Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gerakan Konservasi Hulu Digelar di Tejakula, Taru Movement Tanam 3.000 Bibit Antisipasi Krisis Ekologis

I Putu Mardika • Senin, 29 Desember 2025 | 01:39 WIB

Taru Movement bersama sejumlah komunitas saat melaksanakan konservasi di kawasan Tejakula pada Kamis (25/12)
Taru Movement bersama sejumlah komunitas saat melaksanakan konservasi di kawasan Tejakula pada Kamis (25/12)
BALIEXPRESS.ID-Aksi nyata dari Komunitas Taru Movement ini layak ditiru. Mereka menggagas kegiatan konservasi kawasan hulu di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, pada Kamis ( 25/12) lalu melalui menanam pohon ficus.

Gerakan ini dilakukan sebagai wujud nyata atas krisis ekologis seperti banjir, ancaman krisis air bersih, hingga potensi siklon tropis sebagaimana diperingatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari desa adat dan desa dinas, Pemerintah Kabupaten Buleleng, LSM Friends of National Parks Foundation (FNPF), kelompok tani, hingga partisipasi sekitar 25 komunitas.

Turut ambil bagian pula OSIS, Pramuka, dan Sispala di lingkungan Desa Tejakula, menandai kuatnya keterlibatan generasi muda dalam agenda pelestarian lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta menanam 3.000 bibit yang terdiri dari bibit buah endemik hutan serta berbagai jenis ficus (beringin), yang dikenal memiliki fungsi ekologis penting sebagai penyimpan air, penguat tanah, dan penyangga keanekaragaman hayati.

Lokasi penanaman tahun ini dipusatkan di perbukitan sebelah barat Desa Tejakula, melanjutkan program serupa yang pada tahun 2024 lalu dilaksanakan di bukit sebelah timur desa.

Salah satu penggagas kegiatan, Gede Kamajaya, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar aksi tanam pohon, tetapi bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis berbasis nilai budaya.

“Belakangan ini kita dihadapkan pada banjir, ancaman krisis air bersih ke depan, dan bahkan potensi siklon. Situasi ini menuntut tindakan nyata, bukan sekadar wacana,” ujarnya.

Kamajaya menambahkan, Bali sejatinya tidak kekurangan perangkat budaya ketika berbicara tentang konservasi dan ekologi.

“Ke depan, pada situasi tertentu kita perlu memaknai ritus dan jargon seperti Tri Hita Karana sebagai tindakan nyata dan cara hidup, bukan hanya slogan,” katanya.

Menurutnya, nilai-nilai kearifan lokal akan memiliki daya ubah yang kuat jika dijadikan movement kolektif, bukan berhenti pada tataran simbolik.

Ia juga menekankan pentingnya kawasan hulu sebagai penyangga utama sistem ekologis desa. Kerusakan di hulu, kata dia, akan berdampak langsung pada wilayah hilir, mulai dari ketersediaan air, pertanian, hingga keselamatan pemukiman warga.

Melalui gerakan konservasi berkelanjutan ini, Taru Movement dan para mitra berharap Desa Tejakula dapat menjadi contoh praktik konservasi berbasis kolaborasi dan budaya, sekaligus memperkuat ketahanan ekologis masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim yang kian nyata. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#aksi nyata #ficus #pohon #tejakula #Desa Tejakula #konservasi