Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

PKM Universitas Warmadewa “Pengaruh Pemakaian Earphone terhadap Fungsi Pendengaran pada Remaja” di SMP Negeri 1 Manggis

Iqbal Kurnia • Rabu, 31 Desember 2025 | 13:50 WIB
Foto Bersama dengan Mitra Pengabdian
Foto Bersama dengan Mitra Pengabdian

 

Oleh : dr. Ketut Wahyudiana Sudana, Sp.T.H.T.B.K.L

 

Remaja, Earphone, dan Ancaman Tuli Dini di Sekolah Favorit Manggis

Suasana pagi di SMP Negeri 1 Manggis tampak seperti banyak sekolah lain: deretan siswa berseragam, deru suara obrolan, dan gelegak semangat remaja. Namun ada satu pemandangan yang kini nyaris selalu hadir di berbagai sudut sekolah: sepasang earphone yang menempel di telinga para siswa. Musik, video, dan game mengalir deras ke gendang telinga mereka, sering kali dengan volume yang tidak lagi ramah bagi kesehatan pendengaran.​

Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di sekolah favorit di Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali. Pengurus OSIS dan ekstrakurikuler yang menjadi panutan teman-temannya justru tercatat sebagai kelompok dengan penggunaan earphone paling intens, baik saat belajar daring, rapat organisasi, maupun di jam istirahat.​

Saat Musik Mengalahkan Suara Guru

Berawal dari observasi dan wawancara dengan pihak sekolah, dr. Diana Sudana dan tim dosen dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa menemukan dua masalah utama. Pertama, remaja belum memahami batas aman volume dan durasi penggunaan earphone, dan menganggap mendengarkan musik keras berjam-jam sebagai hal biasa. Kedua, di sisi lain halaman sekolah yang cukup luas justru tampak gersang di beberapa titik karena minim perhatian siswa terhadap kebun dan tanaman.

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan suara bising terus-menerus berpotensi merusak sel-sel rambut halus di koklea telinga dalam, yang berujung pada gangguan pendengaran permanen. Sayangnya, kerusakan ini sering kali datang perlahan dan “diam-diam”, sehingga baru disadari ketika keluhan sudah mengganggu aktivitas belajar.

Menyentil Remaja Lewat Penyuluhan dan Games

Berangkat dari keresahan itu, dr. Diana Sudana dan tim dosen Universits Warmadewa merancang Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang menyasar langsung para pengurus OSIS dan ekstrakurikuler — sekitar 25 siswa yang dianggap sebagai agen perubahan di lingkungan sekolah.

Kegiatan inti berupa penyuluhan tatap muka mengenai struktur dan fungsi telinga, bahaya penggunaan earphone yang berlebihan, serta cara mendengarkan musik yang lebih aman. Materi disajikan dengan bahasa sederhana dan contoh keseharian remaja, diselingi kuis interaktif yang membuat siswa berlomba menjawab pertanyaan.

Suasana yang awalnya canggung berubah menjadi penuh antusias ketika game edukatif dimulai. Pertanyaan seputar “seberapa keras volume yang aman” atau “berapa lama maksimal penggunaan earphone dalam sehari” mendapat berbagai jawaban spontan. Di penghujung sesi, hampir seluruh peserta mampu menjawab dengan benar, menandakan adanya peningkatan pemahaman.

Dari Telinga Sehat ke Kebun yang Hijau

Menariknya, PKM ini tidak berhenti pada isu kesehatan telinga. Di bagian akhir penyuluhan, siswa diajak merenungkan kembali peran mereka terhadap lingkungan sekolah. Kebun yang gersang dinilai mencerminkan kepedulian yang belum tumbuh optimal, padahal area hijau terbukti mendukung konsentrasi dan kenyamanan belajar​

Melalui diskusi santai, siswa diajak melihat bahwa menjaga tanaman di kebun sekolah sama pentingnya dengan menjaga telinga dari paparan bising. Keduanya menyangkut kualitas hidup mereka sendiri: telinga yang sehat untuk menyimak pelajaran, dan lingkungan yang asri untuk belajar dengan lebih tenang.

Pihak sekolah kemudian mendorong lahirnya jadwal piket per kelas yang tidak hanya mengurus kebersihan, tetapi juga penyiraman dan perawatan tanaman. Sejumlah siswa mulai mengusulkan penanaman jenis tanaman tertentu agar kebun tampak lebih hidup.​

 

Penyerahan kenang – kenangan kepada Kepala Sekolah SMP N 1 Manggis
Penyerahan kenang – kenangan kepada Kepala Sekolah SMP N 1 Manggis

 

Perubahan Kecil yang Mulai Terlihat

Satu hingga empat minggu setelah kegiatan, pihak sekolah melaporkan perubahan yang cukup menggembirakan. Kebiasaan menggunakan earphone saat jam istirahat berkurang, terutama di kalangan pengurus OSIS yang telah mengikuti penyuluhan. Mereka aktif menyampaikan kembali pesan-pesan kunci kepada teman-temannya, antara lain agar mengurangi volume dan durasi penggunaan earphone serta menghindari pemakaian di lingkungan yang bising.

Di sisi lain, siswa mulai lebih sering terlihat terlibat dalam merapikan dan merawat kebun sekolah sesuai jadwal piket. Tanaman yang sebelumnya terabaikan perlahan mendapat perhatian — sebuah langkah kecil namun penting untuk membangun budaya peduli lingkungan di kalangan remaja.

Mengapa Sekolah Perlu Bergerak?

Kasus gangguan pendengaran akibat bising tidak lagi hanya menjadi masalah pekerja pabrik atau lingkungan industri. Remaja dengan gawai dan earphone di tangan berisiko mengalami tuli dini bila kebiasaan mendengar musik keras tidak dikendalikan. Sekolah sebagai rumah kedua bagi remaja memiliki posisi strategis untuk menanamkan kebiasaan mendengar yang sehat, baik melalui penyuluhan, peraturan internal, maupun teladan dari guru dan pengurus organisasi siswa.

Program kemitraan di SMP Negeri 1 Manggis menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang komunikatif, dikombinasikan dengan pelibatan siswa sebagai agen perubahan, mampu memicu pergeseran perilaku. Yang dibutuhkan adalah konsistensi pendampingan dan keberlanjutan program, sehingga pesan tentang kesehatan telinga dan kepedulian lingkungan tidak berhenti hanya pada satu kali kegiatan.

Menjaga Masa Depan Pendengaran Generasi Muda

Mendengarkan musik lewat earphone bukanlah musuh, tetapi cara dan kebiasaannya yang perlu dikaji ulang. Dengan volume yang wajar, durasi yang dibatasi, dan diselingi istirahat telinga, remaja tetap bisa menikmati teknologi tanpa harus mengorbankan fungsi pendengaran di masa depan.

Inisiatif seperti yang dilakukan di SMP Negeri 1 Manggis patut diapresiasi dan direplikasi di sekolah lain. Di tengah arus digital yang tak terbendung, mengingatkan remaja untuk tidak “tuli sebelum waktunya” adalah investasi penting bagi kualitas generasi mendatang — sekaligus momentum untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan belajar mereka sendiri.

 

 

Editor : Iqbal Kurnia
#earphone #Universitas Warmadewa