Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Filosofi Air Jadi Napas Festival Air Suwat, Ajak Warga Jaga Alam Bali

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 1 Januari 2026 | 16:32 WIB

 

AIR : Perang air di Festival Air Suwat di Desa Adat Suwat, Desa Suwat, Kecamatan Gianyar, Kamis (1/1).
AIR : Perang air di Festival Air Suwat di Desa Adat Suwat, Desa Suwat, Kecamatan Gianyar, Kamis (1/1).

BALIEXPRESS. ID– Festival Air Suwat yang telah bertahan selama satu dekade bukan sekadar perayaan budaya, melainkan ruang refleksi tentang makna air bagi masyarakat Bali. Bendesa Adat Suwat, Ngakan Putu Sudibya, menegaskan bahwa air memiliki nilai luhur sebagai sumber energi positif yang harus dijaga bersama, terutama memasuki tahun 2026.

Menurutnya, dalam pandangan masyarakat Bali, air bukan hanya unsur kehidupan, tetapi juga simbol keseimbangan dan keharmonisan. “Air itu mengalir ke mana-mana, membawa kesejukan, menenangkan, dan menyatukan. Seharusnya air memberi kehidupan, bukan menjadi sumber bencana seperti yang kita lihat belakangan ini,” ujarnya, Kamis (1/1).

Ngakan Putu Sudibya menyampaikan, Festival Air Suwat yang telah berjalan selama 10 tahun menjadi bukti bahwa sebuah kegiatan budaya dapat bertahan meski digelar dalam lingkup desa. Kuncinya terletak pada kesederhanaan dan ketulusan dalam pelaksanaan. “Kami selalu mengedepankan kesederhanaan. Justru dari sanalah nilai-nilai kebersamaan dan makna air bisa dirasakan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa rusaknya sumber-sumber air saat ini menjadi tanda alam mulai “marah”. Alih fungsi lahan yang tidak bijaksana dan berkurangnya tutupan pohon berdampak langsung pada keseimbangan alam. “Kalau sumber air kita rusak, deritanya akan kembali ke kita sendiri. Alam dan pepohonan sejatinya memberi kesejahteraan, bukan untuk dieksploitasi,” tegasnya.

Dalam perjalanannya, Festival Air Suwat juga tidak lepas dari dinamika di masyarakat. Pada awalnya, muncul pro dan kontra. Namun, pihak desa adat berupaya mengangkat nilai-nilai yang sejatinya telah hidup di tengah masyarakat. “Tujuan kami menyatukan warga. Demokrasi itu penting, budaya berpendapat harus diramu menjadi kekuatan, bukan perpecahan,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa pembangunan desa adat lahir dari kebersamaan seluruh krama. Perbedaan pandangan menjadi bagian dari proses demokrasi yang sehat, selama diarahkan pada kebijakan yang berpihak pada kepentingan bersama dan kelestarian alam.

Menghadapi tahun 2026, Bendesa Adat Suwat berharap pemerintah pusat maupun daerah lebih bijaksana dalam menata alam Bali, khususnya terkait alih fungsi lahan. “Kondisi Bali berbeda. Penataan alam harus dilakukan dengan kearifan dan kehati-hatian agar keseimbangan tetap terjaga,” ujarnya.

Ke depan, Festival Air Suwat tidak hanya akan menghadirkan tradisi perang air dan pemendak tirta, tetapi juga dirancang lebih inklusif dengan kegiatan budaya seperti konser-konser kecil di tingkat banjar. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat rasa memiliki masyarakat sekaligus menjaga spirit air sebagai sumber kehidupan dan energi positif bagi Bali.

Sementara Ketua Panitia Festival Air Suwat, Ngakan Putu Mahendra Putra, menegaskan bahwa tujuan utama penyelenggaraan festival ini adalah menyatukan seluruh organisasi kepemudaan yang ada di Desa Suwat dalam semangat kebersamaan dan keharmonisan.

Menurutnya, festival ini menjadi momentum penting bagi para pemuda untuk terus berinteraksi, berkolaborasi, dan membangun solidaritas lintas organisasi. “Sebagai organisasi kepemudaan, tujuan kami adalah menyatukan pemuda se-Desa Suwat agar tetap harmonis. Festival ini menjadi ruang bersama untuk menyerukan semangat persatuan dan kebersamaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu prosesi utama dalam Festival Air Suwat adalah perang air yang akan digelar di kawasan Catus Pata Suwat. Prosesi ini telah dipersiapkan secara matang oleh panitia dengan melibatkan unsur prajuru desa adat. “Nanti perang air akan dimulai dari arah prajuru. Ini bukan sekadar permainan, tetapi prosesi sakral untuk memuliakan air sebagai sumber kehidupan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ngakan Putu Mahendra Putra menambahkan bahwa penggunaan perempayan dalam perang air memiliki makna simbolik yang kuat. Perempayan menjadi lambang kebersamaan, di mana seluruh peserta berada dalam posisi setara tanpa sekat, menyatu dalam kegembiraan dan rasa persaudaraan.

Melalui Festival Air Suwat, panitia berharap nilai-nilai persatuan, gotong royong, dan penghormatan terhadap air dapat terus ditanamkan kepada generasi muda. Dengan semangat kebersamaan, festival ini diharapkan mampu memperkuat ikatan sosial pemuda Desa Suwat sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi dan kearifan lokal. *

Editor : Putu Agus Adegrantika