelaskan bahwa Ngunya Desa Nangluk Merana merupakan tradisi wajib yang digelar secara turun-temurun pada Sasih Kanem. “Tradisi ini bertujuan untuk nangluk merana, menolak segala bentuk wabah, hama, dan energi negatif, sekaligus memohon kerahayuan bagi desa dan alam sekitarnya,” ujarnya.
Menurutnya, pelawatan Ida Bhatara yang menyeluruh ke se-jebag Desa Adat Sayan menjadi simbol penjagaan spiritual terhadap seluruh wilayah. “Dengan tedun ngunya desa, kami memohon agar seluruh krama diberkahi keselamatan, pertanian subur, serta kehidupan yang harmonis,” tambahnya.
Selain dimaknai sebagai ritual keagamaan, Ngunya Desa juga menjadi momentum memperkuat gotong royong dan solidaritas krama desa. Sejak persiapan hingga pelaksanaan, seluruh unsur desa terlibat aktif, menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan dalam menjaga adat dan tradisi.
Tradisi Ngunya Desa Nangluk Merana Sasih Kanem di Desa Adat Sayan pun kembali menegaskan komitmen masyarakat setempat dalam melestarikan kearifan lokal Bali, menjaga keseimbangan alam, serta merawat warisan budaya yang sarat makna spiritual bagi generasi mendatang. *
Editor : Putu Agus Adegrantika