BALIEXPRESS.ID – Semangat pelestarian tradisi Bali ditunjukkan oleh Seka Truna Bhakti Yasa Desa Adat Bonjaka, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, melalui penyelenggaraan lomba membuat lawar dan sate peselan yang berlangsung penuh antusias. Kegiatan ini melibatkan para anggota sekaa teruna antar tempek, yakni Tempek Kaja, Tempek Tengah, Tempek Kauh, dan Tempek Kelod, Minggu (28/12).
Ketua Seka Truna Bhakti Yasa, Wayan Wira Ryandika, menjelaskan lomba diikuti oleh 15 peserta yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Para peserta ditantang mengolah berbagai jenis lawar dan sate khas Bali, seperti sate lembat, sate asem, sate kekuung, sate jepit babi, sate jepit balung, sate pasung, sate untang-untang, sate unting-unting, hingga pengade.
Proses pembuatan lawar dan sate berlangsung sekitar dua jam. Selama kegiatan, para peserta menunjukkan keterampilan, ketelitian, serta kekompakan tim dalam mengolah bahan-bahan tradisional sesuai pakem warisan leluhur.
Wira mengatakan bahwa kegiatan membuat lawar dan sate merupakan kewajiban yang dilaksanakan secara rutin setiap enam bulan sekali. Tradisi ini biasanya dilakukan menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, serta saat berlangsungnya upacara piodalan di Pura Wewidangan Desa Adat Bonjaka.
Menurutnya, lomba ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan, tetapi juga sebagai sarana latihan dan pembelajaran bagi generasi muda agar tetap memahami tata cara pembuatan lawar dan sate yang benar sesuai tradisi desa adat.
“Harapan kami, melalui lomba ngelawar dan membuat sate ini, Seka Truna Bhakti Yasa mampu menjaga dan melestarikan salah satu warisan budaya Bali, sekaligus mempererat kebersamaan dan kekompakan antaranggota,” ujar Wayan Wira Ryandika.
Kegiatan lomba lawar dan sate peselan ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-40 Seka Truna Bhakti Yasa, sekaligus menyambut datangnya Tahun Baru 2026 dengan semangat kebersamaan dan pelestarian budaya lokal.
Diungkapkannya lawar dan sate peselan bukan sekadar hidangan khas Bali yang menggugah selera, melainkan memiliki makna mendalam dalam kehidupan adat dan keagamaan masyarakat Bali. Dua sajian tradisional ini menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai upacara yadnya, piodalan pura, hingga perayaan hari raya seperti Galungan dan Kuningan.
Lawar, yang diracik dari campuran daging, sayuran, kelapa parut, dan bumbu base genep, melambangkan keseimbangan unsur kehidupan. Proses pembuatannya menuntut ketelitian, kebersamaan, dan kekompakan, karena biasanya dikerjakan secara gotong royong. "Dalam konteks adat, kegiatan ngelawar menjadi sarana pendidikan karakter, khususnya bagi generasi muda, untuk belajar ngayah dan memahami nilai kebersamaan, " ujar Wira.
Sementara itu, sate peselan memiliki makna pengorbanan dan ketulusan. Beragam jenis sate seperti sate lembat, sate asem, sate jepit, hingga sate pasung disiapkan sebagai bagian dari sarana upacara. Proses menusuk, membakar, dan menyajikan sate dilakukan dengan tata cara tertentu yang mencerminkan rasa hormat kepada leluhur serta manifestasi bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
"Dalam tradisi Bali, lawar dan sate peselan juga menjadi simbol persatuan sosial. Saat kegiatan adat berlangsung, masyarakat tanpa memandang usia dan latar belakang duduk bersama, bekerja bersama, dan menikmati hasilnya secara bersama-sama. Nilai inilah yang memperkuat ikatan sosial dan rasa memiliki terhadap desa adat, " tegas Wira.
Selain nilai spiritual dan sosial, lawar dan sate peselan menyimpan kearifan lokal dalam pemanfaatan bahan alam. Bumbu tradisional yang digunakan berasal dari rempah-rempah lokal, mencerminkan keharmonisan manusia dengan alam sebagaimana ajaran Tri Hita Karana.
Di tengah arus modernisasi, pelestarian tradisi membuat lawar dan sate peselan menjadi sangat penting. Tidak hanya menjaga cita rasa kuliner Bali, tetapi juga merawat nilai budaya, spiritual, dan kebersamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Lawar dan sate peselan pun tetap hidup sebagai simbol identitas dan jati diri masyarakat Bali.*
Editor : Putu Agus Adegrantika