SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di sebuah ruangan sederhana, deretan peralatan lawas itu masih tersusun rapi. Kamera tua, proyektor kuno, alat pemutar film, gulungan roll film, hingga kepingan piringan hitam disimpan dengan penuh kehati-hatian. Bagi Anak Agung Dino Supriadi, benda-benda itu bukan sekadar alat usang, melainkan potongan ingatan tentang ayahnya, A.A. Ngurah Sentanu, sosok perintis dunia perfilman di Buleleng.
Peralatan itu menjadi saksi bisu lahirnya industri film lokal di Bali Utara pada awal 1970-an. Semua masih terawat dan diletakkan di satu ruangan khusus oleh Dino, anak Sentanu, sebagai bentuk penghormatan pada perjalanan hidup sang ayah.
“Saya selalu menyimpannya. Saya bermimpi suatu hari bisa membuat museum kecil dari sisa alat dan dokumen yang ada,” ujar Dino, Jumat (26/12).
Sentanu bukan hanya seorang penggemar film. Ia adalah pelaku utama yang menghidupkan denyut sinema lokal dari Singaraja. Dunia perfilman di Buleleng, untuk pertama kalinya, bergerak berkat keberanian dan kreativitasnya. Dari Rumah Produksi Bhaskara Film yang ia dirikan sendiri, Sentanu berhasil memproduksi empat film layar lebar dengan cerita lokal dan nuansa Bali yang kental.
Bagi Dino, kenangan tentang ayahnya juga lekat dengan suasana keluarga. Sejak kecil ia kerap diajak menonton film bersama. Beberapa film produksi Disney menjadi favorit keluarga. Menariknya, film-film itu didatangkan langsung dari Eropa.
“Ajik (Ayah) membelinya langsung dari sana. Jaringannya luas waktu itu. Temannya ada di mana-mana, termasuk di luar negeri,” kata Dino mengenang.
Awal 1970-an menjadi periode penting bagi sejarah budaya Buleleng. Di kawasan Banyumala, Jalan Ahmad Yani, Singaraja, berdiri sebuah rumah sederhana yang pernah berfungsi sebagai pusat industri film lokal. Meski skalanya jauh dari industri film Jakarta, apalagi Bollywood atau Hollywood, geliat perfilman di Singaraja kala itu layak dicatat sebagai tonggak penting perkembangan sinema di Bali.
Baca Juga: Motor Warga Buleleng Dicuri saat Libur Natal, Pelaku Ditangkap Polisi Hitungan Jam
Bagi warga Buleleng yang tumbuh remaja pada dekade 1970-an, kenangan menonton film keliling desa masih membekas. Film-film produksi lokal tak hanya diputar di desa-desa Buleleng, tetapi juga merambah wilayah Jembrana dan Karangasem. Kehadirannya menjadi hiburan sekaligus kebanggaan masyarakat setempat.
Pemain filmnya bukan artis ibu kota, melainkan wajah-wajah lokal yang sering ditemui di pasar, di sawah, atau di panggung seni desa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali. Kostum dan latar cerita diambil dari seni pertunjukan tradisional dan lingkungan sekitar. Semua itu membuat penonton merasa dekat secara emosional.
Untuk diketahui, A.A. Ngurah Sentanu adalah anak muda kreatif dengan mimpi besar. Ketertarikannya pada kamera menjadi pintu masuk lahirnya industri film di Singaraja. Setelah lulus dari STM Elektro di Surabaya, ia sempat bekerja serabutan sebagai teknisi radio dan peralatan elektronik.
Takdir mempertemukannya dengan Drs. Kuna Winaya dari FKIP Unud (kini Undiksha). Kala itu, Sentanu diminta membantu pembuatan pemancar radio Kumarastana di Jalan Pramuka, Singaraja. Dari pertemuan itulah ia mendapat kesempatan bereksperimen dengan kamera milik FKIP. Bermula dari sekadar mencoba-coba, muncul keinginan kuat untuk belajar memproduksi film.
Dukungan datang dari banyak seniman lokal. Para pemain bersedia terlibat tanpa memperhitungkan bayaran. Seniman dari Banyuning, Tukadmungga, Kalibukbuk, hingga pemain drama gong dari Penarungan turut ambil bagian. Dengan semangat kolektif, Sentanu membeli peralatan produksi seperti proyektor dan alat dubbing.
Film pertamanya, Karmapala (1970), diputar keliling desa. Meski jauh dari sempurna, sambutan masyarakat luar biasa. Penonton selalu membludak. Bahkan, dalam satu malam, film itu bisa diputar di dua desa yang berjauhan.
Kesuksesan itu mendorong lahirnya film kedua, Mayadenawa (1972). Film kolosal berdurasi tiga jam ini mengangkat kisah klasik tentang pertarungan kebajikan dan kebatilan. Proses produksinya melelahkan dan memakan waktu lebih dari satu setengah tahun. Namun hasilnya sepadan, sambutan penonton sangat meriah.
Film ketiga, Jaya Umbara (1973), mencoba pendekatan modern. Sayangnya, jenis cerita ini kurang diminati. Penonton rupanya lebih menyukai kisah klasik. Maka film keempat, Titah Dewata (1974), kembali ke akar cerita tradisional dan kembali meraih sukses.
Bhaskara Film tak hanya memproduksi film, tetapi juga mengelola pemutarannya keliling desa. Sistem bagi hasil diterapkan. Setengah pendapatan tiket untuk Bhaskara, setengahnya untuk panitia desa. Harga tiket kala itu sekitar Rp25, dengan pendapatan kotor bisa mencapai Rp5.000 hingga Rp10.000 sekali pemutaran.
Namun kejayaan itu tak berlangsung lama. Masuknya film-film nasional dan impor dengan biaya sewa murah dan judul yang selalu berganti membuat film lokal sulit bersaing. Setelah film keempat, Bhaskara Film pun berhenti berproduksi.
Kini, yang tersisa adalah peralatan tua dan kisah besar tentang mimpi, keberanian, dan kebudayaan. Di tangan anaknya, warisan itu tetap dijaga.
Editor : Dian Suryantini